5 Cara Melatih Anak Berani Menolak Ajakan Teman yang Negatif

CNN Indonesia
Senin, 03 Agu 2026 05:05 WIB
Ilustrasi bapak memangku anak
Ilustrasi. Anak harus berani menolak ajakan teman jika dirasa kurang pas. (iStock/SDI Productions)
Daftar Isi
Jakarta, CNN Indonesia --

Seiring bertambahnya usia, anak akan mulai membangun pertemanan dan berinteraksi lebih luas dengan lingkungan sekitarnya. Hal ini merupakan bagian penting dari proses tumbuh kembang karena membantu anak mengasah kemampuan bersosialisasi.

Namun, semakin luas pergaulannya, semakin besar pula kemungkinan anak menghadapi berbagai bentuk pengaruh dari teman sebaya. Tidak semua ajakan yang datang bersifat positif. Ada kalanya anak diajak melakukan hal yang keliru, seperti membolos sekolah, berbohong kepada orang tua, atau perilaku lain yang bertentangan dengan nilai-nilai yang diajarkan di rumah.

Di sisi lain, menolak ajakan teman bukan perkara mudah. Anak mungkin khawatir dianggap berbeda, dijauhi, atau tidak lagi diterima dalam kelompok pertemanannya. Karena itu, orang tua perlu membekali anak dengan keberanian untuk mengatakan 'tidak' pada hal-hal yang tidak sesuai.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kemampuan menghadapi tekanan dari teman sebaya akan membantu anak mengambil keputusan secara mandiri, membangun ketahanan diri, sekaligus meningkatkan rasa percaya diri di masa depan.

Lantas, bagaimana cara melatih anak agar berani menolak ajakan teman? Berikut beberapa langkah yang bisa diterapkan di rumah, seperti dikutip dari Cook Center:

1. Tetapkan batasan yang jelas

Anak perlu memahami hal-hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Aturan yang jelas akan menjadi pedoman saat mereka dihadapkan pada berbagai pilihan, termasuk ketika mendapat ajakan dari teman.

Libatkan anak saat menyusun aturan di rumah. Jelaskan alasan di balik setiap aturan dan dengarkan pendapat mereka. Terapkan batasan secara konsisten, tetapi tetap sesuaikan dengan usia dan tahap perkembangan anak.

Dengan begitu, anak memiliki pegangan yang kuat saat harus menentukan pilihan dalam situasi yang sulit.

2. Jadilah teladan bagi anak

Anak belajar lebih banyak dari apa yang dilakukan orang tua dibandingkan dari apa yang dikatakan. Karena itu, tunjukkan bagaimana menghadapi tekanan sosial dan mengambil keputusan yang tepat.

Anda juga dapat berbagi pengalaman saat menghadapi situasi sulit, termasuk bagaimana mencari solusi atau meminta bantuan kepada orang lain. Ceritakan pula kesalahan yang pernah dilakukan dan pelajaran yang diperoleh dari pengalaman tersebut.

Cara ini membantu anak memahami bahwa setiap orang bisa berbuat salah, tetapi yang terpenting adalah belajar dan bertanggung jawab atas pilihannya.

3. Bantu anak mengenali nilai yang diyakininya

Ajak anak berdiskusi tentang nilai-nilai yang mereka anggap penting dalam hidup. Misalnya, tanyakan, "Menurutmu, apa yang paling penting?" atau "Hal apa yang selalu ingin kamu pegang?"

Ketika anak memahami nilai dan prinsip yang diyakininya, mereka akan lebih percaya diri untuk menolak ajakan yang bertentangan dengan keyakinan tersebut. Nilai-nilai inilah yang nantinya menjadi kompas saat anak harus mengambil keputusan.

4. Ajarkan berpikir kritis sebelum mengambil keputusan

Biasakan anak untuk tidak langsung mengikuti ajakan teman tanpa mempertimbangkan dampaknya. Dorong mereka berpikir kritis dengan menganalisis situasi dan memikirkan konsekuensi dari setiap pilihan.

Anda bisa mengajukan pertanyaan seperti, "Apa yang mungkin terjadi jika kamu mengikuti ajakan itu?" atau "Apakah keputusan itu sesuai dengan nilai yang kamu yakini?". Pertanyaan-pertanyaan tersebut membantu anak melihat suatu masalah dari berbagai sudut pandang sebelum bertindak.

5. Bangun komunikasi yang terbuka

Komunikasi yang terbuka menjadi kunci agar anak merasa aman untuk bercerita kepada orang tua, termasuk ketika menghadapi tekanan dari teman sebaya.

Biasakan mengajak anak berbincang tentang pengalaman mereka sehari-hari, baik yang menyenangkan maupun yang membuat tidak nyaman. Hindari langsung menghakimi atau memarahi saat anak bercerita.

Ketika anak merasa didengar dan diterima, mereka akan lebih mudah meminta bantuan jika menghadapi situasi yang sulit. Orang tua pun dapat memberikan arahan yang tepat saat anak dihadapkan pada ajakan atau tekanan dari teman sebaya.

Membiasakan anak berani berkata 'tidak' memang membutuhkan waktu. Namun, dengan pendampingan yang konsisten, anak akan tumbuh menjadi pribadi yang lebih percaya diri, mandiri, dan mampu mengambil keputusan yang sesuai dengan nilai-nilai yang diyakininya.

(san/tis)


[Gambas:Video CNN]