7 Kesalahan Menyimpan ASI Perah yang Perlu Dihindari

CNN Indonesia
Selasa, 04 Agu 2026 09:00 WIB
Penyimpanan ASI perah tidak bisa sembarangan. Ketahui beberapa kesalahan menyimpan ASI yang sebaiknya dihindari. (Foto: iStockphoto/Oki Tri Suswanto)
Jakarta, CNN Indonesia --

ASI perah (ASIP) menjadi pilihan bagi ibu menyusui yang harus beraktivitas atau meninggalkan bayi untuk sementara. Dengan ASI perah, bayi tetap bisa mendapatkan ASI meski tidak menyusu langsung dari ibu.

Namun, penyimpanannya tidak bisa sembarangan. Suhu, lama penyimpanan, kebersihan wadah, hingga cara mencairkan ASIP dapat memengaruhi kualitas dan keamanannya.

Sejumlah penelitian di Indonesia menunjukkan adanya perubahan kualitas ASIP selama penyimpanan. Sementara itu, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) juga memberikan panduan mengenai hal-hal yang perlu diperhatikan.

Dirangkum dari berbagai sumber, berikut beberapa kesalahan menyimpan ASI yang sebaiknya dihindari.

1. Membiarkan ASIP terlalu lama di suhu ruang

Lama ASIP berada di suhu ruang perlu diperhatikan karena kondisi tersebut dapat memengaruhi pertumbuhan mikroorganisme.

Melansir penelitian dari Universitas Airlangga dan RSUD Dr. Soetomo, 76 persen sampel ASIP mengalami kontaminasi bakteri setelah dua jam. Setelah enam jam, seluruh sampel yang diteliti mengalami kontaminasi.

Angka tersebut tidak serta-merta menjadi batas universal keamanan ASIP karena penelitian dilakukan dalam kondisi tertentu. Lama penyimpanan tetap perlu disesuaikan dengan suhu dan pedoman yang berlaku.

2. Tidak memperhatikan suhu penyimpanan

Suhu dan lama penyimpanan sama-sama berpengaruh terhadap kualitas ASIP. Kadar asam ASIP cenderung menurun seiring lamanya penyimpanan, sementara suhu rendah membantu menekan pertumbuhan mikroorganisme.

Artinya, jangan hanya mengingat kapan ASIP diperah, tetapi perhatikan juga di mana dan pada suhu berapa ASIP disimpan.

3. Mengabaikan kebersihan tangan dan wadah

Kebersihan juga menjadi bagian penting dalam menyimpan ASIP. Tangan perlu dicuci sebelum memerah atau memindahkan ASIP, sementara wadah yang digunakan harus bersih dan dapat ditutup dengan baik.

Wadah yang kurang higienis atau tidak tertutup rapat dapat meningkatkan risiko kontaminasi. Jadi, perhatian tidak hanya perlu diberikan pada kulkas atau freezer, tetapi juga pada proses sebelum ASIP disimpan.

4. Tidak memberi label tanggal pemerahan

Jangan lupa mencantumkan tanggal pemerahan pada setiap wadah ASIP. Label membantu orang tua mengetahui ASIP mana yang perlu digunakan lebih dulu dan mencegah ASIP tersimpan terlalu lama.

Cara ini juga memudahkan pengaturan stok berdasarkan lama penyimpanannya.

5. Mencampurkan ASIP baru dengan yang beku

ASIP yang baru diperah sebaiknya tidak langsung dicampurkan ke dalam wadah berisi ASIP yang sudah beku.

Selain menjadi tidak ideal dari sisi penyimpanan, pencampuran juga dapat membuat waktu penyimpanan sulit dilacak karena kedua ASIP memiliki waktu pemerahan berbeda.

6. Menyimpan kembali sisa ASIP yang sudah diminum bayi

Ilustrasi. Kesalahan menyimpan ASI perah. (istockphoto/geargodz)

Sisa ASIP dari botol yang sudah diminum bayi juga tidak sebaiknya disimpan kembali untuk diberikan pada waktu berikutnya. ASIP tersebut sudah bersentuhan dengan mulut bayi sehingga kondisinya berbeda dari ASIP yang belum diberikan.

Karena itu, jangan menyamakan sisa ASIP dengan stok yang masih tersimpan dalam kondisi baik.

7. Keliru saat mencairkan atau menghangatkan ASIP

Cara mencairkan ASIP juga dapat memengaruhi kualitasnya. Pencairan melalui refrigerator sebagai metode yang lebih baik dibandingkan pencairan yang tidak terkontrol.

IDAI juga mengingatkan agar ASIP tidak dihangatkan menggunakan microwave karena pemanasan yang tidak merata dapat membuat sebagian ASIP terlalu panas dan berisiko melukai bayi.

ASIP beku dapat dicairkan secara bertahap dengan memindahkannya ke lemari pendingin sebelum digunakan.

Penyimpanan tidak hanya menentukan apakah ASIP masih bisa diberikan kepada bayi, tetapi juga dapat memengaruhi kualitasnya.

Karena itu, orang tua sebaiknya tidak hanya berpatokan pada satu angka lama penyimpanan. Kondisi suhu ruangan, kulkas atau freezer, serta kondisi bayi juga perlu diperhatikan.

(anm/fef)
KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK