Napak Tilas Jejak Kemerdekaan di Museum Perumusan Naskah Proklamasi

Angela Merici Keraf | CNN Indonesia
Senin, 17 Agu 2026 14:40 WIB
Museum Perumusan Naskah Proklamasi, Selasa (4/8/2026).
Museum Perumusan Naskah Proklamasi, Jakarta. (CNNIndonesia/Angela)
Daftar Isi
Jakarta, CNN Indonesia --

"Di mana Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dirumuskan?"

Pertanyaan semacam di atas mungkin pernah muncul dalam pelajaran PKN saat masih duduk di bangku sekolah dasar. Jawabannya mungkin sudah hafal di luar kepala, rumah Laksamana Muda Tadashi Maeda.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Bertahun-tahun setelah pelajaran itu berlalu, tempat yang dulu hanya dikenal lewat buku ternyata masih berdiri. Rumah milik perwira Angkatan Laut Jepang itu kini menjadi Museum Perumusan Naskah Proklamasi.

Dengan membayar Rp5 ribu, pengunjung dapat melihat lebih dekat ruang yang menjadi saksi salah satu malam penting dalam sejarah Indonesia. Museum yang beralamat di Jalan Imam Bonjol Nomor 56, Jakarta Pusat ini, buka setiap Selasa-Minggu pukul 08.00-16.00 WIB.

Meski merupakan rumah seorang pejabat Jepang, bangunan tersebut justru mengusung gaya arsitektur Eropa. Jendela-jendela kayu berukuran besar, langit-langit tinggi, ubin tempo dulu, hingga tangga dengan karpet merah masih menjadi bagian dari bangunan.

Sulit membayangkan bahwa rumah yang kini terasa tenang itu pernah menjadi tempat dengan suasana begitu tegang pada malam 16 Agustus 1945.

Selembar kertas yang mengubah sejarah

Bayangkan suasana rumah itu ketika malam semakin larut. Waktu sudah menunjukkan sekitar pukul 03.00 dini hari. Orang-orang yang berada di dalamnya tentu sudah kelelahan setelah melewati rangkaian peristiwa panjang menuju kemerdekaan.

Di sebuah meja makan, Soekarno, Mohammad Hatta, dan Ahmad Soebardjo menyusun kalimat-kalimat yang kelak dibacakan kepada seluruh rakyat Indonesia. Naskah Proklamasi kemudian ditulis tangan oleh Soekarno. Setelah rumusannya dianggap selesai, Sayuti Melik mengetiknya.

Naskah tulisan tangan itu sempat dianggap tak lagi berguna setelah diketik ulang dan bahkan sempat dibuang.

Untungnya, BM Diah, seorang wartawan yang berada di sekitar peristiwa itu, menyelamatkannya. Naskah yang sempat dianggap tak terpakai tersebut kemudian menjadi salah satu peninggalan paling penting dalam sejarah Indonesia.

Dari sini, museum terasa bukan sekadar tempat menyimpan benda bersejarah. Ruang-ruangnya seperti membantu membayangkan kembali bagaimana suasana dini hari itu.

Menyusuri rumah lama Maeda

Museum Perumusan Naskah Proklamasi, Selasa (4/8/2026).Museum Perumusan Naskah Proklamasi, Selasa (4/8/2026). (CNNIndonesia/Angela)

Museum Perumusan Naskah Proklamasi juga menarik dinikmati sebagai bangunan bersejarah. Dari lantai dasar, tangga dengan karpet merah mengarah ke lantai atas. Pembatas tangganya memiliki bentuk kotak-kotak menyerupai labirin, menambah karakter pada bangunan lama tersebut.

Lantai atas dulunya merupakan area privat rumah Laksamana Maeda. Kini, ruangan-ruangan itu dialihfungsikan menjadi ruang pamer yang menampilkan berbagai koleksi dan benda personal yang berkaitan dengan para tokoh.

Warna-warna pastel membuat beberapa sudutnya terasa berbeda dari bayangan tentang museum sejarah yang biasanya identik dengan suasana gelap dan serius.

Kamar mandi lama bahkan masih menjadi salah satu bagian yang juga mencuri perhatian. Ada kamar mandi berukuran cukup besar dengan bathtub, kloset, dan wastafel. Salah satunya didominasi warna kuning pastel, sementara kamar mandi lainnya bernuansa merah muda.

Detail seperti ini mungkin tidak berkaitan langsung dengan Proklamasi, tetapi justru membantu pengunjung membayangkan bagaimana rumah tersebut digunakan sebelum menjadi museum.

Sejumlah ruangan juga dibagi berdasarkan tema, termasuk ruang atribut dan ruang artistik. Koleksi dan informasi yang ditampilkan membuat pengunjung dapat melihat peristiwa Proklamasi bukan hanya dari sisi teks, tetapi juga benda, tokoh, dan suasana yang mengitarinya.

Masih ada satu bagian rumah yang juga sayang dilewatkan, bunker. Letaknya berada di bagian belakang kompleks museum. Pintu masuknya membawa pengunjung menuju ruang yang jauh lebih gelap.

Begitu masuk, suasananya langsung berubah. Bunker tersebut terasa sempit, dingin, dan minim cahaya. Dindingnya didominasi warna putih dan bagian dalamnya relatif kosong. Bunker ini dulunya digunakan sebagai tempat berlindung sekaligus menyimpan barang-barang berharga.

Membaca sejarah dengan cara berbeda

[Gambas:Instagram]

Tak perlu khawatir, pengunjung tidak harus ditemani pemandu untuk memahami cerita di balik koleksinya. Museum ini cukup interaktif. Sejumlah titik dilengkapi audio yang dapat didengarkan, sementara informasi tentang tokoh, ruangan, dan peristiwa sejarah disajikan melalui berbagai media.

Ada pula komputer interaktif yang membantu pengunjung mengenali denah bangunan, latar belakang peristiwa, serta tokoh-tokoh yang terlibat.

Video dan permainan kuis juga tersedia di beberapa bagian. Sejarah tidak hanya dibaca dari papan informasi, tetapi bisa dipelajari sambil mencoba berbagai fitur yang tersedia. Bagi yang datang bersama anak atau ingin menikmati museum dengan tempo yang santai, bagian interaktif ini membuat kunjungan terasa lebih ringan.

Di antara berbagai media tersebut, ada pula satu bagian yang mungkin membuat pengunjung bertanya, sebuah piano. Siapa sangka, penandatanganan proses perumusan naskah Proklamasi ternyata berlangsung di atas piano tersebut.

Sebelum benar-benar meninggalkan museum, jangan lupa pula mengisi Museum Passport dengan stempel sebagai penanda kunjungan.

Bukan sekadar tentang melihat tempat bersejarah, melainkan merasakan bagaimana rasanya berada di rumah, tempat pertama kali kata-kata yang mengubah sejarah Indonesia itu dirangkai. Mungkin, setelah keluar dari museum ini, pengunjung akan memandang arti kata merdeka dengan cara berbeda.

(asr/asr)
placeholder