Negara Mungil Terancam Tenggelam Tawarkan Kewarganegaraan Berbayar

CNN Indonesia
Kamis, 06 Agu 2026 11:15 WIB
Anibare, Nauru - January 18, 2014: The Republic of Nauru's only boat harbour lies in Anibare District and is a popular site for swimming and the launch of small fishing boats.
Wilayah Republik Naoero, negara terkecil ketiga di dunia. (Istockphoto/Aksum)
Jakarta, CNN Indonesia --

Tak hanya selebritas atau perusahaan besar yang bisa melakukan perubahan citra atau rebranding, sebuah negara pun dapat melakukan hal serupa.

Langkah terbaru ini diambil oleh Nauru, negara pulau mungil di kawasan Samudra Pasifik. Negara ini resmi mengembalikan nama negaranya ke sebutan tradisional aslinya, yakni Republik Naoero (dilafalkan 'now-ero').

Sementara itu, warganya yang semula disebut Nauruan kini resmi disapa sebagai dei-Naoero. Presiden David Adeang menyatakan bahwa nama baru ini disesuaikan agar selaras dengan ejaan dan pelafalan dalam bahasa nasional setempat.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Mengutip laporan The Guardian, perubahan nama di masa lalu terjadi lantaran kata "Naoero" dianggap terlalu sulit diucapkan oleh warga asing. Saat mengajukan usulan perubahan nama ke parlemen, Presiden Adeang menegaskan bahwa langkah ini bertujuan untuk menghormati warisan budaya, bahasa, dan identitas nasional secara lebih autentik.

Proses pergantian nama ini diawali dengan usulan amandemen konstitusi yang kemudian disetujui melalui dua putaran pemungutan suara oleh para anggota parlemen. Setelah melalui diskusi mendalam, pemerintah memutuskan tidak perlu menggelar pemungutan suara tingkat nasional.

Terletak di Samudra Pasifik Selatan, sekitar 1.250 kilometer di sebelah timur laut Kepulauan Solomon dan 3.300 kilometer dari Australia, Naoero merupakan negara mikro atau microstate dengan jumlah populasi terkecil ketiga di dunia setelah Vatikan dan Tuvalu.

Situs sejarah mencatat Naoero awalnya dijajah oleh Jerman, sebelum akhirnya berada di bawah administrasi Australia dan meraih kemerdekaan penuh pada 1968.

Sepanjang dekade 1970-an, industri penambangan fosfat (senyawa utama pembuat pupuk) sempat mendatangkan kekayaan melimpah bagi pulau ini. Namun, industri tersebut runtuh hingga memicu krisis ekonomi drastis pada dekade 1990-an.

Pemerintah Republik Naoero sekarang menggalang dana melalui program kewarganegaraan berbayar untuk mendanai relokasi warga dan infrastruktur ke tempat yang lebih aman dari kenaikan permukaan air laut akibat krisis iklim global.

Melansir Time Out, langkah Naoero menambah panjang daftar negara yang memutuskan untuk mengganti nama resminya.

Sebelumnya, Swaziland kembali menggunakan nama aslinya menjadi Eswatini pada 2018, Turki mengubah nama internasionalnya menjadi Türkiye, serta Republik Ceko yang kini lebih dikenal sebagai Ceko (Czechia). Contoh historis lainnya mencakup Rhodesia yang berganti menjadi Zimbabwe, atau Siam menjadi Thailand.

(wiw)


[Gambas:Video CNN]