Perut Makin Buncit? Waspadai Risiko Diabetes Tipe 2

CNN Indonesia
Senin, 10 Agu 2026 13:15 WIB
Ilustrasi perut buncit
Ilustrasi. Waspada lemak di perut bisa bikin diabetes tipe 2. (Foto: iStockphoto)
Jakarta, CNN Indonesia --

Lemak berlebih yang menumpuk di area perut bukan hanya berkaitan dengan bentuk tubuh. Kondisi tersebut juga dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami diabetes melitus tipe 2.

Penumpukan lemak, terutama di sekitar perut, dapat memicu resistensi insulin. Kondisi ini menjadi salah satu mekanisme penting dalam perkembangan diabetes tipe 2.

Konsultan Endokrin Metabolik dan Diabetes Sidartawan Soegondo mengatakan obesitas seharusnya tidak hanya dipandang sebagai persoalan berat badan atau penampilan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Obesitas jangan dianggap hanya sebagai masalah berat badan atau bentuk tubuh. Kondisi ini dapat menjadi pemicu berbagai penyakit serius, salah satunya diabetes melitus tipe 2," kata Sidartawan yang juga merupakan Chairman Diabetes Connection Care (DCC) Eka Hospital dalam keterangannya, Senin (10/8).

Menurut dia, risiko tersebut perlu menjadi perhatian terutama pada orang dengan obesitas yang mengalami penumpukan lemak di sekitar perut.

Penumpukan lemak di area perut dapat membuat jaringan tubuh menjadi kurang responsif terhadap insulin. Kondisi ini dikenal sebagai resistensi insulin.

Insulin merupakan hormon yang diproduksi pankreas. Hormon ini membantu sel tubuh menyerap dan menggunakan glukosa atau gula darah sebagai sumber energi.

Ketika tubuh mengalami resistensi insulin, pankreas harus bekerja lebih keras dengan memproduksi lebih banyak insulin agar kadar gula darah tetap terkendali. Jika berlangsung dalam waktu lama, kemampuan pankreas untuk memenuhi kebutuhan insulin dapat menurun.

Di sisi lain, efektivitas insulin dalam mengendalikan gula darah juga semakin berkurang. Akibatnya, kadar glukosa dalam darah dapat terus meningkat dan pada akhirnya berkembang menjadi diabetes melitus tipe 2.

"Jika kondisi tersebut berlangsung dalam waktu lama, kemampuan pankreas untuk memenuhi kebutuhan insulin dapat menurun. Pada saat yang sama, efektivitas insulin dalam mengendalikan gula darah juga berkurang sehingga kadar glukosa dapat terus meningkat dan berkembang menjadi diabetes melitus tipe 2," jelasnya, dilansir dari Antara.

Karena itu, Sidartawan menilai pengendalian berat badan menjadi salah satu bagian penting dalam upaya menurunkan risiko diabetes tipe 2.

Cara mengendalikan berat badan

Penanganan obesitas, kata Sidartawan, tetap perlu diawali dengan perubahan gaya hidup. Dua hal yang perlu menjadi perhatian adalah pengaturan pola makan dan peningkatan aktivitas fisik.

Pola makan sehat dapat membantu mengontrol asupan kalori sekaligus menjaga kadar gula darah. Sementara itu, aktivitas fisik secara rutin dapat membantu meningkatkan kebugaran dan sensitivitas tubuh terhadap insulin.

Namun, perubahan gaya hidup tidak selalu memberikan hasil yang sama pada setiap orang. Dalam kondisi tertentu, dokter dapat mempertimbangkan penggunaan obat, terutama pada pasien obesitas yang juga memiliki penyakit penyerta seperti diabetes tipe 2, hipertensi, atau gangguan kadar kolesterol.

"Penggunaan obat harus berdasarkan indikasi medis dan berada di bawah pengawasan dokter. Obat bukan pengganti pola hidup sehat, tetapi dapat menjadi bagian dari terapi yang komprehensif," ujarnya.

Perkembangan terapi diabetes juga menghadirkan pilihan pengobatan yang tidak hanya berfokus pada pengendalian kadar gula darah, tetapi juga dapat membantu pengelolaan berat badan. Salah satunya adalah kelompok obat GLP-1 receptor agonist dan terapi dual incretin.

Terapi tersebut antara lain bekerja dengan meningkatkan rasa kenyang, memperlambat pengosongan lambung, mengurangi nafsu makan, serta membantu mengendalikan kadar gula darah. Terapi ini dapat menjadi salah satu pilihan bagi pasien diabetes tipe 2 yang mengalami obesitas atau kelebihan berat badan, terutama ketika target pengendalian gula darah belum tercapai dengan terapi sebelumnya.

Sejumlah penelitian juga menunjukkan terapi tersebut dapat membantu menurunkan berat badan sekaligus memperbaiki kadar HbA1c. HbA1c merupakan salah satu parameter yang digunakan untuk melihat pengendalian gula darah dalam jangka panjang.

Pada pasien tertentu, terapi tersebut juga dapat memberikan manfaat tambahan terhadap risiko penyakit kardiovaskular dan kualitas hidup. Meski demikian, Sidartawan menegaskan bahwa penanganan diabetes dan obesitas tidak dapat diterapkan dengan pendekatan yang sama kepada semua pasien.

Hal yang pasti adalah, terapi penyakit metabolik yang berkaitan juga dengan obesitas, kini memiliki lebih banyak pilihan salah satunya dengan terapi Tirzepatide. Terapi tersebut hadir di Diabetes Connection Care Eka Hospital Group.

"Setiap penyandang diabetes memiliki kondisi fisik dan respons metabolik yang berbeda. Karena itu, terapi harus direncanakan secara personal berdasarkan evaluasi dan kondisi masing-masing pasien," katanya.

(tis/tis)


[Gambas:Video CNN]