Ternyata Gemar Makan Pedas Bisa Bikin Panjang Umur

CNN Indonesia
Kamis, 13 Agu 2026 09:45 WIB
pedagang menata cabai merah di lapak Pasar Keramat Jati, Jakarta Timur, Senin (25/5/2026). (CNN Indonesia/Febria Adha L)
Ilustrasi. Makanan pedas, salah satunya cabai bisa bikin panjang umur. (CNN Indonesia/Febria Adha L)
Daftar Isi
Jakarta, CNN Indonesia --

Makanan pedas biasanya disantap karena rasanya yang menggugah selera. Sensasi panas dari cabai, sambal, jalapeno, hingga kari membuat makanan terasa lebih nikmat dan memuaskan.

Namun, di balik sensasi pedas yang membuat bibir terasa terbakar dan mata berair, makanan yang mengandung capsaicin ternyata juga dikaitkan dengan sejumlah manfaat kesehatan. Beberapa penelitian bahkan menemukan hubungan antara konsumsi cabai secara rutin dan risiko kematian akibat penyakit tertentu yang lebih rendah.

Capsaicin sendiri merupakan senyawa aktif utama yang memberikan sensasi pedas pada cabai. Senyawa ini diketahui berhubungan dengan sejumlah proses di dalam tubuh, mulai dari metabolisme, kesehatan jantung, hingga respons peradangan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Di luar sensasi pedasnya, capsaicin juga menjadi perhatian dalam penelitian mengenai kesehatan jangka panjang. Mengutip Real Simple, sejumlah penelitian populasi menemukan hubungan antara konsumsi cabai dan kesehatan kardiometabolik yang lebih baik.

Namun, penting dicatat bahwa hubungan tersebut tidak otomatis membuktikan bahwa makanan pedas dapat membuat seseorang hidup lebih lama.

Untuk lebih jelasnya, ada beberapa mekanisme yang diduga berperan dan menjadi alasan kenapa makan pedas kerap berpotensi bikin umut panjang, yakni sebagai berikut:

1. Berpotensi mendukung kesehatan jantung

Capsaicin diketahui dapat memengaruhi pembuluh darah. Senyawa ini dapat merangsang produksi nitric oxide yang membantu pembuluh darah menjadi lebih rileks dan melebar. Mekanisme tersebut berpotensi membantu menjaga tekanan darah.

Konsumsi cabai juga dikaitkan dengan profil lemak darah yang lebih baik dalam sejumlah penelitian. Capsaicin diduga dapat membantu melindungi kolesterol LDL dari oksidasi, salah satu proses yang berperan dalam pembentukan plak pada pembuluh darah.

Salah satu penelitian terhadap hampir 23 ribu orang menemukan bahwa konsumsi cabai empat kali atau lebih dalam sepekan berkaitan dengan risiko kematian akibat penyakit jantung yang lebih rendah.

Dalam penelitian tersebut, konsumsi cabai juga dikaitkan dengan penurunan risiko kematian akibat penyakit jantung iskemik dan stroke.

Meski demikian, hasil penelitian semacam ini menunjukkan korelasi, bukan bukti bahwa cabai secara langsung menyebabkan seseorang terhindar dari penyakit jantung atau stroke.

2. Membantu meningkatkan metabolisme

Capsaicin juga banyak diteliti karena potensinya dalam memengaruhi metabolisme tubuh. Salah satu mekanismenya adalah termogenesis, yakni proses ketika tubuh menghasilkan panas dan menggunakan energi.

Capsaicin dapat meningkatkan aktivitas proses tersebut sehingga tubuh membakar lebih banyak energi. Senyawa ini juga diduga dapat memengaruhi jaringan lemak cokelat atau brown adipose tissue.

Berbeda dari lemak putih yang terutama menyimpan energi, jaringan lemak cokelat berperan dalam menghasilkan panas dengan membakar energi. Selain itu, sejumlah penelitian menunjukkan capsaicin berpotensi memengaruhi nafsu makan dan jumlah energi yang dikonsumsi.

Namun, efek tersebut tidak berarti makanan pedas bisa menggantikan pola makan sehat atau menjadi solusi tunggal untuk menurunkan berat badan.

3. Berpotensi membantu mengendalikan peradangan

Hubungan antara makanan pedas dan kesehatan juga semakin banyak dikaji melalui mikrobioma usus. Beberapa penelitian menunjukkan capsaicin dapat memengaruhi komposisi bakteri di dalam usus. Senyawa ini diduga dapat mendukung bakteri yang menghasilkan short-chain fatty acids (SCFA), termasuk butirat.

SCFA berperan penting dalam menjaga kesehatan lapisan usus. Salah satu manfaatnya adalah membantu mempertahankan fungsi penghalang usus sehingga zat-zat yang berpotensi memicu peradangan tidak mudah masuk ke aliran darah.

Dengan demikian, capsaicin berpotensi memengaruhi peradangan sistemik melalui interaksi antara makanan, saluran pencernaan, dan mikrobioma usus.

Meski menjanjikan, penelitian mengenai hubungan capsaicin, mikrobioma, dan peradangan masih terus berkembang. Karena itu, belum tepat jika menyimpulkan bahwa memperbanyak makanan pedas saja dapat mencegah peradangan atau penyakit kronis.

Jadi, haruskah makan pedas lebih banyak?

Bagi pencinta sambal, temuan mengenai capsaicin tentu menjadi kabar menarik. Namun, bukan berarti semakin pedas makanan yang dikonsumsi, semakin panjang pula usia seseorang.

VIDEO: Ini Penyebab Kecap dan Saus Sambal ABC Ditarik di SingapuraIlustrasi. Cabai pedas. (Foto: CNN Indonesia)

Manfaat makanan pedas sebaiknya dilihat sebagai bagian dari pola makan secara keseluruhan. Cabai yang dikonsumsi bersama sayuran, sumber protein, biji-bijian, dan bahan makanan bergizi tentu berbeda dengan makanan ultra-proses yang tinggi garam, gula, atau lemak meski sama-sama memiliki rasa pedas.

Selain itu, toleransi setiap orang terhadap makanan pedas berbeda. Pada orang tertentu, konsumsi cabai dalam jumlah banyak dapat memicu rasa tidak nyaman pada saluran pencernaan.

Jadi, jika Anda memang menyukai makanan pedas, tidak ada alasan untuk menghindarinya hanya karena sensasi panasnya. Konsumsi dalam jumlah yang sesuai dengan toleransi tubuh dan tetap imbangi dengan pola makan bergizi seimbang.

(tis/tis)
placeholder