Ini 6 Manfaat Anak Ikut Mengerjakan Pekerjaan Rumah Tangga
Pekerjaan rumah tangga mungkin terlihat seperti rutinitas kecil yang dilakukan setiap hari. Mulai dari merapikan tempat tidur, membereskan mainan, membawa piring ke dapur, hingga membantu menyapu rumah.
Bagi orang tua, pekerjaan tersebut mungkin terasa lebih cepat selesai jika dikerjakan sendiri. Namun, memberi anak kesempatan untuk ikut mengerjakan pekerjaan rumah ternyata dapat menjadi bagian dari proses belajar mereka.
Memangnya, apa saja manfaat anak dilibatkan dalam pekerjaan rumah?
1. Membantu membangun kepercayaan diri
Mampu menyelesaikan tugas sendiri bisa memberikan pengalaman bahwa anak ternyata mampu melakukan sesuatu tanpa terus-menerus dibantu.
Melansir penelitian dari Journal of Developmental & Behavioral Pediatrics, frekuensi melakukan pekerjaan rumah pada masa taman kanak-kanak berkaitan dengan persepsi kompetensi sosial dan akademik, hubungan dengan teman sebaya, serta kepuasan hidup yang lebih baik.
2. Melatih kemandirian
Mengerjakan pekerjaan rumah membuat anak belajar melakukan sesuatu untuk dirinya sendiri tanpa selalu menunggu bantuan orang tua. Hal sederhana seperti merapikan tempat tidur atau membereskan mainan mengajarkan anak bahwa ada tugas yang perlu diselesaikan dan menjadi tanggung jawabnya.
Mengutip penelitian dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta terhadap orang tua dengan anak usia 6-8 tahun, keterlibatan anak dalam pekerjaan rumah dapat mendukung perkembangan executive function, termasuk kemandirian dan tanggung jawab.
3. Membentuk rasa tanggung jawab
Ketika anak memiliki tugas rumah yang sesuai dengan usianya, mereka belajar memahami bahwa setiap pekerjaan perlu diselesaikan. Anak juga mulai mengenali hubungan sederhana antara tindakan dan konsekuensinya.
Misalnya, jika mainan tidak dibereskan, kamar akan tetap berantakan. Kebiasaan tersebut dapat menjadi latihan untuk memahami tanggung jawab tanpa harus selalu dikaitkan dengan hukuman atau hadiah.
4. Melatih kemampuan memecahkan masalah
Pekerjaan rumah tidak selalu sesederhana kelihatannya bagi anak. Ketika diminta membereskan mainan, misalnya, anak harus menentukan mana yang harus dikumpulkan lebih dulu, ke mana barang tersebut disimpan, dan bagaimana menyelesaikan tugas sampai tuntas.
Keterlibatan anak dalam pekerjaan rumah dengan kemampuan memecahkan masalah dan perkembangan executive function. Ini menunjukkan pekerjaan rumah bisa menjadi kesempatan bagi anak untuk belajar berpikir dan mengambil keputusan melalui kegiatan sehari-hari.
5. Mengajarkan anak untuk membantu dan bekerja sama
Pekerjaan rumah juga tidak selalu harus dipandang sebagai tugas individu. Ketika anak membantu orang tua menyiapkan meja makan, membereskan rumah, atau melakukan pekerjaan sederhana lainnya, mereka belajar bahwa pekerjaan dalam keluarga dapat dilakukan bersama.
Menukil penelitian Scientific Reports yang melibatkan ribuan siswa di 28 wilayah di China, hubungan positif antara keterlibatan anak dalam pekerjaan rumah dan perkembangan perilaku prososial.
Penelitian tersebut juga menemukan keterkaitan dengan emosi positif, pengawasan orang tua, serta hubungan orang tua-anak yang lebih dekat.
6. Mempererat hubungan dengan orang tua
Pekerjaan rumah dapat menjadi aktivitas yang dilakukan bersama, bukan sekadar daftar tugas yang diberikan orang tua kepada anak.
Saat orang tua mendampingi anak mencuci piring, melipat pakaian, atau menyiapkan makanan, ada kesempatan untuk berkomunikasi dan mengajarkan keterampilan baru.
Hubungan antara keterlibatan dalam pekerjaan rumah dengan hubungan orang tua-anak yang lebih dekat. Meski begitu, orang tua tidak perlu menjadikan pekerjaan rumah sebagai cara untuk mengejar manfaat tertentu.
Yang lebih penting adalah memberikan kesempatan kepada anak untuk berkontribusi sesuai usia dan kemampuannya.
Melibatkan anak dalam pekerjaan rumah bukan berarti menyerahkan seluruh pekerjaan rumah tangga kepada mereka. Jenis tugas perlu disesuaikan dengan usia, kemampuan, dan tingkat keamanan anak. Anak juga tetap membutuhkan pendampingan, terutama ketika mempelajari tugas baru.
Jadi, orang tua sebaiknya tidak langsung melepas anak mengerjakan semuanya sendiri. Berikan contoh, bantu ketika diperlukan, lalu perlahan beri ruang agar anak mencoba.
(anm/fef)