Meski 6 Organ Ini Diangkat, Manusia Tetap Bisa Hidup
Tubuh manusia mungkin terlihat seperti sebuah sistem yang terhubung dan tidak bisa lepas satu sama lain. Namun kenyataannya, dalam kondisi tertentu manusia tetap bisa hidup normal meski organ berikut diangkat.
Prosedur pengangkatan organ dilakukan karena sejumlah alasan medis. Kemudian ada pula orang yang memang lahir hanya dengan satu organ, padahal normalnya organ tersebut ada dua.
Organ diangkat, kenapa manusia tetap bisa hidup? Rupanya tubuh memiliki kemampuan beradaptasi atau masih dapat menjalankan fungsi vital dengan bantuan organ dan jaringan lain.
Berikut beberapa organ yang tetap aman diangkat tanpa membuat seseorang menemui ajal.
1. Limpa
Limpa mungkin bukan organ yang sering dibicarakan dalam keseharian. Letaknya berada di bagian kiri atas perut dan memiliki sejumlah fungsi penting, termasuk membantu sistem kekebalan tubuh serta menyaring darah.
Meski begitu, manusia tetap dapat hidup tanpa limpa. Melansir tinjauan medis yang tercatat di Ther Umsch, limpa tidak mutlak diperlukan untuk bertahan hidup, meski memiliki fungsi penting dalam pertahanan imun, penyaringan darah, dan produksi sel darah dalam kondisi tertentu.
Kehilangan limpa membuat seseorang lebih rentan terhadap infeksi serius tertentu. Karena itu, pasien yang menjalani pengangkatan limpa atau splenektomi membutuhkan perlindungan dan pemantauan khusus, termasuk imunisasi yang sesuai. Jadi, bisa hidup tanpa limpa bukan berarti tubuh tidak merasakan dampaknya.
2. Kandung empedu
Organ kecil yang berada di bawah hati ini berfungsi menyimpan dan memekatkan empedu, cairan yang membantu tubuh mencerna makanan. Ketika kandung empedu harus diangkat, hati tetap memproduksi empedu. Bedanya, empedu tidak lagi disimpan di kandung empedu dan dapat langsung mengalir ke saluran pencernaan.
Seseorang dapat hidup tanpa kandung empedu dan tetap menjalani pola makan sehat seperti biasa setelah menjalani operasi pengangkatan kandung empedu. Kehilangan kandung empedu membuat sistem pencernaan beradaptasi, tetapi tidak menghentikan fungsi dasar tubuh.
3. Usus buntu
Nama "usus buntu" menjadi organ yang paling sering bersanding dengan operasi dan terdengar seperti bagian yang tidak memiliki fungsi. Padahal, usus dengan sebutan apendiks ini diketahui memiliki jaringan limfoid dan berkaitan dengan sistem kekebalan di saluran pencernaan.
Meski demikian, manusia tetap dapat hidup tanpa apendiks. Pengangkatan usus buntu atau apendektomi merupakan prosedur yang umum dilakukan, terutama untuk menangani radang usus buntu.
Pengangkatan apendiks tidak menimbulkan dampak jangka panjang yang berarti dan seseorang dapat hidup tanpa organ tersebut.
4. Satu ginjal
Manusia memang memiliki dua ginjal, tetapi seseorang dapat hidup hanya dengan satu ginjal yang sehat. Hal ini juga menjadi dasar dilakukannya donor ginjal hidup. Seseorang yang memenuhi persyaratan medis dapat mendonorkan salah satu ginjalnya kepada orang lain, sementara ginjal yang tersisa menjalankan fungsi penyaringan darah bagi tubuh.
Orang yang memiliki satu ginjal, baik karena terlahir demikian maupun setelah ginjal lainnya diangkat atau didonorkan, umumnya dapat menjalani kehidupan sehat selama ginjal yang tersisa berfungsi dengan baik.
Walaupun begitu, kondisi tersebut tetap perlu diperhatikan. Orang dengan satu ginjal memiliki risiko tertentu, seperti tekanan darah tinggi atau penurunan fungsi ginjal, sehingga fungsi ginjal dan tekanan darah tetap perlu dipantau. Kondisi hanya memiliki satu ginjal juga tidak selalu terjadi karena operasi. Sebagian orang memang terlahir hanya dengan satu ginjal.
5. Satu paru-paru
Dalam dunia medis, operasi untuk mengangkat seluruh satu paru-paru disebut pneumonektomi. Prosedur tersebut dilakukan dalam kondisi tertentu, salah satunya untuk menangani kanker paru-paru.
Setelah operasi, paru-paru yang tersisa mengambil alih fungsi pernapasan untuk tubuh. Kemampuan fisik seseorang tentu dapat berubah dan pemulihan membutuhkan penanganan medis, sehingga hidup dengan satu paru-paru bukan berarti kondisinya sama persis seperti memiliki dua paru-paru. Tetapi secara fisiologis, satu paru-paru yang sehat tetap memungkinkan seseorang untuk hidup.
6. Sebagian hati
Dalam kondisi tertentu, sebagian hati dapat diangkat melalui operasi, sementara jaringan hati yang tersisa akan tumbuh dan beradaptasi untuk menjalankan fungsi yang dibutuhkan tubuh.
Kemampuan tersebut juga memungkinkan dilakukannya donor hati dari orang yang masih hidup. Pada prosedur tersebut, sebagian hati donor diangkat dan diberikan kepada penerima transplantasi. Hati memiliki cadangan fungsi yang besar dan bagian hati yang tersisa dapat tumbuh kembali dalam beberapa minggu setelah sebagian jaringan diangkat.
Bagaimana dengan lambung dan usus?
Bagian lambung atau usus juga dapat diangkat melalui operasi. Tubuh dalam kondisi tertentu mampu beradaptasi dengan perubahan tersebut. Akan tetapi, kasusnya lebih kompleks dibandingkan pengangkatan limpa, kandung empedu, atau usus buntu.
Ketika sebagian usus kecil diangkat dalam jumlah cukup besar, misal, seseorang dapat mengalami short bowel syndrome. Kondisi ketika usus yang tersisa tidak mampu menyerap cukup nutrisi dari makanan untuk menjaga kesehatan tubuh.
Oleh karena itu, bukan berarti semakin banyak bagian usus yang diangkat, semakin mudah tubuh beradaptasi. Dampaknya sangat bergantung pada bagian dan panjang usus yang tersisa serta kemampuan tubuh untuk beradaptasi.
Tubuh mampu beradaptasi
Dari limpa hingga hati, kemampuan manusia untuk hidup dengan organ yang hilang menunjukkan bahwa tubuh tidak selalu bekerja dengan prinsip "satu organ hilang, semuanya berhenti".
Ada organ yang fungsinya dapat dikompensasi oleh organ atau jaringan lain. Ada pula organ yang masih tersisa dan kemudian meningkatkan kapasitas kerjanya. Hati bahkan memiliki kemampuan untuk tumbuh kembali setelah sebagian jaringannya diangkat.
Melihat daftar organ tersebut bukan berarti organ-organ tersebut tidak penting. Justru sebaliknya, justru ini menunjukkan seberapa adaptif tubuh manusia ketika harus menghadapi perubahan besar.
(anm/els)