Seorang pria asal AS yang juga merupakan pasien penyakit ginjal stadium akhir, berhasil bertahan selama 9 bulan dengan transplantasi ginjal babi hingga akhirnya mendapatkan donor dari manusia.
Ginjal babi tersebut berhasil berfungsi dengan baik yang membuat pasien bebas dialisis atau cuci darah selama tepatnya 271 hari. Menurut para dokter yang menanganinya, ini merupakan rekor waktu terlama yang pernah tercatat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pria tersebut bernama Tim Andrews. Ia menerima ginjal babi hasil rekayasa genetik ketika usianya 66 tahun pada Januari 2025.
Saat itu, Andrews menjalani operasi xenotransplantasi yang dilakukan tim dokter sekaligus ilmuwan dari Harvard Medical School di Massachusetts General Hospital, AS.
"Saya berpikir, jika saya akan mati, saya sebaiknya melakukan sesuatu untuk kemanusiaan dan menjadi bagian dari eksperimen ini," ujar Andrews yang mengakui dirinya sekarat kala itu, seperti diwartakan People pada Senin (7/9).
Andrews pun menjadi pasien pertama yang diketahui menerima ginjal donor manusia setelah transplantasi ginjal babi. Para dokter yang menanganinya pun memerinci prosedur xenotransplantasi ini dalam jurnal The Lancet pada Kamis (3/9) lalu.
Bagi yang belum tahu, seperti dikutip dari Science Direct, xenotransplantasi merujuk pada proses pencangkokan organ atau jaringan antara spesies makhluk berbeda, dalam kasus ini manusia dan babi.
Pada kasus Andrews, ginjal babi berhasil berfungsi selama enam bulan pertama sebelum akhirnya mulai gagal.
Ginjal tersebut kemudian diangkat dan Andrews kembali menjalani dialisis rutin. Ia baru menerima ginjal manusia dari donor yang cocok pada Januari 2026.
"Kekurangan organ merupakan krisis terbesar yang kita hadapi saat ini dalam transplantasi," kata Leonardo Riella, penulis utama studi sekaligus direktur medis untuk transplantasi ginjal di Mass General Brigham.
Ia mengatakan, tindakan terbaik untuk pasien stadium akhir yang sudah mengalami gagal ginjal, yaitu transplantasi. Sayangnya, rumah sakit selalu kekurangan organ manusia untuk ditransplantasikan dengan tepat waktu.
"Visi kami adalah xenotransplantasi dapat membantu mengatasi kesenjangan ini. Awalnya sebagai jembatan untuk menghentikan dialisis pasien, sementara mereka menunggu ginjal donor manusia," ujar Riella.
Para dokter yang terlibat dalam studi ini mengakui, kasus ini menjadi harapan baru bahwa xenotransplantasi bisa jadi jembatan bagi pasien yang sedang menunggu donor ginjal dari manusia.
Riella mengungkap, pasien itu sendiri menjadi pioner dalam studi dan uji coba xenotransplantasi ini.
"Dengan mengambil langkah maju dan bersedia berpartisipasi dalam studi tahap awal ini, mereka memajukan ilmu pengetahuan. Tanpa kepercayaan dan keberanian mereka, kami tidak akan mampu melakukan apa yang kami lakukan," tutur Riella.
(rti)
