Kota Ini Sewa 14 Pemangsa Usir Ribuan Burung Camar Pengganggu Turis
Setiap musim panas, Ocean City, kota di sebuah pulau yang berada di pesisir New Jersey, Amerika Serikat (AS), dipadati wisatawan yang ingin menikmati pantai berpasir sambil berjemur.
Namun, liburan di pantai kota tersebut memiliki satu gangguan yang kerap dikeluhkan turis atau wisatawan, yakni burung camar. Burung-burung itu tak segan mencuri makanan pengunjung, mulai dari pizza, kentang goreng, hingga es krim.
Bukan hanya jumlah wisatawan yang melonjak hingga sekitar 150 ribu orang setiap musim panas. Populasi burung camar di Ocean City juga ikut meningkat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat Juga : |
Menurut Angelina Caselli, seorang falconer atau pelatih burung pemangsa yang telah bekerja di Ocean City sejak 2019, jumlah burung camar di kota tersebut dapat mencapai 3.000 hingga 4.000 ekor selama musim panas.
Untuk mengatasi masalah itu, Caselli bersama East Coast Falcons, kelompok falconer dari North Jersey, menggunakan burung pemangsa untuk mengusir burung camar dari kawasan wisata, melansir Outside Online.
Saat ini, terdapat 13 burung pemangsa yang bertugas. Mereka terdiri atas burung hantu, alap-alap, dan elang. Satu burung lainnya sedang bertugas di Atlantic City sehingga totalnya terdapat 14 burung yang menjadi bagian dari program tersebut.
Burung-burung pemangsa yang digunakan merupakan hasil penangkaran yang telah dilatih dan terbiasa berinteraksi dengan manusia. Para falconer yang menangani burung-burung tersebut juga merupakan tenaga ahli yang telah memenuhi persyaratan hukum untuk menjalankan pekerjaan tersebut.
Setiap hari, Caselli dan tim memantau burung pemangsa yang bertugas menggunakan GPS, radio telemetry, peluit, umpan, serta lonceng kecil. Peralatan tersebut digunakan untuk memantau keberadaan sekaligus memanggil burung-burung itu kembali.
Dilatih untuk menakut-nakuti
Burung pemangsa yang dikerahkan tidak dilatih untuk membunuh burung camar, melainkan untuk menakut-nakuti mereka. Kehadiran predator alami tersebut diharapkan membuat burung camar menjauh dari kawasan kota sehingga tidak lagi mengganggu wisatawan.
Meski demikian, naluri berburu burung pemangsa tidak dapat dihilangkan sepenuhnya. Dalam menjalankan tugas, ada kemungkinan beberapa burung camar terbunuh.
Namun, burung-burung pemangsa tersebut juga dilatih agar tidak bergantung pada hasil buruan untuk mendapatkan makanan. Saat berpatroli, mereka berada dalam kondisi sekitar 10 persen di atas hunting weight, yaitu bobot yang digunakan sebagai acuan dalam pelatihan burung pemangsa.
Kondisi tersebut membuat burung tetap memiliki naluri mengejar, tetapi tidak harus berburu untuk memenuhi kebutuhan makanannya. Setelah tugas selesai, burung-burung tersebut akan diberi makan daging burung puyuh.
Di sisi lain, burung camar ternyata juga bukan hewan yang mudah dikelabui. Mereka mampu beradaptasi dengan keberadaan manusia, bahkan dapat mengenali wajah dan kendaraan para falconer yang berpatroli.
"Mereka mengenali para falconer dari wajah. Mereka juga mengenali mobil dan truk. Kalau mereka berjalan melintasi tempat parkir, burung-burung camar mulai membunyikan alarm dan berteriak," kata Swanson, seorang master falconer di East Coast Falcons.
Program berlanjut hingga 2029
Program penggunaan burung pemangsa untuk mengatasi gangguan burung camar telah diuji oleh pemerintah Ocean City sejak 2019. Pada awalnya, program tersebut hanya bersifat percobaan.
Karena dinilai berhasil, pemerintah kemudian memperpanjang kontrak dengan East Coast Falcons hingga 2029. Pemerintah Ocean City harus mengeluarkan biaya yang tidak sedikit untuk program tersebut. Nilai kontraknya mencapai US$369.996 atau sekitar Rp6,6 miliar.
Sebelum menggunakan burung pemangsa, pemerintah telah mencoba berbagai cara untuk mengusir burung camar. Beberapa di antaranya adalah menggunakan suara keras, tali pancing, memasang burung hantu plastik, hingga mengimbau wisatawan agar tidak memberi makan burung camar.
Namun, berbagai metode tersebut dinilai tidak efektif. Penggunaan racun maupun pemburu bersenjata juga dianggap terlalu tidak manusiawi. Karena itu, burung pemangsa dipilih sebagai predator alami untuk membuat burung camar menjauh dari kawasan wisata Ocean City.
(dsd/tis)

