9 Tanda Anak Perlu Bertemu Psikolog, Ketahui Kapan Perlu Bantuan
Pasang surut emosi terbilang wajar. Anak menghadapi tantangan baik di lingkungan rumah maupun sekolah. Namun orang tua perlu tahu kapan naik turun emosi ini perlu ditindaklanjuti dengan konsultasi ke tenaga profesional. Berikut tanda anak perlu bertemu psikolog atau terapis.
Setiap anak itu unik. Psikolog Jenny Yip mengingatkan bahwa hal yang membuat seorang anak stres, belum tentu itu mengganggu anak lain.
"Setiap anak akan menghadapi stres dengan cara berbeda. Beberapa anak mungkin memiliki tingkat ketahanan (resiliensi) yang lebih tinggi, sementara yang lain mungkin lebih berhati-hati dan mudah cemas," kata Yip seperti dilansir dari Parents.
Tanda anak perlu bertemu psikolog
Orang tua perlu mengenali beberapa tanda bahwa anak sebenarnya memerlukan bantuan tenaga profesional seperti psikolog, konselor, atau terapis.
1. Terus-menerus mencari informasi atau minta kepastian
Yip berkata anak yang terus mencari informasi dari media sosial atau meminta kepastian dari orang tua jadi indikator utama kecemasan.
Anak merasa tidak tahu akan sesuatu hal sehingga muncul rasa cemas.
2. Perubahan pola tidur
Perubahan pola tidur tidak hanya tidur jauh hanya sebentar tapi juga tidur jauh lebih lama. Psikolog anak Kate E. Eshleman menilai perubahan pola tidur bisa menandakan anak merasa cemas atau depresi.
"Tenaga profesional dapat melakukan penilaian lebih lanjut mengenai apa yang dialami anak dan menerapkan strategi untuk mengatasi gejala serta penyebab dasarnya. Penanganan bisa berupa terapi, seperti intervensi perilaku kognitif, atau pengelolaan pengobatan," katanya.
3. Mengurung diri
Jika Anda menemukan anak atau remaja lebih banyak menghabiskan waktu di kamar dan tidak ada interaksi dengan keluarga atau teman, maka bisa jadi ini tanda mereka perlu bantuan profesional.
Anda mungkin menganggap wajar anak perlu waktu sendiri di kamar. Namun perhatikan seberapa banyak dia di kamar.
4. Selalu bergantung pada orang lain
Anak yang selalu ingin ditemani atau tidak mau lepas dari orang tua bisa menjadi tanda kecemasan. Yip berkata situasi ini terjadi saat anak merasa tidak percaya diri atau cukup tangguh untuk menghadapi suatu kondisi sendirian.
Dengan berkonsultasi dengan tenaga profesional, anak dibantu untuk membangun rasa percaya diri.
5. Merasa dirinya buruk
Semua orang pernah mengalami hari yang berat termasuk anak. Namun saat anak merasa kurang percaya diri atau merasa tidak lagi mampu melakukan berbagai hal sebaik sebelumnya, ini perlu atensi lebih.
6. Menunjukkan perilaku berulang yang merusak diri sendiri
Perilaku berulang tidak selalu buruk. Namun orang tua perlu waspada saat anak melakukan perilaku berulang dan berkaitan dengan tubuhnya.
Melansir dari Cleveland Clinic, anak sering mencabuti rambut, menggigiti kuku, atau mengelupas kulit bisa jadi tanda kecemasan atau tekanan batin.
7. Berhenti melakukan aktivitas yang disukai
Anak biasanya melakukan kegiatan yang disukai lalu tiba-tiba tidak menginginkannya lagi bisa menandakan gejala depresi.
"Sangat penting untuk memastikan apakah hilangnya minat tersebut disebabkan oleh masalah suasana hati (mood) atau karena kelelahan akibat terlalu sering melakukan aktivitas yang disukai itu," kata Eshleman.
Tenaga profesional akan mengevaluasi penyebab perubahan minat dan menangani gejala atau akar masalahnya.
8. Gampang marah
Pada anak dan remaja, kecemasan sering muncul dalam bentuk kegelisahan, mudah marah, dan reaksi cepat atau impulsif.
Sebaiknya anak diajak berkonsultasi ke tenaga profesional untuk dilakukan evaluasi. Anak juga akan dibantu menghadapi kekhawatiran itu lalu dikembangkan strategi guna penanganan lebih lanjut.
9. Perubahan pola makan
Seperti pola tidur, perubahan pola makan yang ekstrem bisa menandakan ada masalah pada kesehatan mental anak.
Selain pola makan, mengabaikan kebersihan diri juga bisa jadi tanda bahaya. Anak bisa saja menunjukkan gejala depresi atau kecemasan.
(els)