8 Kesalahan Orang tua yang Bikin Anak Merasa Kurang Disayangi

CNN Indonesia
Kamis, 20 Agu 2026 08:15 WIB
Ilustrasi. Ada beberapa sikap orang tua yang membuat anak merasa tidak disayangi. (Stocksnap/Leeroy)
Jakarta, CNN Indonesia --

Kesalahan yang membuat anak merasa kurang disayangi terkadang muncul dari hal-hal sederhana dalam kehidupan sehari-hari. Orang tua mungkin tidak bermaksud menyakiti atau mengabaikan anak, tetapi sikap tertentu dapat membuat anak merasa tidak cukup diperhatikan, dihargai, atau diterima.

Hubungan yang hangat antara orang tua dan anak menjadi salah satu fondasi penting bagi perkembangan emosional anak. Ketika kebutuhan emosional anak terpenuhi, mereka cenderung lebih mudah membangun rasa percaya diri dan merasa aman dalam menjalani berbagai tahap pertumbuhan.

Sebaliknya, pola komunikasi dan pengasuhan yang kurang tepat dapat membuat anak mempertanyakan penerimaan orangtuanya. Berikut sejumlah sikap yang sebaiknya dihindari agar anak tetap merasa dicintai dan dihargai:

1. Sering membandingkan anak dengan orang lain

Membandingkan anak dengan saudara, teman, atau anak lain dapat membuat mereka merasa tidak cukup baik. Kalimat seperti 'Kenapa kamu tidak bisa seperti kakak?' atau 'Lihat temanmu, dia lebih rajin' mungkin terdengar sebagai dorongan, tetapi justru dapat melukai kepercayaan diri anak.

Jika dilakukan terus-menerus, anak bisa menganggap dirinya hanya akan mendapatkan penghargaan ketika mampu menyamai pencapaian orang lain. Alih-alih membandingkan, orang tua dapat membantu anak mengenali kelebihan dan kekurangannya sendiri. Berikan apresiasi terhadap perkembangan anak sesuai kemampuan dan proses yang mereka jalani.

2. Mengabaikan usaha anak

Anak membutuhkan pengakuan terhadap proses, bukan hanya hasil. Ketika anak sudah berusaha mengerjakan sesuatu, tetapi orang tua hanya memperhatikan hasil akhirnya, anak dapat merasa bahwa usahanya tidak berarti.

Misalnya, anak mendapatkan nilai yang belum sesuai harapan setelah belajar keras. Respons seperti 'Kok nilainya cuma segini?' dapat membuat anak merasa kecewa dan tidak dihargai.

Orang tua dapat memberikan apresiasi terlebih dahulu terhadap usaha yang sudah dilakukan. Setelah itu, ajak anak mencari tahu bagian mana yang masih perlu diperbaiki.

3. Memberikan hukuman tanpa penjelasan

Disiplin memang diperlukan dalam pengasuhan. Namun, hukuman yang diberikan tanpa penjelasan dapat membuat anak bingung mengenai kesalahan yang dilakukan.

Anak juga dapat merasa bahwa orang tua marah karena tidak menyukai dirinya, bukan karena ingin memperbaiki perilakunya.

Karena itu, jelaskan alasan di balik aturan dan konsekuensi yang diberikan. Bedakan antara perilaku yang perlu diperbaiki dengan pribadi anak. Anak perlu memahami bahwa melakukan kesalahan tidak membuat dirinya kehilangan kasih sayang orang tua.

4. Menuntut anak memenuhi ekspektasi berlebihan

Orang tua tentu memiliki harapan terhadap masa depan anak. Namun, ekspektasi yang terlalu tinggi dan tidak sesuai dengan kemampuan atau minat anak justru dapat menjadi beban.

Anak mungkin akhirnya berpikir bahwa kasih sayang orang tua bergantung pada prestasi. Mereka merasa harus selalu mendapatkan nilai bagus, memenangkan perlombaan, atau memenuhi standar tertentu agar bisa membuat orang tua bangga.

Orang tua sebaiknya menetapkan harapan yang realistis dan tetap memberikan ruang bagi anak untuk gagal. Dorongan untuk berkembang perlu berjalan beriringan dengan penerimaan terhadap kemampuan anak.

5. Tidak menyediakan waktu untuk anak

Kesibukan orang tua merupakan hal yang wajar. Namun, anak tetap membutuhkan kehadiran dan perhatian. Tidak selalu harus dalam bentuk aktivitas khusus, waktu singkat untuk berbicara, bermain, makan bersama, atau mendengarkan cerita anak juga dapat berarti.

Ketika orang tua terus-menerus tidak tersedia secara fisik maupun emosional, anak dapat merasa dirinya bukan prioritas. Karena itu, usahakan menyediakan waktu berkualitas bersama anak. Yang terpenting bukan selalu lamanya waktu, melainkan perhatian yang diberikan selama bersama.

6. Terlalu sering mengkritik anak

Kritik yang disampaikan tanpa mempertimbangkan perasaan anak dapat membuat mereka merasa tidak pernah cukup baik. Terlebih jika kritik diarahkan pada karakter, seperti menyebut anak malas, bodoh, nakal, atau tidak berguna.

Orang tua sebaiknya fokus pada perilaku yang perlu diperbaiki, bukan memberikan label kepada anak. Misalnya, daripada mengatakan 'Kamu memang malas', lebih baik mengatakan, 'Tugasmu belum selesai. Yuk, kita cari tahu apa yang membuat kamu kesulitan'.

Dengan cara tersebut, anak memahami bahwa perilakunya dapat diperbaiki tanpa merasa dirinya ditolak.

7. Mematahkan semangat anak untuk mencoba

Rasa ingin tahu merupakan bagian penting dari perkembangan anak. Namun, kekhawatiran orang tua terkadang membuat mereka terlalu sering melarang atau meremehkan keinginan anak untuk mencoba sesuatu.

Ucapan seperti 'Kamu pasti tidak bisa' atau 'Jangan coba-coba, nanti gagal' dapat membuat anak takut mengambil kesempatan baru. Selama aktivitas tersebut aman dan sesuai usia, berikan anak kesempatan untuk bereksplorasi. Ketika gagal, bantu mereka memahami bahwa kegagalan merupakan bagian dari proses belajar.

8. Menerapkan aturan dan disiplin secara tidak konsisten

Aturan yang berubah-ubah dapat membuat anak bingung. Misalnya, suatu perilaku dilarang pada satu hari, tetapi dibiarkan pada hari berikutnya tanpa alasan yang jelas.

Ketidakkonsistenan tersebut dapat membuat anak kesulitan memahami batasan sekaligus merasa kurang mendapatkan rasa aman dari lingkungan keluarga. Orang tua sebaiknya membuat aturan yang jelas dan menerapkannya secara konsisten. Jika aturan perlu diubah, jelaskan alasannya kepada anak agar mereka dapat memahami perubahan tersebut.

(tis/tis)


KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK