Gejala ISPA Akibat Kabut Asap yang Perlu Diwaspadai

CNN Indonesia
Kamis, 20 Agu 2026 08:35 WIB
Petugas pemadam kebakaran berusaha memadamkan api di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatiwaringin, Kabupaten Tangerang, Banten, Kamis (02/07/2026).  (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Ilustrasi. Awas kabut asap bikin masalah di pernapasan. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Daftar Isi
Jakarta, CNN Indonesia --

Gejala ISPA akibat kabut asap perlu diwaspadai masyarakat yang tinggal di wilayah terdampak kebakaran hutan dan lahan. Paparan asap dalam waktu tertentu dapat mengganggu saluran pernapasan, terutama pada anak-anak, lansia, dan orang dengan kondisi kesehatan tertentu.

Kabut asap akibat kebakaran hutan di sejumlah wilayah Kalimantan dilaporkan semakin parah. Kondisi asap yang kian parah bahkan disebut telah sampai ke negara tetangga, yakni Singapura hingga Malaysia.

Bukan cuma itu, asap yang telah merusak jarak pandang ini juga ditakutkan memicu sejumlah penyakit pernapasan, salah satunya ISPA.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

ISPA merupakan salah satu masalah kesehatan yang cukup sering menyebabkan masyarakat berobat ke fasilitas kesehatan. Kondisi ini dapat menyerang siapa saja, tetapi anak-anak dan lansia termasuk kelompok yang lebih rentan karena sistem pertahanan tubuh mereka relatif lebih lemah.

Apa itu ISPA?

ISPA merupakan infeksi yang menyerang saluran pernapasan. Infeksi dapat terjadi pada saluran pernapasan bagian atas, seperti hidung, sinus, tenggorokan, hingga pita suara, maupun saluran pernapasan bagian bawah yang melibatkan bronkus dan paru-paru.

Secara umum ISPA dapat dibedakan menjadi dua kelompok, yakni pneumonia atau radang paru-paru dan ISPA bukan pneumonia yang umumnya menimbulkan keluhan seperti batuk dan pilek.

Penyebab ISPA, misalnya virus influenza, Rotavirus, bakteri Streptococcus pneumoniae, hingga bakteri Staphylococcus aureus.

Meski demikian, paparan kabut asap juga dapat mengiritasi saluran pernapasan dan memperburuk keluhan pernapasan yang sudah ada. Karena itu, masyarakat di wilayah yang kualitas udaranya memburuk perlu lebih waspada.

Gejala ISPA akibat kabut asap

Gejala ISPA akibat kabut asap dapat menyerupai gangguan pernapasan lainnya. Beberapa keluhan yang perlu diperhatikan antara lain:

• Bersin, hidung tersumbat, dan pilek, yang umum ditemukan pada infeksi saluran pernapasan atas.
• Batuk dan nyeri tenggorokan, yang dapat muncul akibat peradangan atau iritasi saluran pernapasan.
• Suara serak, terutama ketika peradangan mengenai laring atau kotak suara.
• Nyeri dada dan batuk, yang dapat ditemukan pada gangguan saluran pernapasan seperti bronkitis.
• Demam, terutama ketika keluhan disebabkan oleh infeksi.
• Sesak atau kesulitan bernapas, yang perlu mendapat perhatian lebih karena dapat menandakan gangguan pernapasan yang lebih serius.
• Nyeri otot atau myalgia.
• Penurunan berat badan pada kondisi yang berlangsung lebih lama.

Pada kondisi pneumonia, gejala dapat berupa batuk, demam, sesak napas, hingga napas menjadi lebih cepat. Keluhan yang semakin berat sebaiknya tidak ditangani sendiri terlalu lama.

Cara melindungi diri saat kabut asap

Ketika kabut asap semakin pekat, langkah paling penting adalah mengurangi paparan. Masyarakat sebaiknya membatasi aktivitas di luar ruangan, terutama ketika kualitas udara sedang buruk.

Jika harus keluar rumah, gunakan masker yang mampu menyaring partikel udara dengan baik. Pastikan masker terpasang rapat sehingga udara dari luar tidak mudah masuk melalui celah.

Selain itu, tutup jendela dan pintu rumah ketika kondisi udara di luar sedang buruk. Jika tersedia, penggunaan alat penyaring udara di dalam ruangan juga dapat membantu mengurangi paparan partikel.

Jangan lupa mencukupi kebutuhan cairan dan beristirahat. Minuman hangat dapat membantu memberikan rasa nyaman pada tenggorokan, tetapi bukan merupakan pengobatan utama untuk infeksi.

Kapan harus ke dokter?

Masyarakat yang tinggal di daerah terdampak kabut asap perlu segera mencari pertolongan medis jika mengalami gejala yang semakin berat. Beberapa tanda yang perlu diwaspadai antara lain:

• Demam yang tidak kunjung membaik.
• Menggigil.
• Batuk yang semakin berat.
• Sesak atau kesulitan bernapas.
• Napas berbunyi seperti "ngik".
• Anak menjadi sangat lemas, lebih banyak diam, atau malas beraktivitas.
• Muntah berulang.
• Penurunan kesadaran.

Pada anak, orang tua sebaiknya tidak menunggu kondisi memburuk jika sudah terlihat kesulitan bernapas atau perubahan perilaku yang tidak biasa.

Kabut asap akibat kebakaran hutan bukan hanya mengganggu jarak pandang, tetapi juga dapat berdampak pada kesehatan pernapasan. Karena itu, masyarakat di wilayah Kalimantan yang terdampak perlu mengurangi paparan asap dan memperhatikan gejala ISPA akibat kabut asap.

(tis/tis)
placeholder