Kapan Anak Sebaiknya Mulai Tidur di Kamar Sendiri?
Sebagian orang tua mungkin bertanya-tanya kapan anak sebaiknya mulai tidur di kamar sendiri. Ada yang memilih memindahkan anak setelah bayi lebih besar, sementara lainnya menunggu hingga anak benar-benar siap tidur tanpa ditemani.
Sebenarnya, tidak ada batas usia tertentu yang secara medis mewajibkan anak mulai tidur di kamar sendiri. Hal yang lebih penting adalah memastikan anak tidur dengan aman, cukup, dan nyaman.
Bayi sebaiknya tidur sekamar dengan orang tua
Bagi bayi, tempat dan lokasi tidur perlu mendapat perhatian khusus. Pengaturan tidur yang tepat dapat membantu menurunkan risiko kematian terkait tidur.
Melansir American Academy of Pediatrics (AAP), bayi sebaiknya tidur di kamar yang sama dengan orang tua, tetapi di tempat tidur atau permukaan tidur yang terpisah. Pengaturan ini dianjurkan setidaknya selama enam bulan pertama dan, jika memungkinkan, hingga usia satu tahun.
Menurut AAP, berbagi kamar tanpa berbagi tempat tidur dapat menurunkan risiko kematian terkait tidur hingga sekitar 50 persen. Risiko tersebut juga paling tinggi ketika bayi masih berusia enam bulan pertama.
Karena itu, bayi tidak dianjurkan langsung tidur di kamar terpisah sejak lahir hanya agar terbiasa mandiri. Keselamatan tidur tetap menjadi prioritas pada masa ini.
Lalu, kapan anak boleh pindah kamar?
Setelah usia enam bulan, anak masih dianjurkan tidur sekamar dengan orang tua karena pengaturan tersebut memberikan perlindungan tambahan. AAP juga menyebut belum ada cukup bukti untuk menentukan kapan tepatnya bayi aman dipindahkan ke kamar terpisah sebelum berusia satu tahun.
Setelah melewati usia satu tahun, tidak ada rekomendasi medis yang menetapkan anak harus tetap tidur sekamar dengan orang tua. Artinya, keputusan untuk mulai memindahkan anak ke kamar sendiri dapat disesuaikan dengan kondisi dan kesiapan masing-masing keluarga.
Orang tua dapat mulai mempertimbangkan beberapa hal, seperti apakah anak sudah nyaman dengan rutinitas tidur, mampu menenangkan diri ketika terbangun, serta apakah lingkungan kamar sudah aman dan mendukung waktu istirahatnya.
Tidur sendiri bukan berarti harus langsung mandiri
Ada hal lain yang kerap tercampur ketika membahas anak tidur sendiri. Tidur di kamar sendiri berbeda dengan kemampuan anak untuk tertidur tanpa ditemani orang tua.
Anak mungkin sudah tidur di kamar sendiri, tetapi masih membutuhkan orang tua untuk membacakan cerita, menemaninya hingga mengantuk, atau menjalani rutinitas tertentu sebelum tidur. Hal tersebut tidak otomatis berarti anak belum siap tidur sendiri.
Yang juga penting diperhatikan adalah durasi dan kualitas tidur anak. Anak membutuhkan waktu tidur yang berbeda sesuai dengan usianya.
Untuk anak usia 1-2 tahun, WHO merekomendasikan waktu tidur selama 11-14 jam dalam sehari, termasuk tidur siang. Sementara itu, anak usia 3-4 tahun membutuhkan sekitar 10-13 jam tidur per hari, termasuk tidur siang.
Tidak perlu terburu-buru
Jadi, tidak ada satu usia yang bisa dijadikan patokan bahwa semua anak harus mulai tidur di kamar sendiri. Pada masa bayi, keselamatan tidur menjadi prioritas. Bayi sebaiknya tidur di kamar yang sama dengan orang tua, tetapi di tempat tidur yang terpisah, terutama selama enam bulan pertama.
Setelah anak lebih besar, orang tua dapat mempertimbangkan kesiapan anak dan kondisi keluarga. Perpindahan kamar juga tidak harus dilakukan secara mendadak. Orang tua dapat memperkenalkan kamar baru secara bertahap, misalnya dengan membangun rutinitas tidur yang konsisten dan membuat anak merasa nyaman dengan ruang tersebut.
Yang terpenting, kapan anak mulai tidur di kamar sendiri bukan sekadar soal usia. Keselamatan, kecukupan tidur, kenyamanan, dan kesiapan anak juga perlu menjadi pertimbangan sebelum orang tua mengambil keputusan.
(anm/tis)