Ternyata Ini Alasan Anak Suka Memukul Seenaknya
Melihat anak memukul orang lain tentu dapat membuat orang tua kaget dan bingung menentukan respons yang tepat. Kekhawatiran juga bisa muncul ketika perilaku tersebut mulai sering terjadi, terutama jika orang tua takut anak terbiasa menggunakan kekerasan saat marah atau tidak mendapatkan apa yang diinginkan.
Pada usia tertentu, memukul dapat menjadi salah satu cara anak meluapkan emosi yang belum mampu disampaikan melalui kata-kata. Anak masih belajar mengenali rasa marah, kecewa, dan frustrasi, sekaligus mengendalikan dorongan untuk langsung bertindak.
Lantas, bagaimana cara orang tua menghadapi anak yang suka memukul? Berikut beberapa cara yang bisa dilakukan:
1. Hentikan dengan tenang dan tegas
Ketika anak memukul, orang tua tetap perlu memberikan batas yang jelas. Sampaikan dengan tenang dan singkat bahwa memukul bukan perilaku yang diperbolehkan.
Tidak perlu berteriak, mengancam, atau mempermalukan anak. Respons yang tenang membantu orang tua tetap menunjukkan batas sekaligus memberi contoh bagaimana menghadapi emosi tanpa kekerasan.
Pedoman pengasuhan dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga menekankan pentingnya aturan yang jelas, arahan positif, serta disiplin tanpa kekerasan dalam pengasuhan anak.
2. Jangan membalas dengan pukulan
Membalas pukulan anak dengan pukulan bukan cara yang tepat untuk mengajarkan disiplin. Hukuman fisik tidak memberikan manfaat bagi anak dan justru berkaitan dengan sejumlah dampak negatif, termasuk peningkatan agresivitas dan perilaku bermasalah.
Anak juga belajar dari apa yang dilihatnya. Ketika orang tua menggunakan kekerasan saat marah, anak dapat menangkap pesan bahwa memukul merupakan cara yang bisa digunakan untuk menghadapi sesuatu yang tidak disukai.
3. Bantu anak mengenali emosinya
Setelah anak mulai tenang, orang tua dapat membantunya memahami perasaan yang sedang muncul. Anak perlu belajar bahwa marah, kecewa, dan frustrasi merupakan emosi yang wajar, tetapi tidak semua tindakan boleh dilakukan untuk melampiaskannya.
Orang tua dapat membantu dengan memberi nama pada emosi anak dan menawarkan cara lain untuk mengungkapkannya.
Misalnya, "Kalau marah, bilang, 'Mama, aku tidak suka.' Kamu juga bisa panggil Mama. Tangannya tidak untuk memukul."
Pendekatan pengasuhan berbasis bukti juga menekankan pentingnya komunikasi, regulasi emosi, pemecahan masalah, serta hubungan positif antara orang tua dan anak.
4. Ajarkan apa yang boleh dilakukan sebagai gantinya
Anak tidak cukup hanya diberi tahu, 'Jangan memukul.' Mereka juga perlu mengetahui apa yang dapat dilakukan ketika marah atau kecewa.
Orang tua bisa mengajarkan anak untuk mengatakan perasaannya, meminta bantuan, menjauh sejenak dari situasi yang membuatnya marah, atau menggunakan cara lain yang sesuai dengan usianya untuk menenangkan diri.
Pendekatan ini sejalan dengan parent management training, yaitu metode yang membantu orang tua mengubah pola interaksi dengan anak, memberikan arahan yang jelas, serta memperkuat perilaku yang diharapkan.
Studi dalam Journal of the American Academy of Child & Adolescent Psychiatry menunjukkan bahwa pendekatan tersebut memiliki bukti yang kuat dalam menangani agresivitas dan perilaku disruptif pada anak.
5. Puji ketika anak berhasil menahan diri
Jangan hanya memperhatikan anak ketika melakukan kesalahan. Orang tua juga perlu memberikan perhatian ketika anak berhasil merespons situasi dengan cara yang lebih baik.
Misalnya, ketika anak kesal tetapi memilih berbicara daripada memukul, orang tua dapat memberikan pujian sederhana seperti, "Tadi kamu marah, tetapi kamu mau bilang. Itu bagus."
Penguatan positif atau positive reinforcement dapat membantu anak memahami perilaku yang diharapkan dan mendorongnya untuk mengulangi perilaku tersebut.
6. Perhatikan kapan anak biasanya memukul
Orang tua juga perlu mengamati situasi yang biasanya memicu perilaku memukul. Perilaku tersebut bisa muncul dalam kondisi tertentu, misalnya ketika anak:
• lelah atau lapar;
• mainannya diambil;
• kalah saat bermain;
• diminta berhenti bermain;
• berebut dengan saudara; atau
• sedang mencari perhatian.
Mengetahui pemicu dapat membantu orang tua mengantisipasi situasi sekaligus mengajarkan respons yang lebih tepat. Batas tetap perlu diberikan, tetapi dengan cara yang tidak menggunakan kekerasan. Konsistensi juga penting agar anak memahami bahwa aturan tersebut berlaku dalam berbagai situasi.
(anm/tis)