7 Cara Mendidik Anak agar Punya EQ Tinggi, Cerdas Secara Emosional

CNN Indonesia
Minggu, 13 Sep 2026 15:50 WIB
Cara mendidik anak agar punya EQ tinggi.
Ilustrasi. Cara mendidik anak agar punya EQ tinggi. (iStock/imtmphoto)
Daftar Isi
Jakarta, CNN Indonesia --

Kecerdasan emosional (EQ) merupakan kemampuan seseorang untuk memahami, menafsirkan, mengungkapkan, dan mengelola emosinya sendiri serta kemampuan dalam menjalin hubungan antarmanusia.

Kecerdasan emosional sama pentingnya dengan kecerdasan intelektual. Cara mendidik anak agar punya EQ tinggi akan berguna untuk buah hati kita di masa depan.

EQ akan menumbuhkan empati, mengelola emosi serta mengembangkan keterampilan sosial yang akan membantu mereka dalam menjalani kehidupan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Cara mendidik anak agar punya EQ tinggi

Mengutip Parents, studi yang dipublikasikan dalam American Journal of Public Health menemukan, keterampilan sosial dan emosional anak saat di taman kanak-kanak dapat memprediksi kesuksesan di masa depan.

Penelitian juga menemukan bahwa anak dengan kecerdasan emosional yang lebih tinggi akan memberikan perlindungan terhadap gangguan mental seperti depresi.

Berikut ini cara mendidik anak agar punya EQ tinggi:

1. Gunakan kata-kata perasaan untuk menyebutkan emosi anak

Kata-kata perasaan merupakan kata-kata yang menggambarkan berbagai macam emosi. Contohnya seperti terluka, marah, dan bahagia.

Anda dapat menggunakan daftar kata-kata perasaan untuk memperlihatkan kepada anak berbagai emosi yang mungkin mereka alami. Anda juga dapat mengajarkan cara menyebutkan nama-nama emosi tersebut.

Contohnya, saat Anda melihat anak sedang marah dapat berkata:

Ibu/Ayah perhatikan tanganmu mengepal dan kakimu menghentak-hentak. Sepertinya kamu sedang merasa sangat marah saat ini. Benar begitu?

Kata-kata yang berkaitan dengan emosi seperti marah, kesal, malu, dan sakit dapat membantu membangun kosakata untuk mengungkapkan perasaan. Meski demikian, jangan lupa untuk memperkenalkan juga kata-kata yang menggambarkan emosi positif seperti sukacita, bersemangat, sangat gembira, dan penuh harapan.

2. Tunjukkan empati

Saat anak sedang kesal dan tampak berlebihan, orang tua sering kali tanpa sadar menganggap remeh perasaan mereka. Komentar yang meremehkan dapat memberi kesan ada yang salah dengan perasaan mereka.

Pendekatan yang lebih baik adalah mengakui perasaan mereka dan menunjukkan empati, meskipun Anda tidak memahami alasan mereka kesal.

Contoh, jika anak menangis karena dilarang ke taman sebelum merapikan kamar, Anda bisa berkata:

Ibu/Ayah juga merasa kesal kalau tidak bisa melakukan apa yang diinginkan. Terkadang memang sulit untuk terus mengerjakan sesuatu saat kita sedang tidak ingin melakukannya.

3. Berikan contoh

Orang tua dapat memberikan contoh cara mengungkapkan perasaan yang tepat karena anak perlu mengetahui caranya.

Gunakan kata-kata yang menggambarkan perasaan dalam percakapan sehari-hari dan biasakan diri untuk membicarakannya. Anda bisa mengucapkan kalimat seperti:

Ibu merasa marah saat melihat anak-anak bersikap jahat di taman bermain atau Ayah merasa senang saat teman-teman kita datang untuk makan malam bersama.

Penelitian menunjukkan, orang tua yang memiliki kecerdasan emosional cenderung menerapkan pola asuh yang mendukung terbentuknya kecerdasan emosional pada anak.

4. Kembangkan keterampilan pemecahan masalah

Bagian dari membangun EQ adalah belajar cara memecahkan masalah. Setelah perasaan diidentifikasi dan ditangani, tibalah saatnya mencari cara mengatasi masalah itu sendiri.

Mungkin anak marah karena saudaranya terus mengganggu saat ia sedang bermain video game. Bantulah ia mengidentifikasi setidaknya lima cara untuk mengatasi masalah ini.

Setelah ia menemukan setidaknya lima kemungkinan solusi, bantulah anak menilai kelebihan dan kekurangan dari masing-masing solusi tersebut. Kemudian, doronglah ia untuk memilih opsi terbaik.

Saat anak melakukan kesalahan, bahaslah apa yang bisa dilakukan secara berbeda dan apa yang dapat ia lakukan untuk menyelesaikan masalah yang masih tersisa. Cobalah untuk berperan sebagai pembimbing, bukan sebagai pihak yang memecahkan masalah itu untuknya.

5. Renungkan bagaimana reaksi anak di masa lalu

ilustrasi orang tua dan anakIlustrasi. Cara mendidik anak agar EQ tinggi. (Istockphoto/ Fizkes)

Luangkan waktu untuk meninjau kembali situasi-situasi tertentu dan membahas bagaimana anak meresponsnya, ditambahkan oleh Understood.

Sebagai contoh, mungkin anak merasa frustrasi saat mengerjakan PR matematika dan meminta bantuan Anda. Jika reaksinya kurang tepat, seperti anak melempar buku matematika ke lantai, cobalah diskusikan tentang reaksi lain apa yang sebenarnya bisa dilakukan.

6. Cari cara untuk membantu orang lain

Bekerja sama untuk membantu orang lain dapat membuat anak menumbuhkan rasa empati. Anda bisa bergabung dalam kegiatan sukarela atau mengajak anak ikut serta saat mengantarkan paket bantuan bagi kerabat atau teman yang sedang sakit.

Anda bisa mempertimbangkan untuk memelihara hewan. Kewajiban mengajak anjing berjalan-jalan saat cuaca dingin atau hujan dapat menjadi pengingat bagi anak bahwa kebutuhan mereka tidak selalu harus didahulukan.

7. Cari tahu berbagai pilihan yang ada di sekolah maupun luar sekolah

Mungkin ada program sekolah yang dapat membantu anak mengembangkan keterampilan emosional. Cari tahu apakah sekolah memiliki kurikulum pembelajaran sosial dan emosional atau program 'teman makan siang' yang bisa diikuti oleh anak.

Anda juga bisa mempertimbangkan bantuan profesional di luar sekolah untuk masalah emosional. Mengikuti terapi dapat membantu anak belajar mengenali serta mengelola emosi mereka. Bahkan, beberapa terapis juga menyediakan kelompok latihan keterampilan sosial.

Demikianlah cara mendidik anak agar punya EQ tinggi. Semoga bermanfaat!

(glo/asr)