Karhutla Kepung Kalimantan, Dunia Awasi Habitat Orang Utan Terbesar
Karhutla (Kebakaran hutan dan lahan) yang terjadi di Kotawaringin Barat (Kobar), Kalimantan Tengah, terus meluas hingga beberapa minggu terakhir. Hingga saat ini, luas lahan yang terbakar di Kobar tercatat mencapai 800 hektare.
Kondisi ini menimbulkan perhatian karena lokasi karhutla yang berdekatan dengan kawasan konservasi Taman Nasional Tanjung Puting (TNTP) yang merupakan salah satu habitat terbesar di dunia bagi orang utan.
Pengawasan di kawasan TNTP diperketat untuk mencegah api meluas maupun dampak dari asap yang merembet ke habitat satwa liar, termasuk orang utan.
Kapolres Kobar AKBP Joko Handono telah melakukan pemantauan langsung terhadap kondisi TNTP, Minggu (23/8). Jajaran pejabat utama Polres Kobar dan pihak pengelola TNTP juga ikut melakukan pemantauan bersama.
Patroli tersebut dilakukan melalui jalur sungai sekaligus menggunakan drone untuk mendapatkan gambaran kondisi kawasan dari udara.
"Kami pantau langsung ke TNTP untuk melihat situasi dan kondisi terkini. Baik secara visual darat dengan susur sungai dan visual atas menggunakan drone," jelas Joko, Minggu (23/8), seperti dilansir Detik.
Berdasarkan pemantauan sementara, tidak ditemukan titik api maupun bekas kebakaran di sekitar kawasan TNTP. Meski demikian, pengawasan secara ketat tetap dilakukan mengingat kondisi cuaca yang panas dan kering serta asap karhutla yang berpotensi terbawa angin dari wilayah lain.
Joko Handono berpendapat bahwa ancaman bagi TNTP bukan hanya dari api. Asap tebal dari karhutla juga mengganggu jarak pandang dan aktivitas masyarakat serta wisatawan di sekitar kawasan taman nasional.
"Yang lebih dikhawatirkan, apabila kebakaran sampai memasuki kawasan konservasi, dampaknya bisa meluas terhadap ekosistem dan habitat berbagai satwa liar. Jika ada asap, habitat mereka rusak," kata Joko.
TNTP berada di atas lahan seluas 412.548,24 hektare. Taman Nasional ini menjadi salah satu kawasan penting bagi kehidupan orang utan, bekantan, burung enggang dan berbagai jenis satwa lainnya.
Menjaga kelestarian hutan sangat penting untuk dilakukan demi memastikan satwa-satwa tersebut tetap memiliki tempat berlindung dan mencari makan.
Patroli akan terus diperkuat bersama dengan pihak TNTP, Polairud dan Polsek Kumai untuk mengantisipasi karhutla meluas ke kawasan TNTP.
"Pengawasan juga dilakukan hingga Desa Sungai Sekonyer. Di wilayah tersebut, Joko berdialog dengan masyarakat dan aparatur desa sekaligus menyampaikan imbauan agar warga tidak membuka lahan dengan cara membakar," ujarnya.
Berbagai lapisan masyarakat, wisatawan, nelayan, serta pemancing ikan dan udang juga diminta untuk tetap meningkatkan kewaspadaan ketika beraktivitas di sekitar kawasan TNTP.
Pihak kepolisian mengimbau agar aktivitas yang dapat memicu kebakaran seperti merokok, memasak, membakar ikan maupun membuat perapian dilakukan secara hati-hati.
Dalam kondisi cuaca yang kering, masyarakat diminga untuk tidak ditinggalkan api begitu saja karena percikan kecil dapat memicu kebakaran.
"Kami imbau juga kepada nelayan, pemancing udang atau ikan. Apabila beristirahat supaya tidak membakar ikan dan membuat perapian," tegas Joko.
Polisi juga berharap agar masyarakat ikut serta menjaga kawasan TNTP dari ancaman karhutla. Langkah pencegahan sangag penting untuk dilakukan agar kebakaran tersebut tidak memasuki kawasan konservasi dan mengancam habitat satwa dilindungi.
"Semoga dengan kegiatan ini dan mohon dukungan semua pihak, baik instansi terkait dan masyarakat, supaya situasi tetap kondusif. Semoga kondisi panas dan kering saat ini segera mereda, hujan segera turun dan situasi kembali normal," Joko menambahkan.
(dsd/wiw)