Padel di Spanyol hingga Maraton di Tokyo, Tren Fitness Travel Meroket
Biasanya, orang menghabiskan waktu liburan dengan beristirahat dan bersantai, seperti berjemur sambil menikmati sinar matahari serta bermain di pantai.
Namun, belakangan ini muncul tren baru untuk menghabiskan waktu liburan. Wisatawan mulai mengganti rutinitas bersantai, dengan aktivitas yang menguras keringat.
Seperti dilansir Far Out Magazine, tren tersebut kemudian dikenal dengan istilah fitness travel, yakni tren perjalanan yang menjadikan aktivitas fisik sebagai bagian utama liburan. Dalam tren ini, Strava (aplikasi pelacak kebugaran) memegang salah satu peran penting.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Generasi muda mulai meninggalkan kebiasaan lama dan beralih ke aktivitas yang lebih menyehatkan. Memberi perhatian terhadap kesehatan dan citra tubuh tidak hanya memengaruhi rutinitas sehari-hari, tapi juga cara mereka menghabiskan waktu liburan.
Hal ini dapat tercerminkan dari data perjalanan. Strava melakukan survei terhadap lebih dari 30.000 orang dan menemukan bahwa Gen Z menganggap aktivitas kebugaran saat berlibur 23 persen lebih penting dibandingkan Gen X.
Berbeda dengan wellness travel yang membuat generasi milenial berbondong-bondong ke Bali untuk mengikuti retret yoga dan melakukan detoks dengan jus sayuran, fitness travel lebih menyenangkan dan aktif.
Padel menjadi salah satu olahraga yang saat ini digandrungi banyak orang. Olahraga ini berkembang dengan cepat di Eropa, khususnya Inggris. Meski tergolong baru, banyak klub padel yang bermunculan di berbagai tempat.
Sementara itu, pelatih dan pemain padel terbaik di Eropa banyak berada di Spanyol, sehingga membuat Spanyol menjadi pilihan bagi banyak wisatawan yang ingin berlatih dan meningkatkan kemampuan bermain padel.
Tren olahraga lainnya adalah lari. Dahulu maraton dianggap sebagai pencapaian olahraga tertinggi bagi masyarakat umum, namun kini telah berkembang menjadi tujuan wisata global.
Para pelari tersebut berwisata untuk menjelajahi berbagai negara dan benua sambil mengejar catatan waktu terbaiknya.
Saat ini Tokyo menjadi destinasi populer untuk wisata maraton. Pada 2025, dilaporkan bahwa 18.000 dari 38.000 pelari Tokyo Marathon berasal dari luar Jepang, mewakili 130 negara dan wilayah di seluruh dunia.
Selain Tokyo, Kota Berlin di Jerman juga dikenal dengan medannya yang relatif datar, dan Amerika Serikat juga memiliki sejumlah maraton kelas dunia.
Wisatawan yang melakukan melakukan maraton akan menyusun seluruh rencana liburan berdasarkan aktivitas lari. Bahkan, cara ini sebelumnya memungkinkan turis asing masuk ke Korea Utara dengan mengikuti Pyongyang Marathon.
Sayangnya, pelari asing tidak diizinkan mengikuti ajang tersebut pada 2026 dan acara kemudian dibatalkan karena alasan yang tidak disebutkan. Namun, mereka diperkirakan dapat kembali mengikuti ajang tersebut pada 2027.
Hyrox juga menjadi bagian tren fitness travel. Olahraga yang memadukan antara perlombaan kebugaran dan berbagai tantangan fisik itu, kini digemari berbagai kalangan di dunia. Nyatanya, saat ini orang-orang semakin serius memperhatikan kesehatan. Secara umum, hal tersebut merupakan sesuatu yang positif.
Namun, sebagian orang justru mengubah perjalanan kebugaran menjadi sebuah obsesi. Bagi sebagian orang, liburan akan dipadukan dengan pencapaian seberapa banyak dirinya beraktivitas.
Hingga saat ini, fitness travel diperkirakan akan terus berkembang dalam beberapa tahun ke depan dan membawa perubahan besar dalam cara wisatawan memandang liburan dan waktu luang.
(dsd/wiw)