Dokter Sebut Gaya Hidup Sehat Tak Jamin Bebas dari Limfoma

CNN Indonesia
Jumat, 28 Agu 2026 02:00 WIB
Gaya hidup sehat sekalipun tak menjamin seseorang bebas dari ancaman limfoma.
Ilustrasi. Gaya hidup sehat sekalipun tak menjamin seseorang bebas dari ancaman limfoma. (PDPics/Pixabay)
Jakarta, CNN Indonesia --

Seorang perempuan asal Tangerang, Naya Nika Mulyani (30), harus menghadapi diagnosis limfoma atau kanker getah bening stadium 4 yang telah bermetastasis ke otak.

Diagnosis tersebut menjadi pukulan besar bagi Naya, terlebih ia merasa selama ini telah menjalani gaya hidup yang cukup sehat.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Karena, lifestyle aku tuh cukup baik. Aku olahraga, makan aku juga terjaga, aku enggak ngerokok, aku enggak minum [alkohol], aku juga jarang begadang," ujar Naya dalam unggahan akun Instagram milik pribadinya. CNNIndonesia.com telah meminta izin untuk mengutip unggahan tersebut.

Lalu, apa sebenarnya yang menyebabkan seseorang bisa mengalami limfoma?

Dokter spesialis penyakit dalam Ario Perbowo Putra mengatakan, limfoma terjadi pada limfosit, salah satu jenis sel darah putih. Limfoma terjadi saat limfosit mengalami perubahan genetik hingga tubuh secara tidak terkendali.

"Pada sebagian besar pasien, penyebab tunggal mengapa perubahan tersebut terjadi tidak dapat ditentukan," kata Ario kepada CNNIndonesia.com, Kamis (27/8).

Menurutnya, ada sejumlah kondisi yang dapat meningkatkan risiko limfoma. Di antaranya gangguan atau penurunan sistem imun, termasuk HIV dan penggunaan obat penekan imun.

Infeksi tertentu juga dapat meningkatkan risiko pada jenis limfoma tertentu, seperti Epstein-Barr virus, hepatitis C, dan bakteri H. pylori. Selain itu, penyakit autoimun tertentu, riwayat terapi radiasi atau kemoterapi, serta faktor usia, genetik, dan riwayat keluarga juga dapat berperan, bergantung pada jenis limfoma.

"Namun, faktor risiko bukan berarti penyebab pasti. Banyak pasien limfoma tidak memiliki faktor risiko yang jelas," tutur Ario.

Gaya hidup sehat bukan jaminan bebas kanker

Kondisi tersebut juga menjelaskan mengapa seseorang yang rutin berolahraga, menjaga pola makan, tidak merokok, atau tidak mengonsumsi alkohol tetap dapat mengalami limfoma.

"Sebaliknya, memiliki pola makan sehat, rajin berolahraga, tidak merokok, dan menjaga berat badan memang sangat bermanfaat, tetapi tidak dapat memberikan perlindungan 100 persen terhadap seluruh kanker," kata Ario.

Karena itu, diagnosis limfoma tidak berarti seseorang sebelumnya menjalani gaya hidup yang buruk. Pada banyak kasus, penyebab pasti perubahan sel yang memicu limfoma memang tidak dapat diketahui.

(anm/asr)
placeholder