Paparan Asap Karhutla bisa Picu Pneumonia, Begini Prosesnya

CNN Indonesia
Senin, 31 Agu 2026 18:30 WIB
Paparan asap akibat karhutla disebut bisa memicu pneumonia.
Ilustrasi. Paparan asap akibat karhutla disebut bisa memicu pneumonia. (iStockphoto/Morsa Images)
Daftar Isi
Jakarta, CNN Indonesia --

Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tidak hanya mengganggu jarak pandang. Partikel yang ikut terhirup dapat masuk jauh ke dalam paru-paru dan mengganggu sistem pertahanan alami organ tersebut.

Kondisi ini dapat membuat paru lebih rentan terhadap infeksi yang kemudian berkembang menjadi pneumonia.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Asap bisa masuk hingga ke bagian dalam paru

Salah satu komponen yang perlu diwaspadai dari kabut asap adalah particulate matter (PM), terutama PM2.5. Partikel ini berukuran sangat kecil, yakni berdiameter tidak lebih dari 2,5 mikrometer.

Ukurannya yang kecil memungkinkan PM2.5 melewati saluran pernapasan bagian atas dan masuk ke bagian paru yang lebih dalam, termasuk alveolus, tempat terjadinya pertukaran oksigen.

Paru sebenarnya memiliki sistem pertahanan untuk menangkap dan mengeluarkan partikel asing maupun mikroorganisme yang ikut terhirup. Namun, paparan asap dapat mengganggu mekanisme tersebut.

Sistem pembersih paru ikut terganggu

Melansir Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC), saluran pernapasan memiliki mekanisme alami yang disebut mucociliary clearance. Mekanisme ini bekerja seperti sistem pembersih di dalam saluran napas.

Lendir menangkap partikel dan mikroorganisme yang masuk, kemudian silia atau rambut-rambut kecil di saluran napas menggerakkan lendir tersebut ke arah tenggorokan untuk dikeluarkan atau ditelan.

Paparan partikel dapat mengurangi efektivitas mekanisme tersebut. Produksi beberapa zat antimikroba yang membantu melawan mikroorganisme juga dapat terganggu. Akibatnya, bakteri maupun partikel asing yang seharusnya dibersihkan dapat bertahan lebih lama di saluran pernapasan.

Selain itu, di dalam paru juga terdapat sel imun yang disebut alveolar macrophage. Sel ini berperan menangkap dan menghancurkan mikroorganisme serta partikel asing yang masuk ke paru.

Mengutip Particle and Fibre Toxicology, paparan particulate matter dapat mengganggu kemampuan makrofag melakukan fagositosis, yakni proses ketika sel tersebut menangkap dan menghancurkan bakteri.

Salah satu bakteri yang dapat terpengaruh adalah Streptococcus pneumoniae, yang merupakan salah satu penyebab pneumonia.

Sederhananya, paparan asap dapat membuat salah satu petugas kebersihan di dalam paru tidak bekerja seoptimal biasanya.

Bukan cuma mengganggu, asap juga memicu peradangan

Asap kebakaran juga dapat mengganggu epithelial barrier, yakni lapisan sel yang menjadi salah satu pertahanan pertama saluran pernapasan. Ketika pertahanan tersebut terganggu, mikroorganisme yang masuk ke paru memiliki peluang lebih besar untuk bertahan dan menyebabkan infeksi.

Pneumonia sendiri merupakan infeksi pada jaringan paru yang dapat disebabkan oleh bakteri, virus, maupun jamur.

Karena itu, asap bukan penyebab infeksi yang secara langsung 'berubah menjadi' pneumonia. Asap lebih tepat disebut sebagai faktor yang dapat mengganggu pertahanan paru sehingga risiko terjadinya infeksi meningkat.

Kabut asap karhutla memang tidak secara langsung menyebabkan pneumonia. Paparan asap dapat melemahkan sejumlah mekanisme pertahanan paru, sehingga organ tersebut menjadi lebih rentan terhadap infeksi yang dapat berujung pada pneumonia.

(anm/asr)