Kenali Jenis-jenis Selingkuh, Biar Tidak Khianati Pasangan

CNN Indonesia
Jumat, 04 Sep 2026 04:30 WIB
Ilustrasi. Ternyata selingkuh ada banyak jenisnya. (iStockphoto)
Jakarta, CNN Indonesia --

Perselingkuhan dalam pernikahan sering kali identik dengan hubungan seksual dengan orang lain. Padahal, pengkhianatan terhadap pasangan tidak selalu dimulai dari hubungan fisik.

Di era media sosial, bentuk perselingkuhan juga dapat muncul lewat interaksi yang terlihat sederhana, seperti berkirim pesan secara intens, memberikan komentar bernada genit, hingga diam-diam menyukai unggahan lawan jenis.

Tentu, tidak setiap like atau komentar di media sosial dapat langsung disebut sebagai perselingkuhan. Namun, ketika interaksi tersebut dilakukan secara diam-diam, berulang, memiliki nuansa romantis, atau sengaja disembunyikan dari pasangan, hal itu dapat menjadi masalah dalam hubungan.

Dalam sejumlah literatur mengenai hubungan dan pernikahan, perselingkuhan dikenal memiliki beragam bentuk, mulai dari seksual, emosional, finansial, hingga perilaku yang sering dianggap sepele seperti micro-cheating. Lantas, apa saja jenis perselingkuhan yang perlu dikenali, berikut jenisnya melansir berbagai sumber:

Jenis-jenis perselingkuhan

1. Selingkuh secara seksual

Perselingkuhan seksual merupakan bentuk yang paling mudah dikenali. Kondisi ini terjadi ketika seseorang melakukan hubungan intim dengan orang lain di luar pasangan atau pernikahannya. Tindakan tersebut secara langsung melanggar kesepakatan eksklusivitas seksual dalam hubungan.

Dalam beberapa kasus, perubahan perilaku pasangan dapat menjadi tanda yang perlu diperhatikan, misalnya mulai menjaga jarak secara fisik, menghindari keintiman, atau menunjukkan perubahan mendadak dalam kehidupan seksual. Namun, perubahan tersebut tentu tidak serta-merta membuktikan adanya perselingkuhan. Komunikasi tetap menjadi cara terbaik untuk memahami perubahan dalam hubungan.

2. Selingkuh online

Perkembangan media sosial dan aplikasi percakapan membuat perselingkuhan tidak harus melibatkan pertemuan secara langsung. Selingkuh online dapat terjadi ketika seseorang menjalin komunikasi secara intens dengan orang lain melalui chat, panggilan, atau video call dengan muatan romantis maupun seksual.

Hubungan tersebut bahkan dapat berkembang menjadi ikatan emosional meski kedua orang tersebut belum pernah bertemu secara langsung. Bagi pasangan, hal ini tetap dapat terasa seperti pengkhianatan, terutama jika komunikasi tersebut sengaja disembunyikan atau melibatkan percakapan yang seharusnya tidak dilakukan di luar hubungan.

3. Selingkuh finansial

Perselingkuhan tidak selalu berkaitan dengan perasaan atau hubungan romantis. Masalah keuangan juga dapat menjadi bentuk pengkhianatan dalam rumah tangga. Selingkuh finansial terjadi ketika seseorang menyembunyikan pengeluaran, utang, aset, atau penggunaan uang dari pasangannya.

Contohnya, seseorang diam-diam menggunakan tabungan bersama untuk memberikan hadiah kepada orang lain atau menyembunyikan utang yang dapat berdampak pada kondisi keuangan keluarga. Selain merusak kepercayaan, kebiasaan tersebut berpotensi menimbulkan masalah ekonomi yang lebih besar dalam rumah tangga.

4. Selingkuh secara emosional

Perselingkuhan emosional terjadi ketika seseorang mulai membangun kedekatan emosional yang sangat kuat dengan orang lain di luar pasangannya. Orang tersebut bisa menjadi tempat utama untuk mencurahkan masalah, berbagi rahasia, mencari dukungan, hingga mendapatkan rasa nyaman yang sebelumnya diperoleh dari pasangan.

Perselingkuhan emosional sering dianggap tidak berbahaya karena tidak melibatkan kontak fisik. Padahal, kedekatan emosional yang terlalu intens dapat membuat pasangan merasa tersisih. Terlebih jika seseorang justru lebih memilih menceritakan hal-hal penting kepada orang lain daripada kepada pasangan.

5. Memiliki dan memelihara perasaan romantis kepada orang lain

Perasaan terhadap orang lain terkadang muncul tanpa direncanakan. Namun, tindakan seseorang dalam merespons perasaan tersebut tetap menjadi pilihan.

Memiliki ketertarikan kepada orang lain tidak selalu berarti seseorang telah berselingkuh. Masalah dapat muncul ketika perasaan tersebut sengaja dipelihara dan diwujudkan melalui tindakan romantis secara diam-diam.

Misalnya, memberikan perhatian berlebihan, memberikan hadiah, mencari kesempatan untuk berduaan, atau sengaja meluangkan banyak waktu bersama orang yang disukai. Dalam kondisi seperti ini, batas antara sekadar ketertarikan dan perilaku yang mengkhianati pasangan menjadi semakin tipis.

6. Micro-cheating

Istilah micro-cheating merujuk pada perilaku-perilaku kecil yang dapat menunjukkan adanya ketertarikan atau keterlibatan dengan orang lain di luar hubungan. Contohnya seperti diam-diam menghubungi mantan, aktif menggunakan aplikasi kencan meski hanya dianggap sebagai hiburan, mengirim pesan bernada genit, atau menyembunyikan interaksi tertentu dari pasangan.

Termasuk di antaranya memberikan like dan komentar secara intens kepada lawan jenis dengan cara yang membuat pasangan merasa tidak nyaman. Meski terlihat sepele, perilaku tersebut dapat menjadi masalah ketika dilakukan berulang kali, memiliki maksud romantis, atau sengaja disembunyikan.

Karena itu, sebuah like tidak bisa langsung disebut sebagai perselingkuhan. Konteks, frekuensi, niat, dan kesepakatan dalam hubungan perlu diperhatikan.

7. Commemorative cheating

Jenis perselingkuhan ini terjadi ketika seseorang merasa sudah tidak memiliki cinta atau kedekatan emosional dengan pasangannya, tetapi tetap mempertahankan pernikahan karena alasan tertentu. Misalnya, demi anak, tekanan sosial, kondisi ekonomi, atau kewajiban keluarga.

Dalam situasi tersebut, seseorang mungkin merasa memiliki alasan untuk mencari kebahagiaan bersama orang lain secara diam-diam.Perselingkuhan dapat terjadi dalam bentuk emosional maupun seksual. Masalahnya, keputusan untuk menjalin hubungan baru secara sembunyi-sembunyi tetap berpotensi menghancurkan kepercayaan dalam pernikahan.

Jadi, apakah like lawan jenis termasuk selingkuh?

Jawabannya tidak bisa disamaratakan. Memberikan like pada unggahan lawan jenis pada dasarnya merupakan aktivitas biasa di media sosial. Namun, konteksnya dapat berubah ketika tindakan tersebut dilakukan secara intens, disertai komentar atau pesan bernada romantis, dan sengaja disembunyikan dari pasangan.

Setiap pasangan juga memiliki batasan yang berbeda mengenai perilaku yang dianggap melanggar kepercayaan. Ada pasangan yang menganggap interaksi di media sosial sebagai hal biasa, sementara pasangan lainnya merasa tidak nyaman jika pasangannya terlalu dekat dengan lawan jenis di dunia maya.

Karena itu, persoalan utamanya bukan sekadar tombol like, melainkan kepercayaan, batasan, niat, dan keterbukaan dalam hubungan. Jika sebuah interaksi memang tidak bermasalah, seharusnya tidak perlu ada dorongan kuat untuk menyembunyikannya dari pasangan.

(tis/tis)


KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK