WHO Ungkap 7 Faktor Risiko Baru Demensia, Salah Satunya Polusi Udara
Badan Kesehatan Dunia (WHO) ungkap tujuh faktor risiko baru demensia. Sebagian faktor risiko ternyata bisa dimodifikasi.
WHO merilis pembaruan pada pedoman mengenai pengurangan risiko penurunan kognitif dan demensia. Terdapat tujuh kondisi kesehatan yang menambah deret faktor risiko demensia.
Lihat Juga : |
Deret faktor risiko ini menambah daftar 12 faktor risiko yang sudah ada sebelumnya yakni,
- kurang aktivitas kognitif,
- isolasi sosial,
- kurang aktivitas fisik,
- penggunaan alkohol,
- penggunaan tembakau,
- pola makan atau nutrisi tidak sehat,
- obesitas,
- diabetes,
- hipertensi,
- disiplidemia,
- gangguan pendengaran, dan
- depresi.
Faktor risiko baru demensia
Sebanyak tujuh faktor risiko baru demensia menurut WHO antara lain, stroke, cedera otak traumatis, gangguan penglihatan, masalah tidur, HIV, polusi udara, dan terapi hormon menopause.
Hingga kini, belum ada obat yang dapat menyembuhkan demensia. Namun melansir dari laman resmi WHO, dari semua faktor risiko demensia, sebanyak 45 persen di antaranya dapat dimodifikasi seperti, penggunaan tembakau, isolasi sosial, kurang aktivitas fisik, polusi udara, serta penyakit tidak menular.
1. Terapi hormon menopause
WHO tidak merekomendasikan terapi hormon menopause secara khusus untuk mencegah demensia pada wanita pascamenopause usia 65 tahun ke atas.
Belum ada bukti bahwa terapi hormon menopause dapat mencegah demensia meski perubahan hormonal selama menopause bisa memengaruhi mood dan daya ingat.
2. Stroke
American Stroke Association menyebut stroke terjadi saat aliran darah ke bagian otak terhambat atau ketika pembuluh darah di dalam atau dekat otak pecah.
Menurut Daniel Amen, pendiri Amen Clinics di California, kondisi yang memengaruhi jantung dan pembuluh darah juga dapat berdampak pada kesehatan otak. Hal ini dikaitkan dengan risiko kesehatan demensia lebih tinggi.
3. Cedera otak traumatis
Cedera otak traumatis bisa mencakup gegar otak ringan hingga cedera otak parah.
"Mereka (yang mengalami cedera otak) akhirnya harus menemui psikiater karena masalah pengendalian emosi atau... depresi maupun kecemasan, padahal penyebabnya sebenarnya adalah kecelakaan saat mengendarai kendaraan salju di usia 30-an," ujar Amen mengutip Fox News.
4. Gangguan penglihatan
Sebagian besar area otak dikhususkan untuk fungsi penglihatan. Jika penglihatan bermasalah, maka otak pun bermasalah.
5. Gangguan tidur
Tidur berperan penting buat kesehatan termasuk kesehatan otak. Saat tidur, terjadi proses pembuangan limbah di otak.
Bagi mereka yang mengalami gangguan tidur seperti sleep apnea, kondisi ini memicu perubahan pada otak yang menyerupai ciri khas penyakit Alzheimer.
6. HIV
Peradangan dan infeksi dapat memengaruhi kesehatan otak. HIV yang tidak ditangani berdampak buruk terhadap sistem saraf pusat dan berhubungan dengan gangguan kognitif.
Terapi antiretroviral terbukti mengurangi kejadian demensia parah terkait HIV.
7. Polusi udara
Paparan racun mulai dari alkohol, ganja, timbal, merkuri, atau polusi udara dapat menurunkan kesehatan otak. Penelitian menunjukkan paparan polusi udara jangka panjang berkaitan dengan risiko penurunan kognitif dan demensia lebih tinggi.
WHO merekomendasikan untuk mengurangi paparan polusi udara rumah tangga dan luar ruangan khususnya partikel halus.
(els)