Kata Dokter, Ini Efek Kelamaan Pakai Empeng pada Gigi dan Rahang Anak
Empeng bisa menjadi cara praktis untuk menenangkan anak, terutama saat hendak tidur. Namun penggunaan yang terlalu lama, menurut dokter gigi anak, justru dapat memengaruhi pertumbuhan gigi hingga bentuk rahang.
Dokter Spesialis Gigi Anak, Herawati Kusuma, mengatakan penggunaan empeng sebaiknya tidak menjadi kebiasaan dalam waktu lama. Orang tua dianjurkan mulai melepaskannya sebelum anak berusia satu tahun.
"Kalau bisa, misalnya sekarang masih pakai empeng, sebelum satu tahun berhenti. Itu sebenarnya hanya kebiasaan saja," kata Herawati di Jakarta, Jumat (4/9).
Menurutnya, dampaknya tidak hanya berkaitan dengan posisi gigi. Penggunaan empeng dalam waktu lama juga dapat memengaruhi pertumbuhan rahang.
"Efeknya bukan hanya gigi saja. Efeknya nanti di rahang juga. Rahang bikin posisinya lebih ke depan," ujarnya.
Herawati mengatakan, makin lama anak terbiasa menggunakan empeng, proses untuk menghentikan kebiasaan tersebut juga bisa makin sulit. Orang tua juga perlu mewaspadai kebiasaan mengisap jempol yang dapat muncul sebagai pengganti empeng.
"Nanti empeng, kemudian kebiasaan bisa [isap] jempol. Itu juga kalau awal-awal sebetulnya segera dicoba," katanya.
Oleh karena itu, orang tua dapat mulai mengurangi penggunaan empeng secara bertahap, terutama ketika anak sudah tidak lagi membutuhkannya untuk tidur atau menenangkan diri.
Kapan gigi pertama anak tumbuh?
Selain soal empeng, orang tua juga kerap khawatir ketika gigi pertama anak belum kunjung muncul. Herawati mengatakan, kondisi tersebut sebenarnya memiliki rentang waktu yang cukup beragam.
Umumnya, gigi susu pertama mulai tumbuh sekitar usia enam sampai tujuh bulan. Meski begitu, ada anak yang giginya muncul lebih cepat, misalnya sekitar usia lima bulan, atau lebih lambat hingga satu tahun.
"Biasanya, gigi susu itu pertama muncul sekitar enam bulan, enam sampai tujuh bulan. Tapi balik lagi, itu ada range-nya. Kadang ada yang lebih cepat lima bulan, ada juga yang sampai 12 bulan," kata Herawati.
Menurutnya, orang tua masih bisa tenang jika anak belum menunjukkan pertumbuhan gigi hingga usia 18 bulan. Soalnya, perkembangan setiap anak memang tidak selalu sama.
Orang tua baru disarankan membawa anak untuk diperiksa apabila hingga usia sekitar dua tahun belum ada gigi yang tumbuh. Pemeriksaan diperlukan untuk memastikan tidak ada kondisi tertentu yang menghambat pertumbuhan gigi.
"Kalau sudah sampai dua tahun, misalnya belum muncul, baru dibawa periksa. Karena kadang ada keadaan tertentu yang tidak ada gigi, tapi itu jarang banget," kata Herawati.
Sambil menunggu gigi tumbuh, orang tua tetap dapat memberikan stimulasi melalui makanan sesuai usia dan tahap perkembangan anak.
Jadi, keterlambatan tumbuhnya gigi tidak perlu langsung dianggap sebagai masalah selama masih berada dalam rentang perkembangan yang wajar.
(anm/rti)