Abu vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau bukan cuma ganggu saluran pernapasan. Partikel yang beterbangan dan menempel di permukaan tubuh juga bisa memicu masalah pada kulit.
Pada sebagian orang, paparan abu vulkanik dapat menyebabkan kulit terasa gatal, kering, kemerahan, hingga perih. Keluhan tersebut bisa muncul ketika partikel abu bergesekan dengan permukaan kulit atau menempel dalam waktu cukup lama.
Dermatolog Claudia Christin Darmawan mengatakan kondisi tersebut berkaitan dengan kandungan serta karakteristik partikel dalam abu vulkanik.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Permukaannya juga bisa membawa komponen seperti sulfat dan klorida. Efek yang paling sering muncul di kulit adalah kering, gatal, kemerahan, atau iritasi," kata Claudia, mengutip Detik.
Abu vulkanik pada dasarnya terdiri atas partikel batuan, mineral, dan volcanic glass berukuran sangat kecil. Meski halus, partikel tersebut memiliki sifat abrasif atau dapat mengikis dan menggores permukaan kulit.
Karakter abu yang abrasif bisa membuat kulit mengalami iritasi, terutama jika partikel tersebut digosok saat masih menempel di permukaan tubuh. Gesekan tersebut dapat mengganggu skin barrier, yakni lapisan pelindung kulit yang berfungsi mempertahankan kelembapan sekaligus melindungi kulit dari berbagai paparan dari luar.
Risiko iritasi juga dapat lebih besar pada orang yang memang memiliki kulit sensitif atau skin barrier yang sebelumnya sudah terganggu.
"Partikelnya yang halus tetapi abrasif dapat menyebabkan iritasi, terutama kalau kulit digosok. Pada kulit sensitif, eczema, atau skin barrier yang sudah terganggu, reaksinya biasanya lebih mudah muncul," ujar Claudia.
Karena itu, masyarakat yang berada di wilayah terdampak abu vulkanik sebaiknya tidak hanya melindungi hidung dan mulut, tetapi juga memperhatikan perlindungan kulit.
Jika harus berada di luar ruangan ketika abu vulkanik masih beterbangan, penggunaan pakaian tertutup dapat membantu mengurangi kontak langsung abu dengan kulit. Kenakan pakaian berlengan panjang dan celana panjang. Perlindungan tersebut juga dapat mengurangi gesekan langsung antara partikel abu dan permukaan kulit.
Setelah berada di tempat yang lebih aman, segera bersihkan bagian tubuh yang terpapar. Kulit dapat dibilas menggunakan air dan dibersihkan dengan sabun secara perlahan.
Hindari menggosok kulit dengan keras karena tindakan tersebut justru dapat meningkatkan gesekan dan memperburuk iritasi akibat partikel abu yang bersifat abrasif. Jika setelah dibersihkan kulit tetap terasa sangat gatal, perih, memerah, atau muncul keluhan yang semakin berat, sebaiknya konsultasikan dengan dokter kulit.
Dengan demikian, perlindungan saat erupsi tidak hanya soal menjaga saluran pernapasan. Kulit sebagai bagian tubuh yang paling banyak bersentuhan langsung dengan lingkungan juga perlu mendapat perhatian, terutama bagi mereka yang memiliki kulit sensitif atau masalah skin barrier.
(tis/tis)
