Ini Rekomendasi IDAI Lindungi Anak dari Paparan Abu Vulkanik
Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengeluarkan rekomendasi langkah untuk melindungi anak di tengah sebaran abu vulkanik ke sejumlah daerah imbas erupsi Gunung Anak Krakatau. IDAI meminta agar orang tua lebih waspada dan tak menunggu hingga anak bergejala.
Ketua Unit Kerja Koordinasi (UKK) Respirologi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), dr. Wahyuni Indawati, mengatakan paparan abu vulkanik dapat memicu iritasi saluran pernapasan hingga sesak napas pada anak.
"Gejala yang paling umum adalah iritasi saluran napas yang menyebabkan bersin, batuk, pilek, hingga sesak napas," kata Wahyuni dalam pernyataannya, Senin (7/9).
Untuk mengurangi risiko tersebut, UKK Respirologi IDAI memberikan sejumlah rekomendasi yang dapat dilakukan orang tua, terutama ketika kualitas udara memburuk akibat sebaran abu vulkanik.
1. Jauhkan anak dari wilayah terdampak
Jika memungkinkan, ungsikan anak ke lokasi yang jauh dari paparan abu. Jika tidak memungkinkan, anak sebaiknya tetap berada di dalam rumah, terutama ketika kualitas udara sudah buruk atau nilai ISPU lebih dari 100.
2. Tutup rumah dan atur sirkulasi udara
Pastikan pintu dan jendela tertutup untuk mencegah abu masuk. Matikan AC yang menarik udara dari luar dan gunakan mode recirculation atau closed vent. Kipas angin juga sebaiknya tidak digunakan karena dapat membuat abu yang sudah mengendap kembali beterbangan.
3. Jauhkan anak saat membersihkan abu
Anak sebaiknya tidak berada di area yang sedang dibersihkan. Gunakan lap atau kain basah, atau basahi permukaan terlebih dahulu agar partikel abu tidak mudah beterbangan. Hindari membersihkan abu dengan cara menyapu kering.
4. Gunakan masker dan pelindung saat harus keluar
Anak berusia lebih dari 2 tahun yang harus keluar rumah disarankan menggunakan masker khusus anak dengan pemasangan yang tepat. Pelindung mata seperti kacamata anak juga dapat digunakan untuk mengurangi paparan abu pada mata.
5. Lindungi kulit dan hindari polusi tambahan
Kenakan pakaian tertutup untuk mengurangi kontak abu dengan kulit. Di dalam rumah, jauhkan anak dari sumber polusi lain seperti asap rokok dan asap dapur yang dapat memperburuk gangguan pernapasan.
6. Perhatikan anak dengan kondisi khusus dan pastikan kebutuhannya terpenuhi
Anak dengan riwayat asma atau alergi saluran napas perlu lebih diperhatikan. Pastikan obat-obatan rutin tersedia dan tetap berikan cukup air minum untuk mencegah dehidrasi.
7. Kenali tanda bahaya dan segera cari pertolongan
Segera bawa anak ke fasilitas kesehatan jika mengalami sesak napas, napas menjadi lebih cepat, terdapat tarikan dinding dada ke dalam, atau saturasi oksigen berada di bawah 94 persen berdasarkan oksimeter jari.
(anm/asr)