Mengenal Silika dalam Abu Vulkanik dan Risikonya bagi Tubuh

CNN Indonesia
Senin, 07 Sep 2026 20:00 WIB
Ilustrasi. Anak Gunung Krakatau meletus. (AFP/RONALD SIAGIAN)
Jakarta, CNN Indonesia --

Abu vulkanik yang beterbangan setelah erupsi gunung api kerap terlihat seperti debu biasa. Namun, material berwarna abu-abu hingga kehitaman itu sebenarnya merupakan campuran partikel batuan, mineral, dan material vulkanik lain yang memiliki karakter berbeda.

Salah satu komponen yang dapat terdapat dalam abu vulkanik adalah silika. Senyawa ini menjadi perhatian karena dalam bentuk tertentu dan pada ukuran partikel yang dapat terhirup, paparannya dapat berdampak terhadap kesehatan paru-paru.

Lantas, apa sebenarnya silika yang terdapat dalam abu vulkanik?

Apa itu silika?

Silika merupakan senyawa kimia silikon dioksida (SiO₂). Material ini secara alami dapat ditemukan dalam berbagai jenis batuan dan mineral di lingkungan.

Dalam bentuk kristalin, silika dapat berupa kuarsa, kristobalit, dan tridimit. Ketiga bentuk tersebut memiliki susunan kristal yang berbeda, meski sama-sama tersusun dari silikon dan oksigen.

Silika juga bukan material yang hanya ditemukan pada abu vulkanik. Senyawa ini banyak terdapat di alam, termasuk pada pasir, batuan, dan tanah. Yang menjadi perhatian dalam konteks abu vulkanik adalah silika kristalin respirabel, yakni partikel silika kristalin berukuran sangat kecil sehingga dapat masuk jauh ke dalam saluran pernapasan ketika terhirup.

Bagaimana silika bisa ada di abu vulkanik?

Abu vulkanik terbentuk ketika material dari dalam gunung api terlontar ke atmosfer dan mengalami fragmentasi menjadi partikel-partikel berukuran sangat kecil. Material tersebut dapat berasal dari magma, batuan yang sudah ada di dalam gunung, maupun material lain yang ikut terpecah selama proses erupsi.

Karena itu, komposisi abu vulkanik tidak selalu sama. Kandungan mineral, termasuk silika, dapat berbeda antara satu gunung api dan gunung api lainnya, bahkan dapat berbeda bergantung pada karakter dan jenis erupsinya.

Artinya, keberadaan abu vulkanik tidak serta-merta menunjukkan bahwa abu tersebut memiliki kadar silika kristalin yang tinggi. Untuk mengetahui kandungan silika kristalin secara pasti, diperlukan analisis laboratorium terhadap sampel abu.

Mengapa silika kristalin perlu diwaspadai?

Risiko utama bukan semata-mata karena seseorang melihat atau menyentuh abu yang mengandung silika. Perhatian lebih besar diberikan pada partikel silika kristalin yang berukuran cukup kecil untuk terhirup dan masuk ke bagian dalam paru-paru.

Paparan dalam konsentrasi tinggi atau dalam jangka panjang dapat menyebabkan peradangan dan kerusakan jaringan paru. Salah satu penyakit yang berkaitan dengan paparan silika kristalin adalah silikosis.

Silikosis merupakan penyakit paru akibat menghirup debu silika kristalin dalam jumlah tertentu secara berulang atau berkepanjangan. Kondisi ini dapat menyebabkan jaringan paru mengalami kerusakan dan mengganggu kemampuan seseorang untuk bernapas.

Namun, risiko tersebut tidak berarti setiap paparan abu vulkanik akan menyebabkan silikosis. Risiko dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk konsentrasi silika, ukuran partikel, intensitas dan durasi paparan, serta kondisi lingkungan.

Istilah silika sering kali membuat abu vulkanik terdengar lebih berbahaya daripada debu biasa. Padahal, penting membedakan antara adanya silika dan tingginya paparan silika kristalin respirabel.

Komposisi abu vulkanik sangat bergantung pada karakter gunung api. Karena itu, tidak tepat menyebut seluruh abu vulkanik memiliki kadar silika kristalin tinggi tanpa didukung hasil pemeriksaan.

Hal tersebut juga berlaku pada abu yang berasal dari Gunung Anak Krakatau. Kandungan silika kristalinnya tidak seharusnya disimpulkan hanya berdasarkan asal abu atau warna dan bentuk partikelnya.

Dengan kata lain, keberadaan silika dalam abu vulkanik merupakan hal yang perlu dipahami, tetapi tingkat risikonya tetap harus dilihat berdasarkan komposisi dan karakter partikelnya.

Bukan hanya paru-paru yang perlu diperhatikan

Selain risiko terhadap saluran pernapasan, abu vulkanik secara umum dapat menimbulkan gangguan pada mata dan kulit. Partikel abu yang masuk ke mata dapat menyebabkan rasa perih, mata merah, berair, dan iritasi. Sementara itu, kontak dengan kulit dapat memicu rasa gatal atau iritasi pada sebagian orang.

Abu juga memiliki sifat abrasif karena terdiri atas partikel mineral dan material vulkanik yang keras. Ketika beterbangan, partikel tersebut dapat mengganggu kualitas udara dan kembali terhirup ketika endapan abu terganggu atau tertiup angin.

Karena itu, memahami kandungan abu vulkanik penting bukan untuk menimbulkan kepanikan, melainkan agar masyarakat dapat mengetahui bahwa material tersebut memiliki karakter yang berbeda dari debu sehari-hari.

Silika merupakan salah satu komponen yang perlu diperhatikan, terutama ketika berbentuk kristalin dan terdapat dalam partikel yang dapat terhirup. Namun, tingkat risikonya tidak bisa ditentukan hanya dengan melihat abu secara kasatmata. Pemeriksaan komposisi dan ukuran partikelnya tetap menjadi dasar untuk menilai potensi bahayanya.

(tis/tis)
KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK