Mata Terkena Abu Vulkanik, Kenapa Bisa Perih dan Gatal?

CNN Indonesia
Rabu, 09 Sep 2026 03:00 WIB
Ilustrasi. Ada beberapa alasan mata terasa sangat tidak nyaman saat terpapar abu vulkanik dan sensasinya berbeda dengan paparan debu biasa. (Getty Images/iStockphoto/bymuratdeniz)
Jakarta, CNN Indonesia --

Abu vulkanik yang terbawa angin bukan hanya mengganggu jarak pandang dan pernapasan. Partikel halus yang masuk ke mata juga dapat menimbulkan rasa perih, gatal, hingga sensasi seperti ada benda asing yang mengganjal. Kenapa bisa demikian?

Paparan abu vulkanik pada mata menimbulkan sensasi berbeda dengan paparan debu atau kotoran biasa. Sensasi paparan abu vulkanik bisa lebih tidak nyaman pada mata. Hal ini terjadi karena abu vulkanik memiliki partikel yang cukup kasar dan dapat bersifat abrasif.

Saat berada di permukaan mata, partikel itu bisa mengiritasi jaringan mata dan, dalam kondisi tertentu, menggores kornea.

Melansir US Geological Survey (USGS), iritasi mata sebagai salah satu dampak kesehatan yang umum dari paparan abu vulkanik. Gejalanya dapat berupa mata merah, berair, gatal, terasa terbakar, nyeri, sensitif terhadap cahaya, hingga muncul cairan atau lendir.

Abu vulkanik yang masuk ke mata pada dasarnya bertindak seperti benda asing. Partikelnya dapat menempel di permukaan mata dan menimbulkan rasa mengganjal.

Jika mata kemudian digosok, gesekan antara partikel abu dan permukaan mata justru dapat memperparah iritasi. Dalam beberapa kasus, partikel yang kasar juga dapat menyebabkan abrasi kornea, yakni goresan pada lapisan bening yang berada di bagian depan mata.

Dalam penelitian Archives of Ophthalmology, ditemukan partikel abu dapat bertindak sebagai benda asing pada mata dan terutama menyebabkan iritasi akut. Keluhan lebih sering ditemukan pada pengguna lensa kontak serta orang dengan kondisi mata kering. 

Sensasi seperti ada pasir atau debu yang mengganjal di mata setelah terpapar abu bukan sekadar perasaan. Memang ada partikel yang dapat mengiritasi permukaan mata.

Gambaran serupa ditemukan dalam penelitian terhadap anak-anak yang tinggal di sekitar Gunung Sakurajima, Jepang. Anak-anak di wilayah dengan paparan abu lebih tinggi lebih sering mengalami keluhan mata.

Gejala yang paling banyak ditemukan antara lain mata merah, keluar cairan, rasa seperti ada benda asing, dan gatal.

Penelitian tersebut juga menemukan hubungan antara meningkatnya aktivitas erupsi dengan meningkatnya keluhan mata pada wilayah yang paparan abunya tinggi. Semakin banyak abu yang mengenai mata, semakin besar pula kemungkinan munculnya gangguan pada mata.

Mengatasi paparan abu vulkanik pada mata

Ilustrasi. Saat mata terpapar abu vulkanik, sebaiknya jangan dikucek. (Freepik.com)

Jika abu vulkanik masuk ke mata, hal pertama yang perlu dilakukan justru menahan diri untuk tidak menguceknya.

Kementerian Kesehatan RI memberikan imbauan serupa menyusul penyebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau ke sejumlah wilayah. Masyarakat diminta tidak mengucek mata dan membersihkannya dengan air. Bila diperlukan, obat tetes mata juga dapat digunakan.

Mata yang terkena abu dapat dibilas dengan air bersih untuk membantu mengeluarkan partikel yang menempel. Hindari menggosok mata karena partikel abu yang masih berada di permukaan mata bisa ikut bergesekan dengan kornea.

USGS juga menyarankan penggunaan kacamata untuk membantu melindungi mata dari paparan abu. Bagi pengguna lensa kontak, USGS secara khusus mengingatkan agar tidak menggunakan lensa kontak ketika berada di tengah paparan abu karena dapat meningkatkan risiko abrasi kornea.

Sementara itu, obat tetes mata memang dapat digunakan bila diperlukan. Dalam penelitian terhadap anak-anak di sekitar Sakurajima, sejumlah keluhan mata seperti kemerahan, keluar cairan, rasa mengganjal, dan gatal dilaporkan dapat ditangani dengan obat tetes mata.

Akan tetapi, jika keluhan tidak membaik setelah mata dibersihkan, jangan terus-menerus mengandalkan obat tetes tanpa mengetahui penyebabnya. Terlebih jika muncul nyeri yang menetap, mata sangat merah, penglihatan kabur atau menurun, sensitif terhadap cahaya, mata sulit dibuka, atau sensasi seperti ada benda yang masih tertinggal.

Keluhan tersebut perlu diperiksa karena bisa saja masih ada partikel yang menempel atau telah terjadi goresan pada permukaan kornea. Dalam kondisi ini, perlu konsultasi dengan tenaga medis.

Mata memang memiliki mekanisme alami untuk membersihkan benda asing melalui air mata dan kedipan. Akan tetapi, abu vulkanik bukan debu biasa. Partikelnya dapat bersifat kasar sehingga berpotensi menyebabkan iritasi maupun goresan jika bergesekan dengan permukaan mata.

Dalam situasi erupsi seperti penyebaran abu Gunung Anak Krakatau, langkah paling aman memang bukan menunggu mata terasa sakit, melainkan mengurangi paparan sejak awal, batasi aktivitas di luar rumah dan gunakan kacamata jika harus keluar. Kemenkes juga menganjurkan langkah tersebut bagi masyarakat di wilayah terdampak. 

(anm/els)
KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK