Maraknya kebakaran hutan dan lahan atau karhutla di berbagai wilayah Indonesia selama musim kemarau memicu imbauan bagi masyarakat untuk menunda aktivitas rekreasi di ruang terbuka atau outdoor.
Kementerian Kehutanan (Kemenhut) dan BMKG meminta wisatawan ekstra waspada, terutama jika berencana mendatangi kawasan konservasi dan pegunungan.
Berdasarkan pemantauan Kemenhut per 1 September 2026, terdeteksi sebanyak 1.370 titik panas atau hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi di seluruh Indonesia, dengan konsentrasi utama di wilayah Kalimantan dan Sumatra.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Merespons tingkat kerentanan karhutla dan potensi bahaya ekologis, Kemenhut menerapkan kebijakan penutupan sementara serta pembukaan terbatas untuk aktivitas pendakian di kawasan suaka alam dan pelestarian alam sejak 1 September 2026.
Beberapa kawasan gunung yang jalur pendakiannya ditutup sementara meliputi:
- Gunung Ditutup: Gunung Semeru, Gunung Kerinci, Gunung Ciremai, Gunung Tambora, Gunung Gede Pangrango, dan Gunung Leuser.
- Gunung Dibuka Terbatas: Gunung Rinjani, Gunung Merbabu, dan Gunung Halimun Salak (dengan pengawasan ketat).
Selain ancaman titik api, sebaran asap turut memicu penurunan kualitas udara. Pemantauan Kemenhut dan BMKG per 4 September 2026 mencatat mayoritas wilayah Indonesia berada pada kategori Baik hingga Sedang.
Meski begitu, status Tidak Sehat terdeteksi di sejumlah area Kalimantan dan Sumatra bagian barat, sementara zona Sangat Tidak Sehat ditemukan di sebagian Kalimantan Barat.
Kondisi udara yang memburuk sangat berisiko bagi kelompok rentan, seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, serta penderita gangguan saluran pernapasan (ISPA).
Beralih ke Destinasi 'Indoor'
Wisatawan yang memprioritaskan keselamatan diimbau untuk sementara waktu mengalihkan agenda liburan ke destinasi dalam ruangan atau indoor, seperti museum, galeri seni, pusat kebudayaan, atau wahana rekreasi tertutup.
Sebaliknya, area taman nasional, jalur pendakian, dan destinasi wisata alam di wilayah terdampak asap dianjurkan untuk dihindari. Calon pelancong juga diminta aktif memantau pembaruan kualitas udara dan status operasional destinasi dari pengelola resmi sebelum melakukan perjalanan.
(dsd/wiw)