Bayi cukup sering mengalami cegukan. Suara "hik" tersebut dapat muncul berulang bahkan bisa terdengar hampir setiap hari, terutama setelah bayi menyusu.
Kondisi ini sering membuat orang tua bertanya-tanya, apakah bayi sedang mengalami masalah kesehatan? Apalagi, cegukan kerap dikaitkan dengan masuk angin hingga refluks.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kenapa bayi sering cegukan?
Cegukan terjadi ketika diafragma, otot yang berperan dalam proses bernapas, berkontraksi secara tiba-tiba dan tidak disengaja. Kontraksi tersebut kemudian diikuti penutupan glotis yang menghasilkan suara khas "hik".
Melansir laman resmi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), cegukan pada bayi dan anak umumnya tidak perlu dikhawatirkan. Kondisi ini dapat muncul setelah bayi melakukan aktivitas seperti menyusu.
Pada bayi, cegukan juga dapat berkaitan dengan kondisi perut yang teregang setelah minum atau refluks. Karena itu, tidak jarang cegukan muncul setelah bayi selesai menyusu.
Pada bayi sehat, cegukan umumnya merupakan hal yang normal dan dapat berhenti dengan sendirinya.
Ilustrasi. Cegukan umumnya merupakan hal yang normal pada bayi dan dapat berhenti sendiri. (Foto: istockphoto/hobo_018) |
Mengutip penelitian terhadap 100 bayi sehat dalam Journal of Pediatric Gastroenterology and Nutrition bahkan menemukan 36 persen bayi mengalami cegukan setiap hari. Artinya, bayi yang cukup sering cegukan belum tentu sedang sakit.
Cegukan berarti bayi kena GERD?
Cegukan memang dapat muncul bersamaan dengan refluks, tetapi bukan berarti setiap bayi yang cegukan mengalami gastroesophageal reflux disease (GERD).
Refluks sendiri merupakan kondisi yang cukup umum pada bayi, terutama pada bulan-bulan pertama kehidupan. Isi lambung dapat kembali naik ke kerongkongan karena sistem pencernaan bayi masih berkembang.
Penelitian terhadap bayi sehat berusia 0-24 bulan menemukan bahwa gejala yang berkaitan dengan refluks memang lebih sering ditemukan pada bayi yang lebih muda. Frekuensi cegukan juga menjadi salah satu faktor yang berkontribusi terhadap skor gejala refluks pada bayi usia dini.
Meski begitu, cegukan saja tidak cukup untuk menyimpulkan bayi mengalami GERD. GERD baru menjadi perhatian ketika refluks menimbulkan masalah, misalnya bayi mengalami muntah terus-menerus, kesulitan makan atau menyusu, hingga pertumbuhan yang terganggu.
Apakah cegukan bayi perlu diatasi?
Pada cegukan biasa, sebenarnya orang tua tidak perlu buru-buru menghentikannya. Cegukan pada bayi sehat umumnya akan hilang sendiri.
IDAI menyebut beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mengurangi kemungkinan cegukan, terutama yang muncul setelah menyusu. Orang tua dapat memastikan bayi tidak minum terlalu cepat dan tidak terlalu banyak menelan udara saat menyusu.
Bayi juga dapat disendawakan setelah minum. Memberikan jeda atau waktu istirahat setelah menyusu juga dapat membantu.
Jadi, ketika suara "hik" mulai terdengar, orang tua tidak perlu langsung panik. Alih-alih mencari cara untuk menghentikan cegukan, perhatikan terlebih dahulu kondisi bayi secara keseluruhan.
Yang perlu diperhatikan bukan hanya seberapa sering bayi cegukan, tetapi berapa lama cegukan berlangsung dan apakah disertai gejala lain.
Review PubMed juga menyebut cegukan akut umumnya bersifat jinak dan dapat berhenti sendiri. Sebaliknya, cegukan yang berlangsung lama atau sulit dihentikan lebih jarang terjadi dan dapat berkaitan dengan kondisi medis tertentu.
Pada anak, cegukan yang menetap dapat berkaitan dengan berbagai kondisi, mulai dari masalah saluran pencernaan hingga gangguan pada sistem saraf, paru-paru, infeksi, gangguan metabolik, maupun efek obat.
Jika bayi hanya sesekali cegukan, tetap aktif, mau menyusu, bernapas normal, dan tumbuh dengan baik, kondisi tersebut umumnya tidak perlu dikhawatirkan.

