Kenali dan Pahami, Ini 5 Tanda Anak Mulai Mengembangkan Empati
Anak yang mulai tumbuh besar biasanya mengalami banyak perubahan dalam cara berinteraksi dengan orang-orang di sekitarnya. Ia tak lagi hanya fokus pada apa yang diinginkan sendiri, tetapi perlahan mulai memperhatikan keadaan orang lain.
Kemampuan memahami dan merespons kondisi orang lain ini berkaitan dengan perkembangan empati yang berlangsung secara bertahap sejak masa kanak-kanak.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ciri anak mulai mengembangkan empati
Seiring bertambahnya usia, anak perlahan belajar mengenali emosi orang lain, memahami bahwa setiap orang bisa merasakan hal yang berbeda, hingga merespons perasaan tersebut lewat tindakan.
Lantas, seperti apa tanda anak mulai mengembangkan empati?
1. Mulai sadar ketika orang lain sedang sedih
Mengutip ulasan yang dipublikasikan dalam Nature, salah satu tanda yang mudah diamati adalah ketika anak mulai memperhatikan perubahan emosi orang lain. Misalnya, anak melihat temannya menangis lalu menyadari bahwa temannya sedang sedih.
Ia mungkin belum tahu harus melakukan apa, tetapi sudah mulai menunjukkan perhatian atau bertanya tentang keadaan temannya.
Kemampuan mengenali dan merespons emosi orang lain merupakan bagian penting dari perkembangan empati sejak usia dini.
2. Berusaha menghibur orang yang sedang sedih
Anak yang mulai memiliki empati tidak hanya menyadari orang lain sedang sedih, tetapi juga bisa mencoba membuat orang tersebut merasa lebih baik.
Bentuknya tidak harus selalu berupa kata-kata. Anak mungkin memberikan pelukan, mengambilkan barang, menawarkan mainan, atau sekadar duduk di dekat orang yang sedang menangis.
Perilaku seperti membantu dan menghibur termasuk bentuk perilaku prososial yang berkaitan dengan perkembangan kemampuan memahami kondisi orang lain.
3. Mulai mau berbagi tanpa selalu diminta
Anak yang mulai bersedia memberikan sebagian miliknya kepada orang lain juga bisa menunjukkan perkembangan kemampuan sosial dan empati.
Menukil studi dalam jurnal Developmental Psychology, kemampuan anak memahami pikiran, keinginan, dan kondisi mental orang lain berkaitan dengan perilaku seperti membantu, bekerja sama, berbagi, dan menghibur.
4. Mulai memahami sudut pandang orang lain
Anak juga perlahan belajar bahwa orang lain bisa memiliki pikiran, perasaan, atau keinginan yang berbeda darinya. Contohnya, anak mulai memahami bahwa sesuatu yang menurutnya menyenangkan belum tentu membuat temannya senang. Ia juga mulai bisa melihat sebuah masalah dari sisi orang lain.
Kemampuan melihat sesuatu dari perspektif orang lain atau perspective-taking merupakan bagian penting dalam perkembangan empati.
Pada tahap ini, anak mungkin belum selalu berhasil memahami perasaan orang lain dengan tepat. Namun, usaha untuk mempertimbangkan sudut pandang tersebut sudah menjadi bagian dari proses perkembangan empati.
5. Mulai peduli ketika melihat orang lain diperlakukan tidak baik
Empati juga bisa muncul ketika anak melihat orang lain mengalami kesulitan atau diperlakukan tidak adil. Anak membela temannya yang diejek, merasa tidak nyaman ketika melihat seseorang disakiti, atau mencoba mendekati orang yang sedang sendirian.
Kemampuan memahami sudut pandang orang lain dapat membantu anak mengenali ketika seseorang berada dalam situasi yang tidak menyenangkan dan mendorong munculnya respons prososial.
Empati berkembang secara bertahap
Ilustrasi. Empati pada anak akan berkembang bertahap. (iStockphoto/SrdjanPav) |
Empati bukan kemampuan yang tiba-tiba muncul pada satu titik usia. Anak belajar mengenali emosi, memahami perspektif orang lain, dan meresponsnya secara bertahap.
Karena itu, orang tua tidak perlu langsung khawatir jika anak belum menunjukkan semua tanda tersebut.
Kemampuan empati juga dapat berbeda sesuai usia, karakter, dan pengalaman sosial masing-masing anak.
Studi yang dipublikasikan dalam jurnal Psychology in the Schools juga menunjukkan, empati merupakan kemampuan yang kompleks dan perlu dilihat dari berbagai aspek, bukan hanya dari satu perilaku.
Artinya, anak yang belum selalu mau berbagi atau belum tahu cara menghibur temannya bukan berarti tidak memiliki empati. Bisa jadi ia masih belajar memahami emosi dan perspektif orang lain.
(anm/asr)

