Sering Belibet Saat Bicara? Ini yang Terjadi di Otak
Merasa sudah tahu apa yang ingin dikatakan, tetapi begitu mulai bicara justru keluar, "eee... anu... apa ya...," lalu mengulang kalimat atau tiba-tiba kehilangan kata?
Kondisi seperti ini cukup umum terjadi, terutama ketika seseorang harus berbicara secara spontan, menjelaskan sesuatu yang rumit, atau berada dalam situasi yang membuat gugup.
Dalam kajian bahasa dan psikologi, kondisi tersebut dikenal sebagai speech disfluency atau ketidaklancaran berbicara. Belibet saat berbicara tidak selalu berarti seseorang tidak menguasai materi atau mengalami gangguan bicara.
Di balik ucapan yang terdengar tersendat, ada proses mental yang cukup kompleks. Otak harus bekerja cepat untuk memilih kata, menyusun kalimat, mengingat informasi, sekaligus menyesuaikan ucapan dengan situasi dan lawan bicara.
Lantas, apa saja yang bisa membuat seseorang mendadak belibet saat berbicara?
1. Gugup atau cemas
Rasa gugup dan cemas dapat membuat seseorang lebih sulit berbicara dengan lancar. Saat gugup, perhatian tidak hanya tertuju pada apa yang ingin disampaikan, tetapi juga pada diri sendiri dan bagaimana orang lain menilai. Perhatian yang terbagi ini dapat membuat proses berbicara menjadi lebih tersendat.
Studi yang dipublikasikan dalam Frontiers in Psychology menemukan bahwa kecemasan berkaitan dengan meningkatnya speech disfluency, seperti jeda, kata pengisi, pengulangan, dan ketidaklancaran artikulasi. Itulah sebabnya seseorang yang biasanya lancar berbicara dalam percakapan sehari-hari bisa tiba-tiba lebih sering mengucapkan 'eee' atau 'umm' ketika harus berbicara di depan banyak orang.
2. Beban pikiran sedang tinggi
Berbicara bukan sekadar mengeluarkan kata-kata. Dalam waktu yang hampir bersamaan, otak harus menentukan informasi yang ingin disampaikan, mencari kata yang tepat, menyusun kalimat, mengingat informasi, hingga memperhatikan respons lawan bicara.
Ketika berbagai proses tersebut berlangsung bersamaan, beban kognitif pun meningkat. Penelitian dalam Communication Education menunjukkan bahwa hubungan antara kecemasan dan kemampuan menghasilkan ucapan dapat memburuk ketika tuntutan kognitif meningkat.
Dalam kondisi tersebut, jeda, pengulangan, koreksi ucapan, atau salah memilih kata lebih mudah muncul.
3. Takut salah atau dinilai orang lain
Takut membuat kesalahan juga dapat membuat seseorang semakin sulit berbicara dengan lancar. Dalam situasi seperti berbicara di depan umum, seseorang mungkin terlalu sibuk memikirkan apakah ucapannya sudah benar, apakah terdengar meyakinkan, atau bagaimana orang lain akan merespons.
Perhatian yang seharusnya digunakan untuk menyusun ucapan akhirnya terbagi untuk memantau diri sendiri. Akibatnya, kata-kata yang sebenarnya sudah diketahui justru terasa sulit keluar.
4. Sedang mencari kata yang tepat
Belibet tidak selalu berkaitan dengan rasa gugup. Kadang-kadang, otak memang sedang mencari kata yang paling sesuai. Jeda atau kata pengisi seperti 'eee', 'umm', dan 'apa ya' atau filler words dapat muncul ketika seseorang membutuhkan waktu untuk merencanakan bagian berikutnya dari ucapannya.
Penggunaan filler tidak selalu menunjukkan bahwa seseorang tidak tahu apa yang ingin dikatakan. Dalam percakapan sehari-hari, kata-kata pengisi juga dapat menjadi bagian dari proses merencanakan ucapan.
5. Berbicara di bawah tekanan
Tuntutan untuk menjawab dengan cepat, menjelaskan sesuatu yang rumit, atau menyampaikan banyak informasi dalam waktu singkat juga dapat memengaruhi kelancaran berbicara. Semakin tinggi tuntutan tersebut, semakin besar kemungkinan munculnya jeda, pengulangan, koreksi ucapan, atau salah ucap.
Karena itu, seseorang yang biasanya lancar berbicara dalam situasi santai bisa saja mendadak belibet ketika harus menjawab pertanyaan secara spontan.
6. Perhatian dan memori kerja sedang penuh
Working memory atau memori kerja merupakan kemampuan untuk menyimpan dan mengolah informasi dalam waktu singkat. Kemampuan ini dibutuhkan ketika seseorang harus mengingat poin yang ingin disampaikan sambil menyusun kalimat dan memilih kata secara bersamaan.
Ketika kapasitas memori kerja sedang terbebani, seseorang dapat membutuhkan waktu lebih lama untuk menemukan kata atau menyusun kalimat. Kondisi tersebut dapat membuat ucapan terdengar lebih lambat, terputus-putus, atau dipenuhi pengulangan.
Belibet tidak selalu berarti ada gangguan bicara
Pada dasarnya, sesekali belibet, berhenti sejenak, mengulang kata, atau menggunakan kata pengisi merupakan hal yang dapat terjadi dalam percakapan normal. Kondisi tersebut bisa semakin sering muncul ketika seseorang sedang lelah, gugup, berada di bawah tekanan, atau harus memproses banyak informasi sekaligus.
Lihat Juga : |
Namun, jika ketidaklancaran berbicara terjadi terus-menerus, semakin berat, atau muncul secara tiba-tiba disertai gejala lain, kondisi tersebut sebaiknya tidak diabaikan. Pemeriksaan oleh tenaga kesehatan dapat membantu mengetahui apakah ada penyebab tertentu yang perlu ditangani.
Jadi, ketika sesekali mengucapkan 'eee...' atau tiba-tiba lupa satu kata saat berbicara, belum tentu kemampuan berbicara sedang bermasalah. Bisa saja otak sedang bekerja keras menyusun apa yang ingin disampaikan.
(anm/tis)