Menari di Depan Gerbang Kuil Jepang, Warga Selandia Baru Dikecam Warga
Sebuah video pertunjukan poi Maori yang dilakukan warga negara Selandia Baru di luar gerbang sebuah kuil Shinto suci di Jepang memicu kemarahan sejumlah warga setempat.
Video tersebut menampilkan tiga orang melakukan tarian poi di depan gerbang torii berwarna vermilion yang menjadi penanda area masuk menuju Fushimi Inari Taisha di Kyoto, Jepang.
Poi Maori sendiri merupakan seni pertunjukan tradisional dari penduduk asli Selandia Baru, Maori. Tarian ini menggunakan bola ringan yang diikatkan pada tali yang diayunkan dan diputar dalam pola ritmis.
Aksi itu kemudian dianggap tidak pantas karena dilakukan di lokasi yang diyakini sebagai tempat ibadah, bukan panggung pertunjukan. Kontroversi ini pun ramai dibahas di media sosial X, dengan banyak komentar bernada kritik terhadap kelompok tersebut.
Adapun kelompok itu dipimpin oleh Tangaroa Paul, yang dikenal sebagai pemimpin program Maori Media di Auckland University of Technology (AUT), Selandia Baru. Ia memiliki keahlian di bidang Maori dan studi gender pribumi, Kapa Haka, seni pertunjukan, serta media.
Namun, latar belakang akademik tersebut tak meredam reaksi publik yang menilai penampilan mereka sudah mengabaikan norma kesakralan ruang kuil.
"Bahkan sebelum melewati gerbang torii, tempat itu adalah tempat bagi para peziarah untuk berjalan melewatinya, bukan tempat pertunjukan," kata seorang pengguna media sosial, dilansir Stuff.
Menanggapi kecaman itu, Paul sudah beberapa kali menyampaikan permintaan maaf lewat platform X.
Dalam salah satu unggahannya, Paul mengaku sangat menyukai kunjungan ke Jepang dan berharap dapat kembali lagi. Ia pun menyampaikan permintaan maaf.
"Saya tahu kata-kata permintaan maaf saya mungkin tidak akan pernah cukup, tetapi tindakan mungkin. Saya akan mengakui ketidaktahuan dan kesalahan saya dan akan memastikan saya tidak mengulanginya lagi," tulis Paul.
Dalam pernyataan lain, Paul menegaskan dirinya mengambil tanggung jawab penuh atas tindakan yang telah menyinggung budaya Jepang, masyarakat, dan ruang-ruang suci. Ia mengatakan kini memahami arti kesalahannya dan sedang berusaha memperbaikinya.
"Sekali lagi, saya dan kami sangat menyesal telah menyebabkan luka, rasa sakit, atau kemarahan terhadap masyarakat Jepang, kebiasaan mengunjungi tempat-tempat suci seperti Fushimi Inari Taisha, dan yang terpenting, orang-orang yang telah kami sakiti," tulis Paul dalam pernyataan ketiganya.
Pihak AUT pada Jumat (11/9) menyebutkan, Paul tidak akan berbicara kepada media.
"AUT menyadari bahwa Dr. Paora telah mengakui kesalahan tersebut dan meminta maaf sepenuh hati atas segala pelanggaran yang disebabkan oleh video ini yang dibuat selama perjalanan pribadi," demikian isi pernyataan universitas.
Hati-hati ketika sedang berwisata di kuil sakral Jepang
Shinto sendiri merupakan agama yang memandang kuil sebagai tempat ibadah dan kediaman kami atau roh suci. Fushimi Inari Taisha yang berdiri sejak tahun 711 Masehi, merupakan kuil utama dari sekitar 30.000 kuil Inari di Jepang.
Tempat itu dikunjungi untuk berdoa demi panen melimpah, kemakmuran bisnis, keselamatan keluarga, dan berbagai harapan lainnya.
Kuil ini juga memiliki aturan bagi pengunjung, termasuk larangan menghalangi jalur dan pembatasan pemotretan di area tertentu.
(rti)