CATATAN PERJALANAN

Cita Rasa Canggu dari Meja Makan yang Tak Terduga

Fersita Felicia Facette | CNN Indonesia
Kamis, 17 Sep 2026 19:00 WIB

Translate this article

Beberapa hari di Canggu membawa saya mencicipi beragam sajian, dari kuliner lokal hingga Spanish-Mediterranean.
Beberapa hari di Canggu membawa saya mencicipi beragam sajian, dari kuliner lokal hingga Spanish-Mediterranean. (Foto: CNN Indonesia/Fersita Felicia Facette)

Malam itu, meja saya diisi berbagai sajian. Ada Octopus Croquette, Wagyu Beef Tartare, hingga Grilled Fish dengan garlic praline.

Octopus croquette-nya punya tekstur luar yang renyah dengan isian creamy yang gurih, sementara Wagyu Beef Tartare terasa lembut dan rich.

Bagi saya yang belum terlalu familiar dengan makanan Spanish-Mediterranean, makan malam ini menjadi pengalaman mencicipi sesuatu yang benar-benar baru.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Namun itu menariknya. Tidak semua harus langsung terasa familiar, 'kan?

Kejutan di tiap sajian

wisata di Canggu, BaliSantanera mengusung konsep menu Amerika Latin dan Mediterania. (Foto: CNN Indonesia/Fersita Felicia Facette)

Jika Sazón memperkenalkan saya pada rasa yang baru, Santanera membawa pengalaman itu sedikit lebih jauh.

Suasananya hangat dan pelayanan terasa personal. Saat tiba, staf memeriksa kemungkinan alergi dan memastikan pilihan menu yang dapat disesuaikan.

Konsep Santanera sendiri memadukan pengaruh Amerika Latin dan Mediterania dengan bahan-bahan lokal berkualitas.

Makan malam dimulai dengan Air-dried Yellowfin Tuna yang disajikan bersama Wood-fired Potato Bread. Awalnya saya tak memiliki ekspektasi terlalu tinggi. Namun, gigitan pertama justru menjadi salah satu kejutan malam itu.

"Gila sih, enak," kataku dalam hati.

Dilanjutkan dengan berbagai sajian, termasuk Scallop Toston dan Chicken Skewers yang disantap bersama daun mint.

Saya sempat merasa penasaran ketika melihat kombinasi tersebut. Namun, setelah dicoba, rasa mint justru menyatu dengan baik. Segar tapi tidak mendominasi.

Strawberry Fizz Mocktail dengan stroberi segar, ginger soda, dan lemon pun menjadi minuman yang menyegarkan di antara berbagai hidangan.

Makan berlanjut melalui Ceviche Mixto, Dry-aged Grouper, dan Dry-aged Duck. Namun, salah satu yang paling menarik perhatian saya justru Colombian Corn Cake.

Hidangan ini memberi rasa yang benar-benar baru bagi saya. Ada manis alami dari jagung, berpadu dengan buckwheat, curd, bawang putih, dan yoghurt. Rasanya tidak berhenti pada manis, tetapi juga menghadirkan sedikit gurih dan savory yang membuatnya terasa unik.

Hal menarik dari makan malam ini justru datang dari hidangan yang tidak terlalu saya antisipasi.

Makan malam kemudian ditutup dengan Churros bersama Dark Chocolate dan Vanilla Ice Cream Dulce de Leche, serta Passion Fruit Sorbet dengan mango granita, white chocolate, dan lime posset.

Setelah berbagai sajian dengan karakter rasa yang berbeda, dessert menjadi penutup yang pas untuk malam itu.

Selama berada di Canggu, saya menyadari bahwa makanan tidak melulu soal mengenyangkan perut.

Sepiring makanan bisa menjadi pembuka percakapan, mempertemukan kita dengan orang baru, sekaligus mengenalkan budaya dan rasa yang belum pernah kita coba.

Pada perjalanan kali ini, saya mungkin pulang hanya membawa sedikit bingkisan oleh-oleh, tapi ada banyak rasa yang tersimpan manis di lidah.

(fef)


[Gambas:Video CNN]

HALAMAN:
1 2