Jakarta, CNN Indonesia -- Banyak cara mengenal sebuah tempat. Ada yang melakukannya dengan berjalan-jalan, ada pula yang duduk menikmati pemandangan matahari tenggelam di garis horizon.
Selama tiga hari berada di Canggu, saya mengenal kawasan ini dengan cara yang tak kalah menyenangkan, yakni lewat meja makan.
Begitu tiba di Holiday Inn Resort Bali Canggu, saya langsung diajak makan siang di restorannya bernama Roomah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Assistant Manager Marketing Kiki Desio mengatakan, pemilihan nama Roomah sengaja diambil dari kata "rumah" untuk menghadirkan kesan akrab seolah tamu sedang menyantap hidangan rumahan.
"Kami ingin tamu merasa seperti sedang makan di rumah sendiri, tapi tetap dengan sajian yang istimewa," ujar Kiki.
Hal tersebut tercermin dari hidangan khas Indonesia dan Asia, dipadukan dengan cita rasa global, lengkap dengan pilihan semi-buffet dan à la carte.
Selama beberapa hari berikutnya, Roomah menjadi jujukan pertama saya setiap hari.
Dari Rempe Bali ke menu berbagai penjuru
Rempe Bali sebagai kudapan pembuka di Roomah, resto milik Holiday Inn Resort Bali Canggu. (Foto: CNN Indonesia/Fersita Felicia Facette) |
Makan pertama dibuka dengan Rempe Bali. Sekilas, ini mengingatkan saya pada rempeyek kacang buatan mertua. Namun, cara menikmatinya yang berbeda.
Di sini rempe disantap dengan selada romaine, lalu ditambah sedikit sambal tradisional. Cara makannya mirip cara makan bulgogi Korea.
Kemudian, menu pembuka satu per satu memenuhi meja. Ada Sakana Yuzu Nikkei dengan karakter rasa asam segar berpadu potongan ikan. Lalu Wasabi Prawn Tempura, hingga Chicken Spring Rolls dengan tekstur luar yang garing dengan isian yang gurih.
Tak berhenti di situ, lanjut ke hidangan utama, mulai dari Nasi Goreng Kampung Nelayan. Setiap bulir nasi menyerap sempurna dengan bumbu dan telur, memberikan rasa gurih yang menyatu di setiap suapan.
Toping-nya pun meriah. Ada prawn bakar, ikan fillet, crispy chicken strips, dan irisan telur dadar. Ini jadi salah satu favorit saya!
Disusul Sop Buntut dengan kuah hangat kaya rempah, serta Kung Pao Chicken yang menutup rangkaian menu utama dengan cita rasa pedas-manis khas Asia.
Sebagai pencinta makanan manis, saya tentu tak sabar menunggu bagian terakhir. Sepiring Mandarin cheesecake hadir bersama potongan mangga, buah naga, dan peach, dan es krim cokelat.
Terasa sekali bahwa setiap makanan sangat diperhatikan di resto resor ini. Dari pemilihan bahan, presentasi, hingga keragaman menu yang memadukan cita rasa lokal dan internasional, semuanya terasa dipikirkan dengan detail.
Kombinasi rasa, angin, dan laut
Santap siang di rooftop pool bar Holiday Inn Resort Bali Canggu. (Foto: CNN Indonesia/Fersita Felicia Facette) |
Hari kedua saya makan siang di rooftop pool bar resor bintang lima ini. Berada di lantai 5, tempat ini seperti menawarkan pengalaman elevated dining. Semilir angin laut dengan panorama Pantai Ratu Bolong membuat santap siang terasa damai dan santai.
Ditemani dua rekan, kami mencicipi deretan menu western yang variatif. Edamame Cauliflower Fritters membuka sesi makan dengan tekstur renyah di luar namun lembut di dalam.
Berlanjut ke Flying Chicken Hot Louisiana yang membawa sensasi pedas khas Cajun, memberi kontras rasa di lidah dari hidangan sebelumnya.
Saya cicipi juga Crispy Prawn Tacos, isian potongan udang lembut dengan tortilla, kombinasi tekstur renyah dan lembut yang pas di tiap gigitan. Spaghetti aglio e olio pun tersaji sebagai penutup.
Sebagai pelengkap, saya memilih signature cocktail Watermelon Smash. Rasa manis yang tipis dari white rum sangat 'kawin' dengan semangka, asam lime juice, dan soda.
Minuman ini menjadi penutup yang pas untuk sesi makan siang santai sambil menikmati pemandangan laut yang memanjakan mata.
Rasa baru di Sazón
Perjalanan kuliner saya dilanjutkan dengan makan malam di Sazón. Lokasinya yang dekat, bisa sampai dengan berjalan kaki.
Sazón sendiri dalam bahasa Spanyol berarti seasoning atau bumbu. Nama itu seperti memberi sedikit gambaran tentang apa yang diracik di dalam.
Restoran ini mengusung konsep Spanish-Mediterranean dengan suasana yang cukup santai. Ada bar di bagian tengah yang membuat tempat ini terasa hidup, khususnya malam hari.
Pengelola bilang, setiap Kamis malam suasana di sini lebih meriah. Ada live DJ, dancers yang berkeliling, bahkan sajian nasi goreng yang dibuat secara langsung lalu diarak ke meja-meja pengunjung.
Sayangnya, saya datang pada hari Rabu. Mungkin, itu bisa jadi alasan untuk kembali lagi ke sini lain waktu.
Baca halaman selanjutnya...
Cita Rasa Canggu dari Meja Makan yang Tak Terduga
Nasi Goreng Kampung Nelayan yang disajikan di resto Holiday Inn Resort Bali Canggu, Roomah. (Foto: CNN Indonesia/Fersita Felicia Facette)
Malam itu, meja saya diisi berbagai sajian. Ada Octopus Croquette, Wagyu Beef Tartare, hingga Grilled Fish dengan garlic praline.
Octopus croquette-nya punya tekstur luar yang renyah dengan isian creamy yang gurih, sementara Wagyu Beef Tartare terasa lembut dan rich.
Bagi saya yang belum terlalu familiar dengan makanan Spanish-Mediterranean, makan malam ini menjadi pengalaman mencicipi sesuatu yang benar-benar baru.
Namun itu menariknya. Tidak semua harus langsung terasa familiar, 'kan?
Kejutan di tiap sajian
Santanera mengusung konsep menu Amerika Latin dan Mediterania. (Foto: CNN Indonesia/Fersita Felicia Facette) |
Jika Sazón memperkenalkan saya pada rasa yang baru, Santanera membawa pengalaman itu sedikit lebih jauh.
Suasananya hangat dan pelayanan terasa personal. Saat tiba, staf memeriksa kemungkinan alergi dan memastikan pilihan menu yang dapat disesuaikan.
Konsep Santanera sendiri memadukan pengaruh Amerika Latin dan Mediterania dengan bahan-bahan lokal berkualitas.
Makan malam dimulai dengan Air-dried Yellowfin Tuna yang disajikan bersama Wood-fired Potato Bread. Awalnya saya tak memiliki ekspektasi terlalu tinggi. Namun, gigitan pertama justru menjadi salah satu kejutan malam itu.
"Gila sih, enak," kataku dalam hati.
Dilanjutkan dengan berbagai sajian, termasuk Scallop Toston dan Chicken Skewers yang disantap bersama daun mint.
Saya sempat merasa penasaran ketika melihat kombinasi tersebut. Namun, setelah dicoba, rasa mint justru menyatu dengan baik. Segar tapi tidak mendominasi.
Strawberry Fizz Mocktail dengan stroberi segar, ginger soda, dan lemon pun menjadi minuman yang menyegarkan di antara berbagai hidangan.
Makan berlanjut melalui Ceviche Mixto, Dry-aged Grouper, dan Dry-aged Duck. Namun, salah satu yang paling menarik perhatian saya justru Colombian Corn Cake.
Hidangan ini memberi rasa yang benar-benar baru bagi saya. Ada manis alami dari jagung, berpadu dengan buckwheat, curd, bawang putih, dan yoghurt. Rasanya tidak berhenti pada manis, tetapi juga menghadirkan sedikit gurih dan savory yang membuatnya terasa unik.
Hal menarik dari makan malam ini justru datang dari hidangan yang tidak terlalu saya antisipasi.
Makan malam kemudian ditutup dengan Churros bersama Dark Chocolate dan Vanilla Ice Cream Dulce de Leche, serta Passion Fruit Sorbet dengan mango granita, white chocolate, dan lime posset.
Setelah berbagai sajian dengan karakter rasa yang berbeda, dessert menjadi penutup yang pas untuk malam itu.
Selama berada di Canggu, saya menyadari bahwa makanan tidak melulu soal mengenyangkan perut.
Sepiring makanan bisa menjadi pembuka percakapan, mempertemukan kita dengan orang baru, sekaligus mengenalkan budaya dan rasa yang belum pernah kita coba.
Pada perjalanan kali ini, saya mungkin pulang hanya membawa sedikit bingkisan oleh-oleh, tapi ada banyak rasa yang tersimpan manis di lidah.