Gigi anak yang terlihat renggang mungkin membuat orang tua bertanya-tanya. Apalagi jika celah di antara gigi depan semakin terlihat seiring pertumbuhan.
Kondisi tersebut sebenarnya tidak selalu berarti ada masalah. Pada beberapa anak, celah gigi merupakan bagian dari perkembangan normal saat gigi permanen tumbuh.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kebiasaan yang bikin gigi anak renggang
Meski begitu, sejumlah kebiasaan yang dilakukan terus-menerus juga dapat memengaruhi posisi gigi dan perkembangan rahang. Lantas, kebiasaan apa saja yang bisa bikin gigi anak renggang?
1. Mengisap jempol atau jari
Mengisap jempol mungkin terlihat sebagai kebiasaan kecil untuk membuat anak merasa nyaman. Jika berlangsung terlalu lama, kebiasaan ini dapat memengaruhi posisi gigi dan perkembangan rahang.
American Academy of Pediatric Dentistry (AAPD) menyebut, kebiasaan mengisap yang tidak berkaitan dengan makan, termasuk mengisap jempol dan jari, dapat memengaruhi perkembangan gigitan.
Dampaknya lebih berkaitan dengan perubahan posisi gigi dan bentuk gigitan, seperti anterior open bite atau kondisi ketika gigi depan atas dan bawah tidak bertemu saat mulut tertutup. Maka dari itu, disarankan orang tua mulai menghentikan kebiasaan mengisap nonnutritif sekitar usia 36 bulan atau lebih muda.
2. Terlalu lama menggunakan empeng
Kebiasaan yang bikin gigi anak renggang lainnya adalah ngempeng yang dibiarkan terlalu lama. AAPD menyebut, kebiasaan mengisap nonnutritif yang berlangsung terus-menerus dapat memengaruhi perkembangan susunan gigi dan rahang.
Semakin lama kebiasaan berlangsung, semakin besar perhatian yang perlu diberikan terhadap kemungkinan perubahan gigitan.
Penggunaan empeng sebaiknya tidak dibiarkan menjadi kebiasaan yang terus terbawa hingga anak lebih besar.
3. Posisi lidah saat menelan
Kebiasaan lain yang perlu diperhatikan adalah tongue thrust, yaitu posisi atau gerakan lidah yang mendorong ke depan saat menelan. Kebiasaan ini dapat memberikan tekanan berulang pada gigi depan.
Jika berlangsung dalam jangka panjang, posisi gigi dan pola gigitan anak dapat ikut berubah.
4. Sering bernapas lewat mulut
Anak yang terbiasa bernapas melalui mulut juga perlu diperhatikan, terutama jika berlangsung kronis. Anak yang bernapas melalui mulut cenderung memiliki lengkung gigi rahang atas yang lebih sempit dan lebih berisiko mengalami posterior crossbite.
Kondisi ini memang tidak berarti bernapas lewat mulut secara langsung menyebabkan gigi renggang. Pengaruhnya lebih berkaitan dengan perkembangan rahang dan susunan gigi secara keseluruhan.
Jika anak sering bernapas melalui mulut, terutama saat tidur, penyebabnya juga perlu diperiksa.
Gigi renggang tidak selalu karena kebiasaan
Meski sejumlah kebiasaan dapat memengaruhi susunan gigi, celah pada gigi anak tidak otomatis berarti ada kebiasaan buruk.
Mengutip International Journal of General Medicine, berbagai faktor dapat berperan dalam munculnya celah di antara gigi depan anak atau midline diastema. Faktor tersebut antara lain gigi tambahan, bentuk atau posisi frenulum bibir atas, faktor perkembangan gigi, serta sejumlah faktor lain.
Pada fase pertumbuhan tertentu, celah di antara gigi depan juga dapat muncul secara alami. Kondisi ini dikenal sebagai ugly duckling stage, ketika gigi permanen sedang tumbuh dan posisi gigi belum sepenuhnya stabil.
Orang tua tidak perlu langsung panik ketika melihat gigi anak renggang. Yang perlu diperhatikan adalah bagaimana kondisi tersebut berkembang.
Jika celah semakin besar, posisi gigi tampak berubah, atau punya kebiasaan yang bikin gigi anak renggang di atas, orang tua dianjurkan untuk memeriksakan si kecil ke dokter gigi.
(anm/asr)

