Hindari Minuman Manis dan Kafein Saat Musim Kemarau, Ini Kata Dokter

CNN Indonesia
Rabu, 16 Sep 2026 20:00 WIB
Minuman manis dan kafein ternyata perlu dihindari ketika cuaca sedang panas karena bisa memperparah dehidrasi.
Ilustrasi. Minuman manis dan kafein ternyata perlu dihindari ketika cuaca sedang panas karena bisa memperparah dehidrasi. (Justin Sullivan/Getty Images/AFP)
Daftar Isi
Jakarta, CNN Indonesia --

Saat cuaca sedang panas di musim kemarau ini, minum minuman manis dan dingin mungkin terasa menyegarkan. Namun ternyata minuman manis dan kafein ternyata dua hal yang harus dihindari saat cuaca panas.

Menurut dokter spesialis gizi Putri Sakti, baik minuman berkafein maupun manis tak bisa menggantikan kebutuhan air putih dan justru malah berisiko memicu dehidrasi.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Tidak bisa karena minuman-minuman tersebut justru berisiko memperparah dehidrasi saat cuaca panas," kata Putri di Jakarta, Rabu (16/9), dilansir Antara.

Hal ini karena kandungan kafein seperti pada kopi ataupun teh pekat, memiliki efek diuretik ringan. Efek ini merangsang ginjal mengeluarkan cairan lebih cepat melalui urine.

Adapun pada minuman manis, kadar gula yang tinggi bisa menarik cairan keluar dari sel-sel tubuh ke saluran pencernaan.

Hal ini membuat tubuh jadi membutuhkan lebih banyak air untuk memproses gula tersebut. Rasa haus pun lebih cepat datang. Lalu bagaimana dengan minuman berenergi?

"Minuman berenergi memiliki komposisi tinggi kafein dan gula memberi beban ganda pada kerja jantung dan ginjal saat suhu lingkungan sedang panas," ujar Putri.

Apa yang harus dilakukan agar tidak dehidrasi?

Ada beberapa hal yang bisa Anda lakukan untuk mencegah dehidrasi akibat cuaca panas di musim kemarau ini, selain menghindari minuman manis dan kafein. Ini dia beberapa di antaranya:

1. Minum sebelum haus

Kebanyakan orang baru minum ketika rasa dahaga sudah muncul. Namun Putri menyarankan untuk menerapkan prinsip minum sebelum haus agar bisa mencegah dehidrasi.

Selain itu, asupan cairan terutama air putih perlu ditingkatkan saat musim kemarau, terutama ketika beraktivitas di bawah cuaca terik.

2. Capai target asupan cairan harian

Penting untuk memenuhi asupan cairan setiap harinya. Menurut Putri, target minimal idealnya 2-2,5 liter per hari.

"Bawa botol minum atau tumbler sendiri, siapkan target minimal 2 hingga 2,5 liter per hari, dan tambahkan porsinya jika beraktivitas berat di bawah terik matahari," tuturnya.

3. Konsumsi buah dan sayur tinggi air

Putri juga menyarankan mengonsumsi buah dan sayur kaya air seperti semangka, melon, jeruk, timun, selada, atau sup berkuah bening untuk asupan cairan dan mineral alami.

Semangka, misalnya, terdiri dari 92 persen air menurut Mayo Clinic. Selain itu, semangka juga memiliki antioksidan berupa likopen yang berkaitan erat dengan penurunan risiko kanker, penyakit jantung, hingga gangguan mata terkait usia.

4. Kenakan pakaian yang sesuai

Menjaga tubuh agar tak dehidrasi tak hanya dari soal apa yang dimakan atau diminum, tetapi juga apa yang dikenakan. Saran dari Putri, kenakan pakaian berbahan katun ringan, longgar, dan berwarna terang karena warna gelap menyerap panas lebih banyak.

"Gunakan pelindung fisik seperti pakai topi bertepi lebar atau payung, kacamata hitam, serta sunscreen agar suhu tubuh tidak cepat naik akibat paparan sinar matahari langsung," kata Putri.

Hal yang perlu diwaspadai saat musim kemarau

Menurut Putri, suhu udara yang tinggi saat musim kemarau bisa memicu tubuh mengeluarkan keringat lebih banyak sebagai mekanisme alami untuk mendinginkan diri atau termoregulasi.

Adapun udara kering bisa mempercepat penguapan cairan tubuh melalui pernapasan dan kulit tanpa disadari. Hal ini disebut insensible water loss.

Menurut laman National Library of Medicine, jumlah pasti kehilangan cairan yang tanpa disadari ini tak mudah diukur, tetapi diperkirakan antara 40 hingga 800 mL/hari pada orang dewasa tanpa penyakit komorbid.

Itulah mengapa insensible water loss menjadi komponen penting dari keseimbangan cairan tubuh dan perlu dipantau secara rutin.

"Jika cairan yang keluar tidak segera digantikan, tubuh akan mengalami defisit cairan atau dehidrasi," ujar dia.

Adapun Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengimbau untuk tetap waspada dan melakukan langkah antisipasi menghadapi kemarau yang lebih panjang serta kering. Hal ini mengingat El Nino diperkirakan baru akan mulai meluruh pada awal 2027.

(rti)