6 Kebiasaan Orang Tua yang Tanpa Disadari Bikin Anak Jadi Tertutup
Seiring bertambah besar, anak yang dulu selalu bercerita soal apa pun tiba-tiba lebih sering menjawab, "Enggak ada," ketika ditanya tentang harinya.
Cerita soal sekolah, teman, bahkan masalah yang sedang dihadapi pun perlahan tak lagi sampai ke orang tua.
Perubahan ini tidak selalu berarti anak sedang memberontak. Bisa jadi, ada kebiasaan dalam pola komunikasi di rumah yang membuat anak merasa lebih nyaman menyimpan ceritanya sendiri.
Seperti dikutip dari Times of India, anak umumnya tidak berhenti bercerita kepada orang tua dalam satu momen.
Jarak tersebut dapat terbentuk perlahan lewat interaksi yang berulang, terutama ketika anak merasa dihakimi, diabaikan, atau khawatir dengan respons orang tua.
Berikut beberapa kebiasaan yang tanpa disadari dapat membuat anak semakin tertutup.
1. Membesar-besarkan setiap kesalahan
Anak tentu akan melakukan kesalahan. Mulai dari lupa mengerjakan tugas, kehilangan barang, berbohong soal hal kecil, sampai membuat keputusan yang kemudian mereka sesali.
Masalahnya bukan semata-mata pada kesalahan tersebut, melainkan bagaimana orang tua meresponsnya. Jika setiap kesalahan langsung dibalas dengan amarah, ceramah panjang, atau hukuman, anak bisa belajar bahwa bercerita justru akan membuat masalah menjadi lebih besar.
Akibatnya, anak mungkin tetap membutuhkan bantuan orang tua, tetapi memilih menyembunyikan masalah karena tidak yakin dengan respons yang akan diterima. Dalam jangka panjang, diam bisa terasa sebagai pilihan yang lebih aman dibandingkan berkata jujur.
2. Terlalu cepat menganggap remeh perasaan anak
"Ah, begitu saja nangis." "Jangan lebay." "Kan itu bukan masalah besar." Kalimat seperti ini mungkin terdengar sederhana bagi orang tua. Bagi anak, respons tersebut bisa membuat perasaannya terasa tidak dianggap.
Anak masih belajar mengenali dan memahami emosinya sendiri. Karena itu, respons orang dewasa di sekitarnya ikut membantu mereka memahami apa yang sedang dirasakan.
Melansir Harvard Center on the Developing Child, ada konsep serve and return, interaksi dua arah ketika anak menunjukkan kebutuhan, emosi, atau ketertarikan, lalu orang dewasa merespons dengan perhatian, kata-kata, kontak mata, atau sentuhan yang sesuai.
Interaksi responsif seperti ini berperan dalam perkembangan sosial, emosional, dan otak anak.
Ketika anak sedih atau kecewa, orang tua tidak harus selalu langsung menyelesaikan masalahnya. Terkadang, mendengarkan dan mengakui perasaannya sudah menjadi bentuk dukungan.
3. Sering membandingkan anak dengan orang lain
Membandingkan anak dengan saudara, teman, atau anak lain mungkin dimaksudkan sebagai motivasi. Jika terlalu sering dilakukan, kebiasaan ini justru dapat membuat anak merasa dirinya selalu kurang.
Perbandingan yang terus-menerus dapat membuat anak memperkirakan bahwa cerita yang mereka sampaikan akan berujung pada kritik atau dibandingkan dengan orang lain.
Akibatnya, mereka bisa memilih jawaban yang aman dan mulai menyaring cerita yang ingin dibagikan. Bahkan ketika memiliki kabar baik, anak dapat memilih diam karena khawatir pencapaiannya kembali diukur dengan pencapaian orang lain.
4. Lebih sering marah daripada mendengarkan
Anak mungkin datang membawa cerita yang menurut orang tua sepele. Bisa juga sebaliknya, mereka membawa masalah yang cukup serius.
Jika setiap cerita sulit selalu direspons dengan bentakan, sindiran, atau hukuman, anak lama-kelamaan dapat belajar untuk tidak bercerita.
Jadi anak bukan hanya memikirkan masalah yang sedang dihadapi. Mereka juga membaca reaksi orang tua untuk menentukan apakah situasinya cukup aman untuk dibicarakan.
5. Langsung memberi ceramah atau solusi
Ada kalanya anak sebenarnya hanya ingin didengarkan. Ketika anak bercerita, orang tua mungkin refleks langsung memberikan nasihat, menyalahkan, atau mencari solusi. Niatnya tentu membantu.
Akan tetapi, jika setiap cerita selalu berubah menjadi sesi ceramah, anak bisa merasa tidak punya ruang untuk sekadar mengungkapkan apa yang mereka rasakan.
Interaksi yang responsif justru dimulai dengan memperhatikan apa yang sedang menjadi perhatian anak, kemudian merespons dan mengikuti arah interaksi tersebut.
6. Membuat anak merasa ceritanya bisa digunakan untuk melawannya
Kepercayaan anak tidak hanya dibangun ketika orang tua mendengarkan cerita yang menyenangkan. Justru, respons ketika anak membawa cerita yang sulit menjadi sangat penting.
Jika informasi pribadi yang pernah dibagikan anak kemudian sering dijadikan bahan ejekan, sindiran, atau senjata saat bertengkar, anak bisa belajar bahwa membuka diri memiliki risiko.
Mereka pun mulai menyimpan hal-hal tertentu untuk diri sendiri. Padahal, hubungan yang responsif membutuhkan interaksi dua arah yang konsisten.
Hubungan yang responsif dan penuh perhatian membantu membangun fondasi perkembangan anak sekaligus memberikan perlindungan ketika anak menghadapi pengalaman yang sulit.
Demikian beberapa kebiasaan yang tanpa disadari dapat membuat anak semakin tertutup.
(anm/fef)