SURAT DARI RANTAU

Dari Bayang Pandemi hingga Lembaran Hidup yang Berlanjut di Wuhan

Melanie Simanjuntak | CNN Indonesia
Sabtu, 19 Sep 2026 10:30 WIB
Dari Bayang Pandemi hingga Lembaran Hidup yang Berlanjut di Wuhan
Pemandangan Jianghan Road Pedestrian Street, Hankou di Wuhan, China. (Dok Pribadi Melanie Simanjuntak)
Jakarta, CNN Indonesia --

Ketika kaki saya pertama kali memijak bumi Wuhan pada November 2022, ada desir halus rasa takut yang menyelinap di dada. Bagaimana tidak? Nama kota ini pernah mendunia dan melekat erat dengan awal mula pandemi Covid-19.

Namun, di balik rasa gentar itu, ada dorongan penasaran yang membuncah. Sebagai penerima beasiswa Chinese Government Scholarship untuk menempuh studi S2 Hubungan Internasional di Central China Normal University (CCNU), saya merasa tertantang untuk menyaksikan sendiri bagaimana Wuhan merajut kembali kehidupannya pasca-pandemi.

Kesan pertama kota ini ternyata tak jauh berbeda dengan suasana di tanah air kala itu: sepi dan penuh kehati-hatian. Kami diwajibkan menjalani isolasi ketat selama dua minggu di hotel dan asrama kampus. Saban hari, petugas medis mengetuk pintu untuk melakukan screening dan swab test.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Selama dua bulan pertama di luar ruangan, masker masih menjadi kawan setia yang tak boleh ditanggalkan, berdampingan dengan aturan menjaga jarak. Kebiasaan memakai masker saat sakit bahkan masih bertahan di Wuhan hingga hari ini, meski ritual mencuci tangan di setiap pintu masuk perlahan mulai memudar.

Hari-hari awal karantina di kamar asrama terasa amat panjang dan menjemukan. Pintu kamar menjadi batas dunia kami. Makanan untuk sarapan, makan siang, dan makan malam diletakkan begitu saja oleh petugas di depan pintu. Di sinilah ujian lidah dimulai.

Kuliner Wuhan yang cenderung sangat berminyak dan menyengat dengan bumbu mala khas Provinsi Sichuan terasa sangat asing bagi lidah Indonesia saya. Menunya yang kurang lebih sama setiap hari perlahan memicu rasa bosan.

Dalam keterbatasan itu, kehangatan sesama anak bangsa menjadi penyelamat. Pihak kampus menunjuk mahasiswa Indonesia yang tiba lebih dulu untuk menjadi volunteer. Merekalah yang dengan sigap membelikan barang-barang kebutuhan sehari-hari kami.

Di balik pintu yang terkunci, jalur VPN menjadi satu-satunya 'jendela' kami untuk menyapa keluarga di rumah via WhatsApp, Instagram, hingga Google.

Seiring berjalannya waktu, lidah ini perlahan berdamai dengan rasa. Saya baru memahami bahwa Chinese food yang populer di Indonesia rupanya lebih adaptif dan mirip dengan masakan khas Provinsi Fujian, sangat berbeda dengan karakter masakan tengah Tiongkok yang berani rempah dan pedas menyengat.

Surat Dari Rantau WuhanCultural Festival Central China Normal University 2025 di Wuhan. (Foto: Dok. Melanie Simanjuntak)

Kini, saat jam istirahat kuliah, saya sudah terbiasa menyantap sajian di kantin kampus. Namun, jika rasa rindu pada masakan Nusantara sudah tak tertahankan, kami biasanya memasak sendiri di asrama atau menyambangi restoran Thailand yang memiliki profil rasa mirip-karena di Wuhan sendiri memang belum ada restoran Indonesia.

Tinggal jauh dari tanah air tak lantas membuat saya merasa sendiri. Melalui Perhimpunan Pelajar Indonesia di Tiongkok (PPIT) cabang Wuhan, kami merajut rasa kekeluargaan. Mulai dari Welcoming Party untuk menyambut mahasiswa baru, acara buka puasa bersama di bulan Ramadan, santap malam memperingati Natal dan Tahun Baru, hingga ajang olahraga Wuhan Cup, semua menjadi penawar rindu akan kampung halaman.

Lanjut ke sebelah..

Pengalaman Pertama Tatap Muka dengan Warga Wuhan BACA HALAMAN BERIKUTNYA

HALAMAN:
1 2