Ketika kaki saya pertama kali memijak bumi Wuhan pada November 2022, ada desir halus rasa takut yang menyelinap di dada. Bagaimana tidak? Nama kota ini pernah mendunia dan melekat erat dengan awal mula pandemi Covid-19.
Namun, di balik rasa gentar itu, ada dorongan penasaran yang membuncah. Sebagai penerima beasiswa Chinese Government Scholarship untuk menempuh studi S2 Hubungan Internasional di Central China Normal University (CCNU), saya merasa tertantang untuk menyaksikan sendiri bagaimana Wuhan merajut kembali kehidupannya pasca-pandemi.
Kesan pertama kota ini ternyata tak jauh berbeda dengan suasana di tanah air kala itu: sepi dan penuh kehati-hatian. Kami diwajibkan menjalani isolasi ketat selama dua minggu di hotel dan asrama kampus. Saban hari, petugas medis mengetuk pintu untuk melakukan screening dan swab test.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selama dua bulan pertama di luar ruangan, masker masih menjadi kawan setia yang tak boleh ditanggalkan, berdampingan dengan aturan menjaga jarak. Kebiasaan memakai masker saat sakit bahkan masih bertahan di Wuhan hingga hari ini, meski ritual mencuci tangan di setiap pintu masuk perlahan mulai memudar.
Hari-hari awal karantina di kamar asrama terasa amat panjang dan menjemukan. Pintu kamar menjadi batas dunia kami. Makanan untuk sarapan, makan siang, dan makan malam diletakkan begitu saja oleh petugas di depan pintu. Di sinilah ujian lidah dimulai.
Kuliner Wuhan yang cenderung sangat berminyak dan menyengat dengan bumbu mala khas Provinsi Sichuan terasa sangat asing bagi lidah Indonesia saya. Menunya yang kurang lebih sama setiap hari perlahan memicu rasa bosan.
Dalam keterbatasan itu, kehangatan sesama anak bangsa menjadi penyelamat. Pihak kampus menunjuk mahasiswa Indonesia yang tiba lebih dulu untuk menjadi volunteer. Merekalah yang dengan sigap membelikan barang-barang kebutuhan sehari-hari kami.
Di balik pintu yang terkunci, jalur VPN menjadi satu-satunya 'jendela' kami untuk menyapa keluarga di rumah via WhatsApp, Instagram, hingga Google.
Seiring berjalannya waktu, lidah ini perlahan berdamai dengan rasa. Saya baru memahami bahwa Chinese food yang populer di Indonesia rupanya lebih adaptif dan mirip dengan masakan khas Provinsi Fujian, sangat berbeda dengan karakter masakan tengah Tiongkok yang berani rempah dan pedas menyengat.
Cultural Festival Central China Normal University 2025 di Wuhan. (Foto: Dok. Melanie Simanjuntak)
Kini, saat jam istirahat kuliah, saya sudah terbiasa menyantap sajian di kantin kampus. Namun, jika rasa rindu pada masakan Nusantara sudah tak tertahankan, kami biasanya memasak sendiri di asrama atau menyambangi restoran Thailand yang memiliki profil rasa mirip-karena di Wuhan sendiri memang belum ada restoran Indonesia.
Tinggal jauh dari tanah air tak lantas membuat saya merasa sendiri. Melalui Perhimpunan Pelajar Indonesia di Tiongkok (PPIT) cabang Wuhan, kami merajut rasa kekeluargaan. Mulai dari Welcoming Party untuk menyambut mahasiswa baru, acara buka puasa bersama di bulan Ramadan, santap malam memperingati Natal dan Tahun Baru, hingga ajang olahraga Wuhan Cup, semua menjadi penawar rindu akan kampung halaman.
Lanjut ke sebelah..
Salah satu momen paling membanggakan adalah saat ajang Cultural Festival di kampus. Penampilan mahasiswa Indonesia selalu diperhitungkan. Bahkan di CCNU, tim Indonesia selalu dipercaya menjadi opening act utama yang disaksikan langsung oleh para pimpinan universitas dan tamu undangan penting.
Ketika kami mengenakan pakaian adat-terutama baju adat Dayak dan Papua-banyak mahasiswa lokal maupun mancanegara yang berdecak kagum. Mereka tak segan mengantre untuk berfoto bersama atau sekadar meminjam aksesoris tradisional yang kami kenakan.
Pengalaman bertatap muka langsung dengan warga lokal Wuhan sekaligus meruntuhkan stigma lama dalam kepala saya. Dulu, ada prasangka bahwa masyarakat Tiongkok cenderung tertutup pada orang asing-sebuah pandangan yang sempat terngiang akibat pengalaman kurang menyenangkan saat berkunjung ke Hong Kong.
Nyatanya, warga lokal di Tiongkok daratan, khususnya Wuhan, sangat ramah dan suka membantu. Mereka kerap mengajak berbincang dengan antusias saat tahu saya berasal dari Indonesia, bahkan tak jarang meminta foto bersama.
Kehidupan beragama pun ternyata sangat aman dan nyaman. Dulu saya mengira Tiongkok sangat melarang aktivitas keagamaan, tetapi di sini gereja dan masjid tetap berdiri walau jumlahnya terbatas. Untuk urusan perut, keberadaan restoran-restoran khas Xinjiang yang menyajikan hidangan halal menjadi oase yang menenangkan hati bagi mahasiswa Muslim.
Tinggal di Wuhan juga membentuk kebiasaan dan perspektif baru dalam hidup saya. Saya tertular gaya hidup sehat warga lokal yang gemar berolahraga setelah jam kelas usai. Aktivitas favorit saya kini adalah jogging di lintasan atletik kampus atau menyusuri indahnya East Lake (Donghu), danau terbesar di Tiongkok yang memanjakan mata.
Di waktu senggang, saya juga sempat menjelajahi keagungan landmark ikonik seperti Yellow Crane Tower (Huang He Lou), berburu kuliner di Jianghan Road Pedestrian Street, hingga melawat ke kota-kota lain seperti Shanghai, Chengdu, Chongqing, Hangzhou, dan Changsha.
Namun, hal paling berharga yang saya pelajari adalah pola pikir warga lokal yang sangat mind your own business dan berfokus pada self-development. Mereka terbiasa fokus belajar, bekerja, dan mengembangkan potensi diri tanpa sibuk menilai orang lain dari penampilan luar-sebuah kontras yang memberikan saya kesadaran dan sudut pandang baru dalam memandang hidup.
Wuhan kini bukan lagi kota dalam bayang-bayang ketakutan pandemi. Bagi saya, kota di tepi Sungai Yangtze ini telah menjelma menjadi ruang tumbuh, tempat belajar memahami keberagaman, dan rumah kedua yang mengukir kisah manis dalam lembaran hidup saya di perantauan.
Jakarta, CNN Indonesia --
Ketika kaki saya pertama kali memijak bumi Wuhan pada November 2022, ada desir halus rasa takut yang menyelinap di dada. Bagaimana tidak? Nama kota ini pernah mendunia dan melekat erat dengan awal mula pandemi Covid-19.
Namun, di balik rasa gentar itu, ada dorongan penasaran yang membuncah. Sebagai penerima beasiswa Chinese Government Scholarship untuk menempuh studi S2 Hubungan Internasional di Central China Normal University (CCNU), saya merasa tertantang untuk menyaksikan sendiri bagaimana Wuhan merajut kembali kehidupannya pasca-pandemi.
Kesan pertama kota ini ternyata tak jauh berbeda dengan suasana di tanah air kala itu: sepi dan penuh kehati-hatian. Kami diwajibkan menjalani isolasi ketat selama dua minggu di hotel dan asrama kampus. Saban hari, petugas medis mengetuk pintu untuk melakukan screening dan swab test.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selama dua bulan pertama di luar ruangan, masker masih menjadi kawan setia yang tak boleh ditanggalkan, berdampingan dengan aturan menjaga jarak. Kebiasaan memakai masker saat sakit bahkan masih bertahan di Wuhan hingga hari ini, meski ritual mencuci tangan di setiap pintu masuk perlahan mulai memudar.
Hari-hari awal karantina di kamar asrama terasa amat panjang dan menjemukan. Pintu kamar menjadi batas dunia kami. Makanan untuk sarapan, makan siang, dan makan malam diletakkan begitu saja oleh petugas di depan pintu. Di sinilah ujian lidah dimulai.
Kuliner Wuhan yang cenderung sangat berminyak dan menyengat dengan bumbu mala khas Provinsi Sichuan terasa sangat asing bagi lidah Indonesia saya. Menunya yang kurang lebih sama setiap hari perlahan memicu rasa bosan.
Dalam keterbatasan itu, kehangatan sesama anak bangsa menjadi penyelamat. Pihak kampus menunjuk mahasiswa Indonesia yang tiba lebih dulu untuk menjadi volunteer. Merekalah yang dengan sigap membelikan barang-barang kebutuhan sehari-hari kami.
Di balik pintu yang terkunci, jalur VPN menjadi satu-satunya 'jendela' kami untuk menyapa keluarga di rumah via WhatsApp, Instagram, hingga Google.
Seiring berjalannya waktu, lidah ini perlahan berdamai dengan rasa. Saya baru memahami bahwa Chinese food yang populer di Indonesia rupanya lebih adaptif dan mirip dengan masakan khas Provinsi Fujian, sangat berbeda dengan karakter masakan tengah Tiongkok yang berani rempah dan pedas menyengat.
Cultural Festival Central China Normal University 2025 di Wuhan. (Foto: Dok. Melanie Simanjuntak)
Kini, saat jam istirahat kuliah, saya sudah terbiasa menyantap sajian di kantin kampus. Namun, jika rasa rindu pada masakan Nusantara sudah tak tertahankan, kami biasanya memasak sendiri di asrama atau menyambangi restoran Thailand yang memiliki profil rasa mirip-karena di Wuhan sendiri memang belum ada restoran Indonesia.
Tinggal jauh dari tanah air tak lantas membuat saya merasa sendiri. Melalui Perhimpunan Pelajar Indonesia di Tiongkok (PPIT) cabang Wuhan, kami merajut rasa kekeluargaan. Mulai dari Welcoming Party untuk menyambut mahasiswa baru, acara buka puasa bersama di bulan Ramadan, santap malam memperingati Natal dan Tahun Baru, hingga ajang olahraga Wuhan Cup, semua menjadi penawar rindu akan kampung halaman.
Lanjut ke sebelah..
Pengalaman Pertama Tatap Muka dengan Warga Wuhan
Event Wuhan Marathon di sekitar Yellow Crane Tower, Wuhan, China. (Dok Pribadi Melanie Simanjuntak)
Salah satu momen paling membanggakan adalah saat ajang Cultural Festival di kampus. Penampilan mahasiswa Indonesia selalu diperhitungkan. Bahkan di CCNU, tim Indonesia selalu dipercaya menjadi opening act utama yang disaksikan langsung oleh para pimpinan universitas dan tamu undangan penting.
Ketika kami mengenakan pakaian adat-terutama baju adat Dayak dan Papua-banyak mahasiswa lokal maupun mancanegara yang berdecak kagum. Mereka tak segan mengantre untuk berfoto bersama atau sekadar meminjam aksesoris tradisional yang kami kenakan.
Pengalaman bertatap muka langsung dengan warga lokal Wuhan sekaligus meruntuhkan stigma lama dalam kepala saya. Dulu, ada prasangka bahwa masyarakat Tiongkok cenderung tertutup pada orang asing-sebuah pandangan yang sempat terngiang akibat pengalaman kurang menyenangkan saat berkunjung ke Hong Kong.
Nyatanya, warga lokal di Tiongkok daratan, khususnya Wuhan, sangat ramah dan suka membantu. Mereka kerap mengajak berbincang dengan antusias saat tahu saya berasal dari Indonesia, bahkan tak jarang meminta foto bersama.
Kehidupan beragama pun ternyata sangat aman dan nyaman. Dulu saya mengira Tiongkok sangat melarang aktivitas keagamaan, tetapi di sini gereja dan masjid tetap berdiri walau jumlahnya terbatas. Untuk urusan perut, keberadaan restoran-restoran khas Xinjiang yang menyajikan hidangan halal menjadi oase yang menenangkan hati bagi mahasiswa Muslim.
Tinggal di Wuhan juga membentuk kebiasaan dan perspektif baru dalam hidup saya. Saya tertular gaya hidup sehat warga lokal yang gemar berolahraga setelah jam kelas usai. Aktivitas favorit saya kini adalah jogging di lintasan atletik kampus atau menyusuri indahnya East Lake (Donghu), danau terbesar di Tiongkok yang memanjakan mata.
Di waktu senggang, saya juga sempat menjelajahi keagungan landmark ikonik seperti Yellow Crane Tower (Huang He Lou), berburu kuliner di Jianghan Road Pedestrian Street, hingga melawat ke kota-kota lain seperti Shanghai, Chengdu, Chongqing, Hangzhou, dan Changsha.
Namun, hal paling berharga yang saya pelajari adalah pola pikir warga lokal yang sangat mind your own business dan berfokus pada self-development. Mereka terbiasa fokus belajar, bekerja, dan mengembangkan potensi diri tanpa sibuk menilai orang lain dari penampilan luar-sebuah kontras yang memberikan saya kesadaran dan sudut pandang baru dalam memandang hidup.
Wuhan kini bukan lagi kota dalam bayang-bayang ketakutan pandemi. Bagi saya, kota di tepi Sungai Yangtze ini telah menjelma menjadi ruang tumbuh, tempat belajar memahami keberagaman, dan rumah kedua yang mengukir kisah manis dalam lembaran hidup saya di perantauan.