SURAT DARI RANTAU

Dari Bayang Pandemi hingga Lembaran Hidup yang Berlanjut di Wuhan

Melanie Simanjuntak | CNN Indonesia
Sabtu, 19 Sep 2026 10:30 WIB
Dari Bayang Pandemi hingga Lembaran Hidup yang Berlanjut di Wuhan
Pemandangan Jianghan Road Pedestrian Street, Hankou di Wuhan, China. (Dok Pribadi Melanie Simanjuntak)

Salah satu momen paling membanggakan adalah saat ajang Cultural Festival di kampus. Penampilan mahasiswa Indonesia selalu diperhitungkan. Bahkan di CCNU, tim Indonesia selalu dipercaya menjadi opening act utama yang disaksikan langsung oleh para pimpinan universitas dan tamu undangan penting.

Ketika kami mengenakan pakaian adat-terutama baju adat Dayak dan Papua-banyak mahasiswa lokal maupun mancanegara yang berdecak kagum. Mereka tak segan mengantre untuk berfoto bersama atau sekadar meminjam aksesoris tradisional yang kami kenakan.

Pengalaman bertatap muka langsung dengan warga lokal Wuhan sekaligus meruntuhkan stigma lama dalam kepala saya. Dulu, ada prasangka bahwa masyarakat Tiongkok cenderung tertutup pada orang asing-sebuah pandangan yang sempat terngiang akibat pengalaman kurang menyenangkan saat berkunjung ke Hong Kong.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Nyatanya, warga lokal di Tiongkok daratan, khususnya Wuhan, sangat ramah dan suka membantu. Mereka kerap mengajak berbincang dengan antusias saat tahu saya berasal dari Indonesia, bahkan tak jarang meminta foto bersama.

Kehidupan beragama pun ternyata sangat aman dan nyaman. Dulu saya mengira Tiongkok sangat melarang aktivitas keagamaan, tetapi di sini gereja dan masjid tetap berdiri walau jumlahnya terbatas. Untuk urusan perut, keberadaan restoran-restoran khas Xinjiang yang menyajikan hidangan halal menjadi oase yang menenangkan hati bagi mahasiswa Muslim.

Tinggal di Wuhan juga membentuk kebiasaan dan perspektif baru dalam hidup saya. Saya tertular gaya hidup sehat warga lokal yang gemar berolahraga setelah jam kelas usai. Aktivitas favorit saya kini adalah jogging di lintasan atletik kampus atau menyusuri indahnya East Lake (Donghu), danau terbesar di Tiongkok yang memanjakan mata.

Di waktu senggang, saya juga sempat menjelajahi keagungan landmark ikonik seperti Yellow Crane Tower (Huang He Lou), berburu kuliner di Jianghan Road Pedestrian Street, hingga melawat ke kota-kota lain seperti Shanghai, Chengdu, Chongqing, Hangzhou, dan Changsha.

Namun, hal paling berharga yang saya pelajari adalah pola pikir warga lokal yang sangat mind your own business dan berfokus pada self-development. Mereka terbiasa fokus belajar, bekerja, dan mengembangkan potensi diri tanpa sibuk menilai orang lain dari penampilan luar-sebuah kontras yang memberikan saya kesadaran dan sudut pandang baru dalam memandang hidup.

Wuhan kini bukan lagi kota dalam bayang-bayang ketakutan pandemi. Bagi saya, kota di tepi Sungai Yangtze ini telah menjelma menjadi ruang tumbuh, tempat belajar memahami keberagaman, dan rumah kedua yang mengukir kisah manis dalam lembaran hidup saya di perantauan.

(wiw)


[Gambas:Video CNN]

HALAMAN:
1 2