Hari Alzheimer Sedunia 2026, Kenali Penyakit yang Menyerang Otak
CNN Indonesia
Senin, 21 Sep 2026 11:15 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Ilustrasi. 21 September diperingati sebagai Hari Alzheimer Sedunia. Lantas, apa beda Alzheimer dan demensia serta tanda gangguan kognitif yang perlu dikenali? (Foto: iStockphoto/Motortion)
Jakarta, CNN Indonesia --
Setiap 21 September diperingati sebagai Hari Alzheimer Sedunia. Peringatan ini menjadi momentum untuk meningkatkan kesadaran tentang Alzheimer dan demensia, termasuk pentingnya mengenali gejala dan mendapatkan diagnosis lebih awal.
Tahun ini, kampanye World Alzheimer's Month mengangkat pesan, "The Earlier You Know, The More You Can Do: A Dementia Diagnosis Matters."
Pesan tersebut menekankan pentingnya mengenali dan memeriksa kondisi sejak lebih awal, terutama karena Alzheimer lebih banyak menyerang orang lanjut usia.
Indonesia sendiri sudah memasuki fase ageing population, ketika jumlah penduduk lanjut usia semakin besar. Kondisi ini membuat perhatian terhadap penyakit yang berkaitan dengan usia, termasuk Alzheimer dan demensia, menjadi semakin penting.
Lantas, seberapa banyak orang yang terdampak demensia dan Alzheimer, terutama di Indonesia?
Lebih dari 2 juta kasus demensia di Indonesia
Jumlah orang lanjut usia di Indonesia terus bertambah. Kondisi ini ikut membuat persoalan demensia semakin perlu diperhatikan.
Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Imran Pambudi mengatakan jumlah kasus demensia di Indonesia diperkirakan meningkat seiring bertambahnya populasi lansia.
"Pada 2025 jumlah lansia usia 60 tahun ke atas diperkirakan mencapai 34 juta atau 11,9 persen dari total populasi. Estimasi menunjukkan lebih dari 2 juta kasus demensia pada 2025, dengan Alzheimer menjadi bentuk dominan dan menyumbang lebih dari 60 persen dari total kasus demensia nasional," kata Imran, dikutip dari Antara.
Angka tersebut merupakan perkiraan jumlah kasus demensia, bukan jumlah pasti orang yang sudah mendapatkan diagnosis Alzheimer.
Kemenkes sendiri pada laman resminya masih mencantumkan sekitar 1,2 juta orang dengan demensia pada 2016. Jumlah itu diproyeksikan meningkat menjadi 2 juta pada 2030 dan 4 juta pada 2050.
Skrining menunjukkan gangguan kognitif pada lansia
Data Kemenkes juga memberikan gambaran soal kondisi fungsi kognitif pada kelompok lanjut usia. Dalam publikasi resmi Infarkes Edisi I 2025, hasil awal program Cek Kesehatan Gratis (CKG) mencatat 32,36 persen lansia mengalami gangguan kognitif.
Meski begitu, angka ini tidak berarti 32,36 persen lansia tersebut mengalami Alzheimer. Gangguan kognitif merupakan istilah yang lebih luas dan bisa disebabkan oleh berbagai kondisi.
Untuk mengetahui apakah seseorang mengalami Alzheimer, diperlukan pemeriksaan dan penilaian medis lebih lanjut.
Baca halaman selanjutnya...
Alzheimer dan demensia, apa bedanya?
Alzheimer dan demensia sering dianggap sama. Padahal, keduanya berbeda. WHO menjelaskan demensia sebagai istilah umum untuk berbagai penyakit yang menyebabkan kemampuan otak menurun.
Kondisi ini bisa memengaruhi daya ingat, kemampuan berpikir, berkomunikasi, mengambil keputusan, hingga melakukan aktivitas sehari-hari.
Sementara itu, Alzheimer adalah salah satu penyakit yang menyebabkan demensia dan merupakan bentuk yang paling umum. WHO memperkirakan Alzheimer menyumbang sekitar 60-70 persen dari seluruh kasus demensia.
Secara global, sekitar 57 juta orang hidup dengan demensia pada 2021. WHO juga memperkirakan hampir 10 juta kasus baru terjadi setiap tahun. Yang perlu diingat, demensia bukan bagian normal dari penuaan.
Memang, risiko demensia meningkat seiring bertambahnya usia, tetapi menjadi lansia tidak berarti seseorang pasti akan mengalami demensia.
Alzheimer membuat sel-sel saraf di otak mengalami kerusakan secara bertahap. Salah satu perubahan yang terjadi berkaitan dengan penumpukan protein tertentu di otak.
Dua di antaranya adalah beta-amiloid dan protein tau. Beta-amiloid dapat membentuk plaques di sekitar sel saraf, sedangkan protein tau dapat membentuk tangles atau serabut kusut di dalam sel saraf. Perubahan tersebut kemudian dapat mengganggu komunikasi antarsel saraf.
Seiring waktu, sel-sel saraf bisa mengalami kerusakan dan mati. Salah satu bagian otak yang terdampak sejak awal adalah hipokampus, bagian yang berperan penting dalam pembentukan dan penyimpanan ingatan.
Itulah sebabnya, masalah daya ingat sering menjadi salah satu tanda yang pertama kali terlihat. Alzheimer tidak hanya membuat seseorang lebih mudah lupa.
Ketika penyakit berkembang, seseorang bisa mengalami kesulitan berpikir, memecahkan masalah, berbahasa, mengambil keputusan, hingga melakukan aktivitas sehari-hari.
Gejalanya juga dapat semakin berat dari waktu ke waktu. Dampaknya bukan hanya dirasakan oleh orang yang mengalami Alzheimer, tetapi juga keluarga atau caregiver yang mendampinginya.
Saat ini Alzheimer belum dapat disembuhkan. Pengobatan dan terapi yang tersedia ditujukan untuk membantu mengendalikan gejala, memperlambat perkembangan penyakit pada kondisi tertentu, serta membantu mempertahankan kualitas hidup pasien.
Hari Alzheimer Sedunia pada 21 September pun bukan sekadar momentum untuk mengingat angka kasus. Peringatan ini menjadi pengingat bahwa Alzheimer dan demensia bisa membawa perubahan besar, bukan hanya bagi penderitanya, tetapi juga bagi keluarga yang mendampingi.
Dengan mengenali perbedaannya dan memahami tanda-tandanya, masyarakat diharapkan tidak lagi menganggap perubahan fungsi kognitif sebagai sesuatu yang otomatis terjadi karena usia.
Jakarta, CNN Indonesia --
Setiap 21 September diperingati sebagai Hari Alzheimer Sedunia. Peringatan ini menjadi momentum untuk meningkatkan kesadaran tentang Alzheimer dan demensia, termasuk pentingnya mengenali gejala dan mendapatkan diagnosis lebih awal.
Tahun ini, kampanye World Alzheimer's Month mengangkat pesan, "The Earlier You Know, The More You Can Do: A Dementia Diagnosis Matters."
Pesan tersebut menekankan pentingnya mengenali dan memeriksa kondisi sejak lebih awal, terutama karena Alzheimer lebih banyak menyerang orang lanjut usia.
Indonesia sendiri sudah memasuki fase ageing population, ketika jumlah penduduk lanjut usia semakin besar. Kondisi ini membuat perhatian terhadap penyakit yang berkaitan dengan usia, termasuk Alzheimer dan demensia, menjadi semakin penting.
Lantas, seberapa banyak orang yang terdampak demensia dan Alzheimer, terutama di Indonesia?
Lebih dari 2 juta kasus demensia di Indonesia
Jumlah orang lanjut usia di Indonesia terus bertambah. Kondisi ini ikut membuat persoalan demensia semakin perlu diperhatikan.
Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Imran Pambudi mengatakan jumlah kasus demensia di Indonesia diperkirakan meningkat seiring bertambahnya populasi lansia.
"Pada 2025 jumlah lansia usia 60 tahun ke atas diperkirakan mencapai 34 juta atau 11,9 persen dari total populasi. Estimasi menunjukkan lebih dari 2 juta kasus demensia pada 2025, dengan Alzheimer menjadi bentuk dominan dan menyumbang lebih dari 60 persen dari total kasus demensia nasional," kata Imran, dikutip dari Antara.
Angka tersebut merupakan perkiraan jumlah kasus demensia, bukan jumlah pasti orang yang sudah mendapatkan diagnosis Alzheimer.
Kemenkes sendiri pada laman resminya masih mencantumkan sekitar 1,2 juta orang dengan demensia pada 2016. Jumlah itu diproyeksikan meningkat menjadi 2 juta pada 2030 dan 4 juta pada 2050.
Skrining menunjukkan gangguan kognitif pada lansia
Data Kemenkes juga memberikan gambaran soal kondisi fungsi kognitif pada kelompok lanjut usia. Dalam publikasi resmi Infarkes Edisi I 2025, hasil awal program Cek Kesehatan Gratis (CKG) mencatat 32,36 persen lansia mengalami gangguan kognitif.
Meski begitu, angka ini tidak berarti 32,36 persen lansia tersebut mengalami Alzheimer. Gangguan kognitif merupakan istilah yang lebih luas dan bisa disebabkan oleh berbagai kondisi.
Untuk mengetahui apakah seseorang mengalami Alzheimer, diperlukan pemeriksaan dan penilaian medis lebih lanjut.
Baca halaman selanjutnya...
Hari Alzheimer Sedunia 2026, Kenali Penyakit yang Menyerang Otak
Ilustrasi beda Alzheimer dan demensia. (Foto: iStock/LightFieldStudios)
Alzheimer dan demensia, apa bedanya?
Alzheimer dan demensia sering dianggap sama. Padahal, keduanya berbeda. WHO menjelaskan demensia sebagai istilah umum untuk berbagai penyakit yang menyebabkan kemampuan otak menurun.
Kondisi ini bisa memengaruhi daya ingat, kemampuan berpikir, berkomunikasi, mengambil keputusan, hingga melakukan aktivitas sehari-hari.
Sementara itu, Alzheimer adalah salah satu penyakit yang menyebabkan demensia dan merupakan bentuk yang paling umum. WHO memperkirakan Alzheimer menyumbang sekitar 60-70 persen dari seluruh kasus demensia.
Secara global, sekitar 57 juta orang hidup dengan demensia pada 2021. WHO juga memperkirakan hampir 10 juta kasus baru terjadi setiap tahun. Yang perlu diingat, demensia bukan bagian normal dari penuaan.
Memang, risiko demensia meningkat seiring bertambahnya usia, tetapi menjadi lansia tidak berarti seseorang pasti akan mengalami demensia.
Alzheimer membuat sel-sel saraf di otak mengalami kerusakan secara bertahap. Salah satu perubahan yang terjadi berkaitan dengan penumpukan protein tertentu di otak.
Dua di antaranya adalah beta-amiloid dan protein tau. Beta-amiloid dapat membentuk plaques di sekitar sel saraf, sedangkan protein tau dapat membentuk tangles atau serabut kusut di dalam sel saraf. Perubahan tersebut kemudian dapat mengganggu komunikasi antarsel saraf.
Seiring waktu, sel-sel saraf bisa mengalami kerusakan dan mati. Salah satu bagian otak yang terdampak sejak awal adalah hipokampus, bagian yang berperan penting dalam pembentukan dan penyimpanan ingatan.
Itulah sebabnya, masalah daya ingat sering menjadi salah satu tanda yang pertama kali terlihat. Alzheimer tidak hanya membuat seseorang lebih mudah lupa.
Ketika penyakit berkembang, seseorang bisa mengalami kesulitan berpikir, memecahkan masalah, berbahasa, mengambil keputusan, hingga melakukan aktivitas sehari-hari.
Gejalanya juga dapat semakin berat dari waktu ke waktu. Dampaknya bukan hanya dirasakan oleh orang yang mengalami Alzheimer, tetapi juga keluarga atau caregiver yang mendampinginya.
Saat ini Alzheimer belum dapat disembuhkan. Pengobatan dan terapi yang tersedia ditujukan untuk membantu mengendalikan gejala, memperlambat perkembangan penyakit pada kondisi tertentu, serta membantu mempertahankan kualitas hidup pasien.
Hari Alzheimer Sedunia pada 21 September pun bukan sekadar momentum untuk mengingat angka kasus. Peringatan ini menjadi pengingat bahwa Alzheimer dan demensia bisa membawa perubahan besar, bukan hanya bagi penderitanya, tetapi juga bagi keluarga yang mendampingi.
Dengan mengenali perbedaannya dan memahami tanda-tandanya, masyarakat diharapkan tidak lagi menganggap perubahan fungsi kognitif sebagai sesuatu yang otomatis terjadi karena usia.