Hari Alzheimer Sedunia 2026, Kenali Penyakit yang Menyerang Otak

CNN Indonesia
Senin, 21 Sep 2026 11:15 WIB
21 September diperingati sebagai Hari Alzheimer Sedunia. Lantas, apa beda Alzheimer dan demensia serta tanda gangguan kognitif yang perlu dikenali?
Ilustrasi. 21 September diperingati sebagai Hari Alzheimer Sedunia. Lantas, apa beda Alzheimer dan demensia serta tanda gangguan kognitif yang perlu dikenali? (Foto: iStockphoto/Motortion)

Alzheimer dan demensia, apa bedanya?

Alzheimer dan demensia sering dianggap sama. Padahal, keduanya berbeda. WHO menjelaskan demensia sebagai istilah umum untuk berbagai penyakit yang menyebabkan kemampuan otak menurun.

Kondisi ini bisa memengaruhi daya ingat, kemampuan berpikir, berkomunikasi, mengambil keputusan, hingga melakukan aktivitas sehari-hari.

Sementara itu, Alzheimer adalah salah satu penyakit yang menyebabkan demensia dan merupakan bentuk yang paling umum. WHO memperkirakan Alzheimer menyumbang sekitar 60-70 persen dari seluruh kasus demensia.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Secara global, sekitar 57 juta orang hidup dengan demensia pada 2021. WHO juga memperkirakan hampir 10 juta kasus baru terjadi setiap tahun. Yang perlu diingat, demensia bukan bagian normal dari penuaan.

Memang, risiko demensia meningkat seiring bertambahnya usia, tetapi menjadi lansia tidak berarti seseorang pasti akan mengalami demensia.


Apa yang terjadi pada otak penderita Alzheimer?

Alzheimer membuat sel-sel saraf di otak mengalami kerusakan secara bertahap. Salah satu perubahan yang terjadi berkaitan dengan penumpukan protein tertentu di otak.

Dua di antaranya adalah beta-amiloid dan protein tau. Beta-amiloid dapat membentuk plaques di sekitar sel saraf, sedangkan protein tau dapat membentuk tangles atau serabut kusut di dalam sel saraf. Perubahan tersebut kemudian dapat mengganggu komunikasi antarsel saraf.

Seiring waktu, sel-sel saraf bisa mengalami kerusakan dan mati. Salah satu bagian otak yang terdampak sejak awal adalah hipokampus, bagian yang berperan penting dalam pembentukan dan penyimpanan ingatan.

Itulah sebabnya, masalah daya ingat sering menjadi salah satu tanda yang pertama kali terlihat. Alzheimer tidak hanya membuat seseorang lebih mudah lupa.

Ketika penyakit berkembang, seseorang bisa mengalami kesulitan berpikir, memecahkan masalah, berbahasa, mengambil keputusan, hingga melakukan aktivitas sehari-hari.

Gejalanya juga dapat semakin berat dari waktu ke waktu. Dampaknya bukan hanya dirasakan oleh orang yang mengalami Alzheimer, tetapi juga keluarga atau caregiver yang mendampinginya.

Saat ini Alzheimer belum dapat disembuhkan. Pengobatan dan terapi yang tersedia ditujukan untuk membantu mengendalikan gejala, memperlambat perkembangan penyakit pada kondisi tertentu, serta membantu mempertahankan kualitas hidup pasien.

Hari Alzheimer Sedunia pada 21 September pun bukan sekadar momentum untuk mengingat angka kasus. Peringatan ini menjadi pengingat bahwa Alzheimer dan demensia bisa membawa perubahan besar, bukan hanya bagi penderitanya, tetapi juga bagi keluarga yang mendampingi.

Dengan mengenali perbedaannya dan memahami tanda-tandanya, masyarakat diharapkan tidak lagi menganggap perubahan fungsi kognitif sebagai sesuatu yang otomatis terjadi karena usia.

(anm/fef)


[Gambas:Video CNN]

HALAMAN:
1 2