Sering memikirkan kemungkinan buruk yang belum terjadi atau berulang kali mengingat kejadian tidak menyenangkan mungkin terasa seperti kebiasaan biasa. Namun, pola berpikir negatif yang terus berulang ternyata berkaitan dengan perubahan pada fungsi otak.
Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Alzheimer's & Dementia menemukan hubungan antara repetitive negative thinking (RNT) atau pola berpikir negatif berulang dengan penurunan fungsi kognitif. Pola tersebut juga berkaitan dengan dua protein yang berhubungan dengan penyakit Alzheimer, yakni amyloid dan tau.
Amyloid dan tau merupakan protein yang dapat menjadi penanda perubahan biologis pada penyakit Alzheimer. Pada kondisi tersebut, protein amyloid dapat menumpuk dan membentuk plak, sementara tau dapat membentuk kekusutan di dalam sel saraf.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam penelitian tersebut, orang dengan tingkat RNT lebih tinggi mengalami penurunan kemampuan kognitif yang lebih cepat selama masa pengamatan. Mereka juga memiliki lebih banyak deposit amyloid dan tau di sejumlah bagian otak.
Lantas, apakah kebiasaan terus-menerus berpikir negatif dapat membuat kemampuan otak menurun?
Bukan sekadar berpikir negatif
Yang menjadi perhatian dalam penelitian bukanlah orang yang sesekali merasa pesimis, kesal, atau memikirkan sesuatu yang buruk. Peneliti menggunakan istilah repetitive negative thinking untuk menggambarkan pola pikiran negatif yang muncul berulang kali dan sulit dihentikan.
Dua bentuk RNT yang banyak dibahas adalah worry dan rumination. Worry merupakan kecenderungan terus-menerus mengkhawatirkan sesuatu yang belum terjadi. Sementara itu, rumination adalah kebiasaan berulang kali memikirkan kejadian negatif yang sudah terjadi.
Dengan kata lain, persoalannya bukan sekadar memiliki pikiran negatif. Pikiran tersebut terus berputar di kepala dan sulit dilepaskan.
Peneliti menemukan orang yang lebih sering terjebak dalam pola pikiran negatif berulang mengalami penurunan kemampuan berpikir dan mengingat yang lebih cepat. Perubahan tersebut terlihat selama masa pengamatan hingga 48 bulan atau sekitar empat tahun.
Artinya, penelitian tidak hanya melihat kondisi peserta dalam satu kali pemeriksaan. Peneliti juga mengikuti perubahan kemampuan kognitif mereka dari waktu ke waktu.
Temuan tersebut sejalan dengan penelitian lain. Studi yang dipublikasikan di BMC Psychiatry pada 2025 juga menemukan adanya hubungan antara tingkat RNT dan penurunan fungsi kognitif pada orang lanjut usia.
Meski demikian, temuan tersebut belum membuktikan bahwa RNT secara langsung menyebabkan penurunan kemampuan otak atau penyakit Alzheimer. Penelitian lebih banyak menunjukkan adanya hubungan antara pola berpikir negatif berulang, perubahan biologis tertentu, dan fungsi kognitif.
Jadi, apakah harus berhenti berpikir negatif?
Memiliki pikiran negatif sesekali bukan berarti otak sedang mengalami masalah. Rasa khawatir, kecewa, sedih, atau mengingat pengalaman buruk merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari.
Hal yang menjadi perhatian dalam penelitian adalah ketika pikiran negatif berubah menjadi pola yang berulang, menetap, dan sulit dikendalikan. Terus-menerus mengkhawatirkan masa depan atau mengulang kejadian buruk di masa lalu merupakan contoh pola yang termasuk dalam RNT.
Sejumlah penelitian menunjukkan pola tersebut berkaitan dengan fungsi kognitif serta perubahan biologis yang juga ditemukan dalam penelitian mengenai Alzheimer. Namun, hubungan tersebut tidak berarti setiap orang yang sering overthinking akan mengalami Alzheimer.
Dengan demikian, sesekali memiliki pikiran buruk merupakan hal yang berbeda dengan terus-menerus terjebak di dalamnya.
(anm/tis)
