Cara Penularan HIV yang Paling Umum, Lewat Seks hingga Jarum Suntik
HIV masih sering dikaitkan dengan berbagai anggapan yang keliru, terutama soal bagaimana virus ini menular.
Salah satu yang paling sering keliru adalah virus HIV bisa berpindah hanya karena seseorang bersentuhan atau berinteraksi dengan orang yang hidup dengan HIV.
Sebenarnya HIV menular lewat apa dan bagaimana virus tersebut bisa masuk ke tubuh?
Mengutip laman resmi Kementerian Kesehatan RI, HIV dapat menular melalui pertukaran cairan tubuh tertentu dari orang yang terinfeksi. Cairan tersebut antara lain darah, sperma, cairan vagina, dan ASI.
Penularan terjadi ketika cairan yang mengandung virus masuk ke tubuh orang lain melalui jalur yang memungkinkan virus menginfeksi sel.
Cairan tersebut perlu bersentuhan dengan selaput lendir, jaringan yang terluka, atau masuk langsung ke aliran darah. Selaput lendir ini terdapat, antara lain, di vagina, rektum, penis, dan mulut.
Jadi, keberadaan cairan tubuh saja tidak otomatis membuat seseorang tertular. Ada kondisi tertentu yang memungkinkan virus berpindah dan masuk ke tubuh.
1. Hubungan seksual
Hubungan seksual menjadi salah satu jalur utama penularan HIV. WHO menyebut HIV dapat menular melalui hubungan seksual vaginal atau anal tanpa perlindungan.
Dalam kasus yang sangat jarang, penularan juga dapat terjadi melalui seks oral.
Saat hubungan seksual, virus dapat masuk melalui jaringan yang melapisi vagina atau rektum, lubang pada ujung penis, maupun luka atau lecet pada area genital.
2. Berbagi jarum suntik
HIV juga dapat menular ketika seseorang menggunakan jarum, alat suntik, atau peralatan injeksi yang sebelumnya digunakan orang dengan HIV dan masih terkontaminasi darah.
Jalur ini memungkinkan darah yang mengandung virus masuk langsung ke aliran darah orang lain.
Bukan cuma jarum suntik, WHO juga menyebut alat bedah, benda tajam, atau peralatan yang digunakan untuk membuat luka pada kulit dapat menjadi jalur penularan jika terkontaminasi dan tidak disterilkan dengan benar.
3. Alat tato yang tidak steril
Tato juga dapat menjadi jalur penularan jika prosesnya menggunakan peralatan yang terkontaminasi darah dan tidak menerapkan prosedur kebersihan yang aman.
Kemenkes memasukkan penggunaan alat yang tidak steril dan terkontaminasi darah, termasuk alat tato, sebagai salah satu kemungkinan penularan HIV.
Mengutip CDC, prosedur tato, tindik, atau prosedur kosmetik yang tidak aman secara teori dapat menjadi jalur penularan jika melibatkan peralatan yang terkontaminasi darah. Karena itu, penggunaan peralatan baru atau yang sudah disterilkan menjadi hal penting.
4. Transfusi darah yang terkontaminasi
HIV dapat menular melalui transfusi darah yang mengandung virus. Namun kini risikonya jauh lebih rendah karena donor umumnya melalui proses skrining dan pemeriksaan untuk memastikan keamanannya.
5. Dari ibu ke bayi
Kemudian, HIV juga dapat berpindah dari ibu yang hidup dengan HIV kepada bayinya selama kehamilan, persalinan, maupun menyusui. Jalur ini dikenal sebagai penularan vertikal atau mother-to-child transmission.
Risiko penularannya tidak bersifat tetap karena dapat dipengaruhi kondisi ibu dan pengobatan yang dijalani.
Meski demikian, penularan HIV dari ibu ke anak bukan sesuatu yang tidak bisa dicegah. Deteksi dan pengobatan sejak dini berperan penting dalam menekan risikonya.
HIV tidak menular hanya karena bersentuhan
Salah satu kesalahpahaman yang masih sering muncul adalah anggapan bahwa HIV mudah berpindah melalui kontak sehari-hari. WHO menegaskan HIV tidak menular melalui berjabat tangan, berpelukan, berbagi makanan atau air, maupun kontak sehari-hari lainnya.
HIV juga tidak menular melalui air liur. Seseorang tidak dapat tertular HIV melalui ciuman biasa atau ludah.
Kasus penularan melalui ciuman sangat dalam pernah dilaporkan dalam kondisi yang sangat jarang, ketika kedua orang mengalami luka atau gusi berdarah dan terdapat kontak dengan darah.
Memahami cara HIV menular penting agar masyarakat bisa melakukan pencegahan dengan tepat sekaligus menghindari stigma terhadap orang yang hidup dengan HIV.
Virus ini memiliki jalur penularan yang spesifik, bukan sesuatu yang berpindah begitu saja melalui interaksi sosial sehari-hari.
(anm/fef)