Mencegah Anak Tumbuh Narsis, Ini 7 Hal yang Bisa Dilakukan Orang Tua

CNN Indonesia
Rabu, 30 Sep 2026 20:45 WIB
Cara mencegah anak jadi narsistik.
Ilustrasi. Ada beberapa cara mencegah anak jadi pribadi yang narsistik. (Istockphoto/ Fizkes)
Daftar Isi
Jakarta, CNN Indonesia --

Jangan sampai anak berubah menjadi pribadi yang narsis karena pola asuh yang salah. Cari tahu cara mencegah anak jadi narsistik selengkapnya di sini.

Setiap anak membutuhkan kasih sayang, perhatian, dan pujian dari orang tua. Namun, pola asuh yang terlalu memanjakan atau membuat anak merasa selalu lebih istimewa daripada orang lain dapat memengaruhi cara anak melihat dirinya dan orang di sekitarnya.

Karena itu, orang tua perlu menemukan keseimbangan antara memberikan cinta dan menetapkan batasan. Berikut beberapa cara yang dapat dilakukan untuk membantu mencegah berkembangnya perilaku narsistik pada anak.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

1. Jangan membuat anak merasa lebih istimewa dari orang lain

Mengutip Mother, salah satu cara mencegah anak jadi narsistik adalah dengan tidak menganggap si kecil sebagai anak yang spesial.

Menyayangi anak bukan berarti selalu memenuhi semua keinginannya atau menganggap dirinya lebih hebat daripada anak lain. Hindari kebiasaan memberikan perlakuan khusus secara berlebihan, selalu membenarkan perilakunya, atau membiarkan anak mendapatkan semua yang diinginkan.

Anak tetap perlu memahami bahwa dirinya berharga, tetapi bukan berarti lebih tinggi dari orang lain. Sikap ini membantu anak tumbuh dengan rasa percaya diri yang sehat.

2. Tetapkan aturan dan batasan yang sesuai usia

Anak perlu belajar bahwa ada aturan yang harus diikuti oleh semua orang. Misalnya, merapikan mainan setelah bermain, membantu pekerjaan sederhana di rumah, datang tepat waktu, dan memperlakukan orang lain dengan baik.

Batasan juga membantu anak belajar menghadapi rasa kecewa. Ketika keinginannya tidak selalu dituruti, anak dapat belajar mengendalikan emosi, berkompromi, dan memahami bahwa tidak semua hal bisa didapatkan sesuai keinginannya.

3. Berikan pujian secara wajar

Pujian memang penting, tetapi sebaiknya diberikan berdasarkan usaha atau pencapaian yang nyata. Daripada selalu mengatakan anak adalah yang paling hebat, orang tua dapat memuji kerja keras dan perkembangan yang ditunjukkannya.

Misalnya, katakan, 'Kamu sudah berusaha lebih keras dan hasil matematikamu meningkat'. Pujian seperti ini membantu anak memahami bahwa kemampuan berkembang melalui usaha, bukan karena dirinya harus selalu lebih unggul dari orang lain.

4. Ajarkan bahwa gagal adalah hal yang normal

Anak tidak harus selalu mendapatkan nilai sempurna atau menjadi yang terbaik. Kegagalan dapat menjadi kesempatan untuk belajar dan mencoba kembali.

Ketika anak mendapat hasil yang kurang baik, tetap tunjukkan kasih sayang. Bantu anak mengevaluasi apa yang bisa diperbaiki tanpa membuatnya merasa tidak berharga karena mengalami kegagalan.

5. Berikan kasih sayang tanpa syarat

Pastikan anak memahami bahwa ia dicintai bukan hanya ketika berprestasi atau berperilaku sesuai keinginan orang tua. Tunjukkan perhatian, dengarkan ceritanya, dan terima dirinya sebagai individu yang sedang belajar.

Kasih sayang yang konsisten dapat membantu anak memiliki rasa aman dan percaya diri tanpa harus terus-menerus mencari pengakuan dari orang lain.

6. Ajarkan empati dan menghargai orang lain

Anak perlu memahami bahwa perasaan orang lain juga penting. Ajak mereka memikirkan bagaimana perasaan teman ketika diejek, dikucilkan, atau tidak didengarkan.

Orang tua juga perlu menjadi contoh dengan berbicara sopan, menghargai orang lain, dan menyelesaikan konflik tanpa merendahkan.

7. Perhatikan pola asuh dan dinamika keluarga

Laman Parents juga menambahkan, orang tua dapat melihat kembali bagaimana anggota keluarga berkomunikasi dan memperlakukan satu sama lain. Hindari membandingkan anak secara berlebihan, memberikan label, atau menggunakan rasa malu sebagai cara mendisiplinkan.

Jika orang tua melihat perilaku anak yang terus-menerus mengganggu hubungan sosial atau sulit dikendalikan, berkonsultasi dengan psikolog dapat membantu memahami penyebab dan menentukan dukungan yang sesuai.

Pada akhirnya, mencegah perilaku narsistik bukan berarti membuat anak merasa rendah diri. Tujuannya adalah membantu anak memahami bahwa dirinya berharga, tetapi tetap setara dengan orang lain.

Dengan kasih sayang, batasan yang sehat, pujian yang wajar, dan contoh perilaku yang baik, anak dapat membangun rasa percaya diri sekaligus belajar menghargai orang di sekitarnya.

Demikian beberapa cara mencegah anak jadi narsistik yang dapat diketahui oleh orang tua. Semoga bermanfaat.

(sac/asr)