Beras hingga Ikan Bisa Mengandung Arsenik, Kapan Harus Khawatir?

CNN Indonesia
Kamis, 24 Sep 2026 17:00 WIB
Arsenik pada makanan.
Ilustrasi. Keberadaan arsenik tidak secara otomatis membuat makanan jadi beracun. (istockphoto/narong niamfoi)
Daftar Isi
Jakarta, CNN Indonesia --

Arsenik mungkin terdengar seperti sesuatu yang mengandung racun, apalagi jika ditemukan dalam makanan. Benarkah demikian?

Zat ini memang bisa berbahaya bagi tubuh, tetapi keberadaan arsenik dalam makanan tidak otomatis berarti makanan tersebut beracun atau bisa menyebabkan keracunan. Secara alami, arsenik memang terdapat di lingkungan dan dapat masuk ke dalam makanan melalui tanah maupun air.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Arsenik tidak cuma satu jenis

Mengutip laman Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), arsenik terbagi ke dalam berbagai bentuk, termasuk arsenik anorganik dan organik. Keduanya memiliki tingkat toksisitas yang berbeda.

Arsenik anorganik menjadi perhatian utama dalam keamanan pangan karena lebih bersifat toksik. Paparan dalam jangka panjang dapat meningkatkan risiko berbagai gangguan kesehatan, termasuk kanker.

Bentuk arsenik tersebut dapat ditemukan pada sejumlah pangan, salah satunya beras. Tanaman padi cenderung menyerap arsenik lebih banyak dibandingkan sejumlah tanaman serealia lain. Kondisi sawah yang tergenang juga membuat arsenik lebih mudah tersedia dan diserap oleh tanaman.

Sementara itu, arsenik organik banyak ditemukan secara alami pada ikan dan makanan laut. WHO menyebut, sebagian besar arsenik pada seafood berada dalam bentuk organik yang toksisitasnya lebih rendah dibandingkan arsenik anorganik.

Selain beras dan seafood, WHO mencatat arsenik juga dapat ditemukan pada kerang, daging, unggas, produk susu, dan serealia. Paparan arsenik juga dapat berasal dari air tanah yang terkontaminasi.

Ikan dan seafood sendiri memang dapat memiliki kadar arsenik yang cukup tinggi jika yang diukur adalah total arsenik. Akan tetapi, sebagian besar arsenik pada seafood berada dalam bentuk organik yang relatif lebih rendah toksisitasnya.

Kadar total arsenik pada ikan tidak bisa langsung disamakan dengan kadar arsenik anorganik pada beras atau makanan yang terpapar sumber kontaminasi.

Hal ini juga menjadi alasan mengapa penilaian keamanan pangan tidak cukup hanya dengan mengukur total arsenik. Perlu melihat spesiasi atau jenis arsenik, hingga bentuk kimia arsenik yang terdapat dalam makanan.

Berapa kadar arsenik yang masih dianggap normal?

Tidak ada satu angka yang berlaku untuk semua makanan. Batas maksimum ditetapkan berdasarkan jenis pangan karena setiap makanan memiliki karakteristik, kadar alami, dan pola konsumsi yang berbeda.

Salah satu contohnya adalah standar Codex Alimentarius, yaitu standar pangan internasional yang dikembangkan FAO dan WHO.

Untuk beras sosoh atau beras giling (polished rice), Codex menetapkan maximum level arsenik anorganik sebesar 0,20 mg/kg atau 200 mikrogram/kg. Jadi maksimalnya 0,2 miligram arsenik anorganik dalam setiap 1 kilogram beras.

Standar tersebut khusus untuk arsenik anorganik, bukan total seluruh bentuk arsenik. Sementara untuk beras pecah kulit (husked rice), batas maksimumnya adalah 0,35 mg/kg atau 350 mikrogram/kg. Codex juga memiliki pedoman untuk mencegah dan mengurangi kontaminasi arsenik pada beras.

Angka tersebut juga sebaiknya tidak dipahami sebagai 'kalau di bawah angka ini pasti aman untuk setiap orang' atau 'kalau sedikit di atas langsung keracunan'. Maximum level pangan merupakan bagian dari sistem pengendalian keamanan pangan dan penilaian risiko.

Terus, berapa banyak arsenik yang bisa menyebabkan keracunan?

Keracunan arsenik bisa terjadi akibat paparan akut dalam jumlah tinggi dalam waktu singkat. Paparan semacam ini dapat menimbulkan gangguan saluran cerna dan gejala berat lainnya.

Sementara untuk makanan, perhatian yang lebih besar adalah paparan arsenik anorganik dalam jumlah lebih kecil tetapi berlangsung dalam jangka panjang. WHO menyebut, paparan jangka panjang terhadap arsenik anorganik, terutama melalui air minum dan makanan, dapat menyebabkan keracunan kronis.

Dampaknya dapat mencakup lesi kulit dan kanker kulit, serta berkaitan dengan sejumlah masalah kesehatan lainnya.

Jadi, seseorang tidak bisa langsung dianggap mengalami keracunan hanya karena mengonsumsi satu makanan yang diketahui mengandung arsenik. Risikonya perlu dilihat dari dosis, bentuk arsenik, berat badan, lama paparan, frekuensi konsumsi, serta sumber paparan lain.

FDA (Food and Drug Adminstration) juga menekankan bahwa arsenik memang dapat ditemukan pada sejumlah makanan, sehingga pendekatan yang digunakan adalah mengurangi paparan, bukan menganggap semua makanan yang mengandung arsenik harus dihindari.

(anm/asr)