Marak Hotel di Bali Dijual via Daring, Gubernur Tepis Pariwisata Lesu

CNN Indonesia
Jumat, 25 Sep 2026 10:45 WIB
Marak Hotel di Bali Dijual via Daring, Gubernur Tepis Pariwisata Lesu
Ilustrasi pariwisata Bali. (iStockphoto/Tanarch)
Jakarta, CNN Indonesia --

Baru-baru ini di sejumlah platform properti daring marak ditemukan hotel dan vila di Bali sedang ditawarkan untuk dijual. Ratusan properti yang ditawarkan untuk dijual itu tersebar di berbagai wilayah, mulai dari Badung, Tabanan, Gianyar hingga Karangasem.

Harga yang ditawarkan kepada konsumen untuk membeli hotel dan vila di Bali itu pun beragam, namun ada yang mencapai puluhan miliar rupiah. Beragam tipe akomodasi yang ditawarkan, mulai dari hotel hingga vila dengan kelas dan harga yang berbeda-beda.

Menanggapi fenomena ini, Gubernur Bali Wayan Koster mendelegasikan Dinas Pariwisata (Dispar) Bali untuk berkoordinasi dengan Dinas Pariwisata Badung serta Dinas Perizinan guna memverifikasi isu sejumlah hotel mulai dijual.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Saya lagi menugaskan Kadis Pariwisata Bali untuk koordinasi sama Dinas Pariwisata Badung dan juga Dinas Perizinan untuk mendata mengenai informasi terkait sejumlah hotel yang dijual," kata Koster di Denpasar, seperti dilansir Antara, Senin (21/9).

Pemprov Bali juga menenankan bahwa sektor pariwisata di Pulau Dewata sekarang masih dalam keadaan normal, stabil, serta bertumbuh secara positif tanpa ada penurunan yang signifikan.

Menurut data statistik harian, angka kunjungan wisatawan mancanegara ke Bali tercatat stabil mencapai 20.000 hingga 24.000 orang per hari, di sisi lain kedatangan wisatawan nusantara berkisar antara 12.000 sampai 14.000 orang setiap hari.

Gubernur Koster menyebut bahwa dengan angka kunjungan yang konsisten itu, dinamika pariwisata daerah dinilai tidak menghadapi kendala berarti apalagi menyebabkan hotel dijual.

Soal marak hotel yang dijual di Bali, Koster menilai langkah penjualan atau penutupan itu murni terkait dinamika internal bisnis perusahaan, bukan karena lesunya industri pariwisata Bali.

Dia menjelaskan, tak jarang entitas bisnis memiliki jaringan usaha lintas daerah di luar Bali yang mengalami tekanan finansial berat, sehingga keuntungan dari operasional di Bali tersedot demi menutupi kerugian di cabang properti lain.

"Pariwisata naik kok, ini pasti kaitannya dengan bisnis mereka, sebelum-sebelumnya ada kejadian bisnisnya tidak hanya di Bali, di Balinya bagus tapi di luar Balinya dia berat, akhirnya keuntungan di sini tersedot ke sana, tidak tahan, tutup yang di sini, dijual," beber dia.

Pemprov Bali turut membantah anggapan fenomena marak hotel di Pulau Dewata dijual karena masalah kelebihan kamar akibat pembangunan hotel yang terlalu masif.

Koster berpendapat, tingkat keterisian kamar secara keseluruhan masih terpantau baik selama manajemen bisnis dijalankan dengan benar dan profesional. Dia menjabarkan bahwa di hotel-hotel berbintang di Bali, tingkat keterisian sekarang menyentuh 80-90 persen.

(wiw)
placeholder