Kemenkes Ungkap Influenza Naik, Ini Cara Cegah pada Anak
Kasus influenza di Indonesia mulai mengalami peningkatan pada September 2026. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyebut kenaikan tersebut mengikuti pola musiman influenza yang biasanya terjadi mulai September hingga akhir tahun.
Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kemenkes, dr. Andi Saguni, mengatakan influenza merupakan penyakit musiman sehingga peningkatan kasus pada periode tersebut bukan hal baru.
"Jadi ini kalau kita lihat, 2024, 2025, 2026, tipenya sebenarnya influenza itu adalah seasonal atau musiman, dan biasanya akan meningkat kalau kita sekitar bulan September sampai dengan akhir tahun," kata Saguni dalam konferensi pers Kemenkes, Senin (28/9).
Lihat Juga : |
Menurut dia, pola serupa juga terlihat secara global. Pada 2026, subtipe virus influenza yang paling banyak bersirkulasi secara global adalah influenza A subtipe H1N1 PDM09.
"Dan untuk secara global, subtipe virus influenza yang bersirkulasi di tahun 2026 ini, yang terbanyak itu adalah influenza A untuk subtipe H1N1 PDM09," ujarnya.
Pola musiman tersebut juga terlihat di sejumlah negara ASEAN, seperti Singapura, Malaysia, Filipina, dan Thailand. Peningkatan kasus umumnya terjadi mulai September hingga akhir tahun.
Kasus influenza Indonesia naik
Saguni mengatakan peningkatan kasus influenza juga terlihat dari hasil pemantauan surveilans sentinel Severe Acute Respiratory Infection (SARI) di Indonesia.
"Dan kita bisa melihat dan mendapatkan hasil ini dari surveillance sentinel, di minggu ke-38 pada bulan September ini ada peningkatan, positivity rate menjadi 56 persen," kata Saguni.
Menurut dia, pola serupa juga pernah terlihat pada tahun-tahun sebelumnya. Pada 2023, misalnya, positivity rate influenza sempat mencapai 68 persen.
"Kita bisa lihat pada bagian kuning itu adalah seasonal-nya September sampai akhir tahun, 2023, 2024, 2025. Dan kita bisa lihat di tahun 2023 sempat mencapai angka 68 persen," ujarnya.
Saguni berharap peningkatan kasus tersebut mulai kembali menurun setelah melewati periode puncak. Berdasarkan pola pada tahun-tahun sebelumnya, perubahan tren biasanya mulai terlihat setelah sekitar minggu ke-39 hingga ke-40.
"Kalau kita lihat tren-tren sebelumnya, itu bahwa ketika sudah melangkaui sekitar minggu 39-40 itu trennya akan turun," katanya.
Ia menambahkan, subtipe influenza yang paling banyak ditemukan di Indonesia saat ini adalah influenza A H1N1 PDM09.
"Dan untuk kasus di Indonesia yang predominan adalah influenza A, H1N1, PDM09," ujar Saguni.
Selain memantau perkembangan kasus, Kemenkes juga memantau kondisi rumah sakit untuk memastikan peningkatan influenza tidak berdampak pada keterisian tempat tidur.
"Kemudian yang kedua adalah bagaimana keadaan situasi rumah sakit, apakah benar okupansi kamar menipis. Jadi kami sudah menurunkan tim secara langsung untuk memantau kondisi di rumah sakit dan terus kita tingkatkan pemantauannya," ujar Saguni.
Influenza dapat menyerang siapa saja. Namun, risiko mengalami sakit yang lebih berat perlu menjadi perhatian pada kelompok tertentu, termasuk anak berusia di bawah lima tahun, orang dengan penyakit penyerta atau komorbid, serta lansia.
Karena itu, langkah pencegahan penting dilakukan, terutama ketika kasus influenza mulai meningkat.
Cara mencegah influenza pada anak
Dokter spesialis anak konsultan infeksi penyakit tropik anak dan ahli epidemiologi klinis, Mulya Rahma Karyanti, mengatakan pencegahan influenza pada anak perlu dilakukan, terutama ketika ada anggota keluarga yang sedang sakit. Berikut sejumlah cara yang dapat dilakukan untuk mengurangi risiko penularan influenza pada anak.
1. Gunakan masker saat sakit
Anggota keluarga yang sedang batuk atau pilek, terutama orang dewasa, sebaiknya menggunakan masker ketika berada di dekat anak.
"Jadi karena influenza penularan yang ada lewat droplet, maka untuk memutuskan transmisi penularan untuk anak, tentunya yang sakit, batuk pilek, terutama dewasa, orang tua atau kakek yang di rumah harus menggunakan masker," kata Mulya.
Lihat Juga : |
2. Pisahkan peralatan makan
Gunakan gelas, sendok, dan piring yang berbeda dari anggota keluarga yang sedang sakit.
"Kedua, setiap kali memberikan peralatan makan dan minum, gunakan peralatan makan yang terpisah. Jadi jangan bekas yang sakit kemudian itu diberikan ke anak-anak," ujarnya.
3. Pastikan nutrisi anak tercukupi
Berikan makanan bergizi seimbang yang mengandung karbohidrat, protein, vitamin, dan mineral untuk membantu memenuhi kebutuhan nutrisi anak.
4. Istirahat di rumah saat sakit
Anak yang sedang batuk dan pilek sebaiknya beristirahat di rumah dan tidak masuk sekolah untuk mengurangi risiko menularkan influenza kepada anak lain.
"Sebaiknya dia istirahat. Karena kalau dia ke sekolah, dia akan menularkan ke anak-anak sehat sekitarnya. Jadi untuk memutuskan penularan infeksi influenza ini, sebaiknya anak istirahat agar sembuh," tutur Mulya.
5. Ajarkan etika batuk
Anak perlu diajarkan menutup mulut dan hidung menggunakan siku bagian dalam saat batuk atau bersin. Kebiasaan ini dapat membantu mengurangi risiko penyebaran virus melalui tangan.
"Nah, pencegahan yang bisa dilakukan adalah dengan etika batuk tadi, dengan mulut dan siku. Anak-anak terutama diajarkan untuk mulut dan siku," ujarnya.
6. Pertimbangkan vaksinasi influenza
Vaksin influenza dapat diberikan mulai usia 6 bulan dan perlu diberikan secara berkala sesuai rekomendasi vaksinasi.
"Nah, pencegahan satu lagi, namun ini masih memang dalam sektor swasta, vaksin influenza sudah mulai bisa diberikan di umur lebih dari 6 bulan," kata Mulya.
7. Oseltamivir untuk anak berisiko tinggi
Terapi oseltamivir pada anak yang terkonfirmasi influenza terutama ditujukan bagi mereka yang memiliki risiko tinggi mengalami komplikasi, seperti anak dengan penyakit jantung, penyakit paru, asma berat, atau kondisi imunokompromais.
"Kemudian, indikasi pemberian terapi oseltamivir pada anak yang terkonfirmasi influenza adalah yang berisiko tinggi," pungkasnya.
(anm/tis)