Jakarta, CNN Indonesia -- Perbedaan gaya komunikasi antara Generasi Z dan Milenial kerap terlihat jelas, terutama di ruang digital dan dunia kerja. Gen Z dikenal lebih spontan, ringkas, dan akrab dengan bahasa informal yang dibentuk media sosial.
Di sisi lain, gaya komunikasi Milenial sering dianggap terlalu formal dan kaku bagi generasi di bawahnya. Namun benarkah demikian?
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tumbuh di masa peralihan dari teknologi analog ke digital, sejumlah penelitian menilai Milenial lebih fleksibel dalam menyesuaikan bahasa, tetapi tetap bisa menyesuaikan diri dengan konteks situasi.
Adapun perbedaan gaya komunikasi ini tak sekadar soal pilihan kata, tetapi juga dipengaruhi pengalaman generasi masing-masing dalam beradaptasi dengan teknologi.
Meski begitu, dinamika semacam ini sebenarnya bukan hal baru, karena gaya komunikasi milenial pun pernah bikin generasi di atasnya 'sakit kepala.'
Beda gaya komunikasi Gen Z dan Milenial
Perbedaan gaya komunikasi antara Gen Z dan Milenial tidak muncul begitu saja, melainkan dibentuk oleh pengalaman mereka tumbuh bersama teknologi yang berbeda. Temuan ini tampak dalam penelitian Fatima Jihan yang dipublikasikan di jurnal Language Horizon (2024).
Menurut studi tersebut, gaya komunikasi Gen Z sangat dipengaruhi budaya global dan perangkat komunikasi digital. Karena sudah terpapar teknologi komunikasi sejak dini, praktik linguistik generasi ini banyak dibentuk oleh media sosial dan komunitas online.
Berbagai platform tersebut mendorong penggunanya untuk mempraktikkan gaya komunikasi lebih santai dan langsung. Alhasil, bahasa gaul dan informal jadi banyak digunakan.
Generasi Milenial juga sebenarnya dipengaruhi oleh komunikasi digital, tetapi mereka mengalaminya secara bertahap. Sebagai generasi yang hidup di masa peralihan, Milenial tidak sejak awal tumbuh di tengah ekosistem digital seperti Gen Z.
Hal ini membuat pendekatan Milenial terhadap bahasa tetap lebih konservatif, terutama dalam konteks profesional.
Milenial umumnya tetap mematuhi norma dan praktik komunikasi yang sudah mapan. Mereka menyeimbangkan pengaruh komunikasi digital dengan ekspektasi generasi di atasnya tentang formalitas dan rasa hormat.
Perbedaan ini terlihat jelas di tempat kerja. Gen Z cenderung lebih sering menyingkat pesan dan menggunakan gaya bahasa santai. Adapun Milenial lebih memilih bentuk yang sedikit lebih formal.
Contohnya dalam konteks profesional, Milenial lebih nyaman menggunakan "terima kasih" ketimbang menyingkatnya jadi "thx" yang dilakukan Gen Z.
Jika penelitian Jihan menyoroti perbedaan gaya komunikasi secara umum, penelitian lain memperlihatkan dampaknya dalam interaksi antargenerasi.
Proyek penelitian Aileen Dieu dkk. di UCLA pada 2024 tersebut menemukan adanya hambatan komunikasi semantik antara Milenial dan Gen Z.
Kedua generasi memang sama-sama menggunakan ciri bahasa gaul seperti akronim dan eufemisme. Namun, kesamaan itu mulai memudar ketika masuk ke kata atau frasa slang tertentu.
Bahasa gaul Gen Z sering kali lebih spesifik dan terkait erat dengan konteks budaya internet yang melahirkannya. Untuk memahaminya, generasi lain perlu mengetahui asal-usul dan konteks penggunaannya.
Di titik inilah Milenial kerap tertinggal. Mereka cenderung memakai slang yang sudah usang, keliru menggunakan istilah, atau sama sekali tidak memahami istilah baru yang sedang populer.
Di platform yang didominasi Gen Z, kebingungan itu biasanya terlihat dalam bentuk pertanyaan dari pengguna Milenial yang berusaha mencari makna dan konteks suatu unggahan, komentar, atau lelucon yang sedang ramai dibicarakan.
Baca halaman selanjutnya...
Milenial juga sempat bikin 'sakit kepala' generasi di atasnya
Ilustrasi generasi milenial. (Istockphoto/skynesher)
Milenial juga sempat bikin 'sakit kepala' generasi di atasnya
Dari dua penelitian tersebut, terlihat Milenial sebenarnya merupakan generasi yang relatif mampu menempatkan diri sesuai konteks. Dalam situasi profesional, mereka cenderung menggunakan bahasa yang lebih formal.
Meski di saat yang sama, Milenial sering kesulitan mengikuti perkembangan bahasa gaul terbaru di media sosial. Akibatnya, gaya komunikasi Milenial terkesan formal dan 'kaku' bagi Gen Z, meski bagi Milenial sendiri cara mereka tergolong sopan.
Namun perbedaan dan kesalahpahaman yang terjadi antargenerasi ini tergolong lumrah terjadi. Milenial juga bukan generasi terbaik di mata generasi di atasnya, alias bikin 'sakit kepala' juga.
Mengutip studi Karen K. Myers dan Kamyab Sadaghiani yang dipublikasi di Journal of Business and Psychology (2010), Milenial mendapat stereotipe sebagai generasi yang egois, tak termotivasi, tidak hormat, hingga tak loyal.
Stereotipe tersebut menyumbang kekhawatiran generasi ini akan memberi dampak buruk pada gaya komunikasi di dalam lingkup kantor.
Namun hasil penelitian menunjukkan, Milenial memiliki kualitas positif dalam gaya berkomunikasinya, seperti mengharapkan komunikasi terbuka dari atasan, mendapat banyak umpan balik, hingga lebih senang bekerja dalam tim.
Dengan kata lain, apa yang dulunya dianggap merepotkan oleh generasi senior ternyata juga bisa dibaca sebagai kebutuhan akan komunikasi yang lebih kolaboratif dan suportif.
Jadi, ketimbang melihat perbedaan gaya komunikasi sebagai masalah, temuan-temuan ini justru mengingatkan kesenjangan antargenerasi merupakan hal yang wajar. Barrier komunikasi bisa dijembatani lewat pemahaman terhadap konteks masing-masing.