Gaya Komunikasi Generasi Milenial Terlalu Kaku dan Formal, Benarkah?

CNN Indonesia
Rabu, 30 Sep 2026 09:00 WIB
Gaya komunikasi generasi Milenial sering dianggap terlalu formal dan kaku bagi generasi di bawahnya. Benarkah demikian atau hanya beda gaya antargenerasi saja?
Ilustrasi. Gaya komunikasi generasi Milenial sering dianggap terlalu formal dan kaku bagi generasi di bawahnya. Benarkah demikian atau hanya beda gaya antargenerasi saja? (istockphoto/NickyLloyd)

Milenial juga sempat bikin 'sakit kepala' generasi di atasnya

Dari dua penelitian tersebut, terlihat Milenial sebenarnya merupakan generasi yang relatif mampu menempatkan diri sesuai konteks. Dalam situasi profesional, mereka cenderung menggunakan bahasa yang lebih formal.

Meski di saat yang sama, Milenial sering kesulitan mengikuti perkembangan bahasa gaul terbaru di media sosial. Akibatnya, gaya komunikasi Milenial terkesan formal dan 'kaku' bagi Gen Z, meski bagi Milenial sendiri cara mereka tergolong sopan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Namun perbedaan dan kesalahpahaman yang terjadi antargenerasi ini tergolong lumrah terjadi. Milenial juga bukan generasi terbaik di mata generasi di atasnya, alias bikin 'sakit kepala' juga.

Mengutip studi Karen K. Myers dan Kamyab Sadaghiani yang dipublikasi di Journal of Business and Psychology (2010), Milenial mendapat stereotipe sebagai generasi yang egois, tak termotivasi, tidak hormat, hingga tak loyal.

Stereotipe tersebut menyumbang kekhawatiran generasi ini akan memberi dampak buruk pada gaya komunikasi di dalam lingkup kantor.

Namun hasil penelitian menunjukkan, Milenial memiliki kualitas positif dalam gaya berkomunikasinya, seperti mengharapkan komunikasi terbuka dari atasan, mendapat banyak umpan balik, hingga lebih senang bekerja dalam tim.

Dengan kata lain, apa yang dulunya dianggap merepotkan oleh generasi senior ternyata juga bisa dibaca sebagai kebutuhan akan komunikasi yang lebih kolaboratif dan suportif.

Jadi, ketimbang melihat perbedaan gaya komunikasi sebagai masalah, temuan-temuan ini justru mengingatkan kesenjangan antargenerasi merupakan hal yang wajar. Barrier komunikasi bisa dijembatani lewat pemahaman terhadap konteks masing-masing.

(rti)

HALAMAN:
1 2