Cara Baru Berhemat ala Korsel, Pesan Makanan yang Tak Sampai
Menghadapi harga yang melambung tinggi, tetapi pendapatan tak kunjung naik, konsumen usia 20-an hingga 30-an di Korea Selatan punya solusi baru.
Mereka tetap bisa memesan makanan, minum minuman beralkohol, hingga merokok tanpa perlu keluar uang sepeser pun.
Bagaimana caranya? Semua dilakukan secara digital melalui aplikasi yang disebut digital placebo.
Digital placebo untuk redam keinginan belanja
Ada aplikasi tertentu di Korsel yang menawarkan fungsi sebagai digital placebo. Lee Joo-hyun (25 tahun) merupakan salah satu penggunanya.
Pekerja kantoran yang mengaku sedang diet ini, selalu membuka sebuah aplikasi ketika rasa lapar melanda. Ia menelusuri menu, memilih makanan, lalu menekan tombol pesan.
Notifikasi langsung muncul, memberitahunya makanan sedang disiapkan dan bisa melacak pengantaran, seperti aplikasi delivery pada umumnya. Bedanya, makanan yang dipesan tak pernah sampai.
Lee pun tak perlu keluar uang, karena ia memesan di platform "FoodNeverArrives" (dalam bahasa Korea 음식만안와요 atau eum-sik-man-an-wa-yo), aplikasi yang dirancang untuk menyimulasikan proses pemesanan makanan. Ia pun hanya menerima tanda terima virtual dan estimasi uang serta kalori yang dihemat.
"Melihat angka-angka yang tertulis di tanda terima membuat saya bangga. Saya senang bahkan tanpa memakan makanan itu," kata Lee, seperti dilansir The Korean Times.
Aplikasi FoodNeverArrives ini sendiri sudah diunduh lebih dari 10.000 kali sejak diluncurkan di Google Play Store pada Juli lalu.
"Setelah makan makanan pesan antar, saya sering menyesal telah menghabiskan uang untuk makanan dan biaya pengiriman," kata Park Hyun-ji (24), pengguna lainnya.
Ia mengakui FoodNeverArrives membantunya mengendalikan keinginan untuk memesan makanan tanpa perlu mengeluarkan uang.
Sang pengembang aplikasi, Park Seo-hyun, mengaku mendapatkan ide membuat aplikasi dari kebiasaannya sendiri yang sering menjelajahi aplikasi food delivery, tetapi kehilangan nafsu makan ketika makanan benar-benar tiba.
"Saya membuat aplikasi ini karena saya berpikir bahwa hanya dengan mengalami proses pemesanan saja mungkin dapat meredakan keinginan tersebut," kata Park.
Tak cuma aplikasi food delivery, tren ini juga meluas ke penurunan berat badan. Ada aplikasi lain bernama "Maeumjaro" (마음자로) yang menyimulasikan suntikan penurun berat badan.
Aplikasi tersebut memungkinkan pengguna memilih dosis lalu menempelkan ponsel ke perut seperti jarum suntik. Cairan di layar perlahan berkurang untuk meniru suntikan. Biayanya, tentu gratis.
Bagi yang belum tahu, Mounjaro dan Wegovy merupakan obat penurun berat badan yang diresepkan oleh dokter. Satu kali injeksi bisa menghabiskan hingga jutaan rupiah.
Lalu bagaimana jika ingin merokok tapi tak bisa? Ada pula aplikasi "Online Damta" yang menyimulasikan kegiatan merokok.
Seorang pekerja kantoran berusia 25 tahun, Park Ji-hyun, menggunakan aplikasi tersebut ketika sedang stres.
"Saya sama sekali tidak berniat merokok, tetapi melihat bara rokok yang terbakar di layar membuat saya merasa seolah-olah telah menemukan pelarian dari kehidupan sehari-hari," ujarnya.
Efektifkah digital placebo ini?
Para ahli ternyata memandang positif pengalaman simulasi ini. Digital placebo bisa jadi alat yang bisa mendukung pengendalian diri dan membantu penggunanya mencapai tujuan pribadi.
Profesor Sosiologi dari Universitas Sungkyunkwan, Koo Jeong-woo, mencatat ada perbedaan jelas dari plasebo tradisional.
"Tidak seperti plasebo konvensional, yang mana orang percaya bahwa pengobatan palsu itu nyata. Ciri khasnya adalah pengguna menggunakan aplikasi dan situs web sebagai alat manajemen diri meskipun mereka tahu itu palsu," tutur Koo.
Menurutnya, tren ini merupakan fenomena budaya baru yang menggabungkan keinginan seseorang untuk mendapatkan kembali kendali atas hidupnya dengan tekanan sosial.
Bagi anak-anak muda yang mengalami keterbatasan finansial, pengalaman virtual semacam ini bisa berfungsi sebagai bentuk penghematan biaya secara ekstrem.
Meski bisa mendorong orang untuk bisa menabung, profesor kedokteran keluarga Kang Jae-heon mengingatkan pengguna agar tak terlalu bergantung pada pengalaman simulasi atau melebih-lebihkan efektivitasnya.
"Karena memberikan kepuasan fisik dan psikologis yang lebih sedikit daripada benar-benar melakukan perilaku tersebut, kemungkinan besar alat-alat ini tidak akan memiliki efek jangka panjang yang signifikan," ucap Kang.
(rti)