Mengenal Penyakit Pes yang Kini Jadi Sorotan, Seberapa Berbahaya?

CNN Indonesia
Selasa, 06 Okt 2026 13:00 WIB
Ilustrasi. Kasus kematian pekerja laboratorium di Rusia mendapat sorotan global, memicu kekhawatiran terkait dugaan wabah penyakit pes. (iStock/appledesign)
Jakarta, CNN Indonesia --

Kasus kematian pekerja laboratorium di Irkutsk, Rusia mendapat sorotan global. Kasus tersebut memicu kekhawatiran terkait dugaan wabah pes atau yang dikenal juga sebagai 'black death'.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) kini telah menelusuri kasus kematian misterius tersebut. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI juga telah ikut memantau kasus tersebut.

Apa itu penyakit pes?

Penyakit pes adalah infeksi baru-paru langka dan mematikan yang disebabkan oleh bakteri Yersinia pestis. Melansir CNN, para ilmuwan menganggap penyakit pes atau plague disease sebagai bentuk infeksi yang paling berbahaya.

Ada beberapa jenis penyakit yang disebabkan oleh bakteri Y. pestis. Yang paling umum adalah wabah pes bubonik, yang berkembang dari gigitan kutu atau saat bakteri masuk melalui luka terbuka pada kulit. Infeksi ini memicu pembengkakan dan nyeri pada kelenjar getah bening.

Selanjutnya ada septikemia yang menginfeksi aliran darah. Kondisi pes satu ini berpotensi memicu gagal organ. Sementara penyakit pes faring menyerang tenggorokan usai seseorang mengonsumsi daging yang terkonsumsi.

Penyakit ini bisa menular antar-manusia melalui partikel pernapasan seperti droplet saat batuk atau bersin. Tetesan dari hewan yang terinfeksi juga bisa menularkan penyakit.

Dalam sejarahnya, dunia pernah mengalami wabah pes atau yang dikenal sebagai 'Black Death' pada abad ke-14. Infeksi menewaskan lebih dari 50 juta orang di Eropa.

Kendati begitu, bukan berarti penyakit tersebut hilang. Kini, antibiotik membuat penyakit pes lebih mudah dikelola. Namun, keberadaannya masih tetap ditemukan di setiap benua, kecuali Oseania.

Berdasarkan catatan WHO, sejak tahun 1990-an, sebagian besar kasus pada manusia terjadi di Afrika.

Apa saja gejala penyakit pes?

[Gambas:Video CNN]

Pada kasus pes, partikel bakteri bersarang di paru-paru dan bisa memicu pneumonia berat. Gejala umumnya dapat muncul dalam waktu 24 jam setelah terinfeksi.

Berikut beberapa gejala yang bisa muncul:

- demam,
- sakit kepala,
- nyeri badan,
- pusing,
- tubuh lemas,
- mual-muntah,
- diare,
- sesak napas.

Tanpa pengobatan, penyakit ini hampir selalu berakibat fatal.

Dokter umumnya mengobati pes dengan antibiotik setidaknya selama 10-14 hari. Pasien yang mendapatkan antibiotik dalam 24 jam pertama setelah terinfeksi memiliki peluang sembuh yang lebih baik.

Apakah kita perlu khawatir?

Sebagaimana telah dijelaskan di atas, WHO menegaskan bahwa risiko pes bagi masyarakat umum terbilang rendah.

Dokter ahli penyakit menular di Penn State Health St Joseph Medical Center, AS, Rutul Dalal mengatakan, gejala umumnya muncul dengan cepat. Jika disadari dengan tepat, hal ini dapat memperlambat potensi penyebaran.

"[Pes membuat seseorang] sangat sulit untuk berjalan, melakukan aktivitas sehari-hari, apalagi bepergian," ujar Dalal.

(asr)
KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK