Enggak Usah FOMO, Ini Bahaya Tren Makan Mentega Langsung

CNN Indonesia
Jumat, 09 Okt 2026 07:30 WIB
Ada bahayanya mengikuti tren makan mentega langsung bagi kesehatan. Mulai dari gangguan pencernaan hingga penyakit kardiovaskular.
Ilustrasi. Ada bahayanya mengikuti tren makan mentega langsung bagi kesehatan. Mulai dari gangguan pencernaan hingga penyakit kardiovaskular. (iStockphoto)
Daftar Isi
Jakarta, CNN Indonesia --

Mentega biasanya digunakan sebagai olesan roti atau bahan masakan karena rasanya gurih dan teksturnya lembut. Namun, belakangan muncul tren di media sosial yang memperlihatkan orang makan mentega langsung atau dioleskan sangat tebal pada makanan.

Ada pula yang menambahkan blok mentega utuh dengan topping seperti mousse cokelat dan saus pasta. Tren ini tampak menggiurkan, tetapi memangnya sehat?

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Bahaya tren makan mentega langsung

Mentega dan margarin dapat menjadi bagian dari pola makan, tetapi keduanya bukan makanan yang sebaiknya dikonsumsi langsung dalam jumlah besar. Berikut beberapa hal yang perlu diperhatikan:

1. Asupan lemak dan energi meningkat

Guru Besar Fakultas Kedokteran dan Gizi IPB University, Sri Anna Marliyati, mengingatkan masyarakat agar memahami kandungan dan risiko makanan sebelum mengikuti tren.

"Margarin merupakan sumber lemak yang sangat padat energi. Satu gram lemak menghasilkan sekitar 9 Kkal, sehingga konsumsi langsung dalam jumlah banyak dapat dengan cepat meningkatkan asupan energi," ujar Sri, seperti dikutip dari laman IPB University.

Jenis lemak dalam margarin dan mentega juga berbeda. Margarin lunak berbahan minyak nabati umumnya memiliki lebih banyak lemak tak jenuh, sedangkan mentega cenderung mengandung lebih banyak lemak jenuh.

2. Perut bisa terasa tidak nyaman

Makanan tinggi lemak dapat memperlambat pengosongan lambung. Setelah menyantap mentega dalam jumlah banyak, sebagian orang mungkin merasa terlalu kenyang, begah, mual, atau mengalami gangguan pencernaan.

"Makanan yang sangat berlemak juga merangsang kontraksi kandung empedu. Pada orang yang memiliki batu empedu atau gangguan kandung empedu, konsumsi makanan berlemak dapat memicu nyeri atau ketidaknyamanan pada perut," tutur Sri.

3. Bisa berdampak pada kesehatan jantung

Setelah makan mentega, kadar lemak dalam darah, termasuk trigliserida, dapat meningkat sementara.

"Jika pola konsumsi tersebut berlangsung berulang, kondisi ini dapat berkontribusi terhadap gangguan profil lemak darah dan meningkatkan risiko gangguan jantung serta metabolik," kata Sri.

Orang dengan dislipidemia, penyakit jantung koroner, obesitas, diabetes yang disertai gangguan lemak darah, perlemakan hati, atau riwayat batu empedu, perlu lebih cermat mengatur asupan.

Pastikan gizi tetap seimbang

Sri menyarankan agar kita kembali pada prinsip gizi seimbang, yakni penuhi kebutuhan energi dan protein, perbanyak sayur serta buah, dan batasi gula, garam, serta lemak.

"Mentega dan margarin bukan makanan yang perlu ditakuti, tetapi juga bukan makanan yang dibolehkan dimakan langsung dalam jumlah besar," ucap Sri.

Mengutip laman Chosun, mentega memang mengandung vitamin A dan B12 serta sejumlah kecil vitamin D dan E. Namun, bukan berarti kita perlu mengonsumsinya berlebihan demi mendapatkan vitamin.

Soalnya nutrisi tersebut juga bisa diperoleh dari beragam makanan, seperti susu, telur, ikan, dan sayuran.

Adapun, secara umum asupan lemak dianjurkan sekitar 20-30 persen dari total energi harian. Yang penting, utamakan sumber lemak tidak jenuh.

Tak perlu mengonsumsi mentega atau margarin secara langsung dalam jumlah besar seperti tren yang beredar di media sosial. Jadi, kamu tak perlu FOMO, ya!

(rti)